Pria Temukan Batu Berharap Emas, Ternyata Meteorit Langka

Pria Temukan Batu Berharap Emas, Ternyata Meteorit Langka

ADVERTISEMENT

Pria Temukan Batu Berharap Emas, Ternyata Meteorit Langka

Rachmatunnisa - detikInet
Jumat, 25 Nov 2022 18:51 WIB
Meteorit
Dua dari beberapa bongkah batu yang dilaporkan David Hole ke pihak Museum. Foto: Museum Melbourne
Jakarta -

Pada 2015, David Hole melakukan prospeksi mineral berharga di Maryborough Regional Park dekat Melbourne, Australia. Berbekal detektor logam, dia menemukan sesuatu yang tidak biasa, batu kemerahan yang sangat berat yang terletak di tanah liat kuning.

Dia membawa beberapa bongkah batu tersebut pulang dan mencoba berbagai cara untuk membukanya. Hole yakin ada kandungan emas di dalam batu itu. Keyakinan ini bukan tanpa alasan. Maryborough berada di wilayah Goldfields, tempat populer penghasil emas Australia yang memuncak pada abad ke-19.

Untuk membuka temuannya, Hole mencoba gergaji batu, penggiling sudut, bor, bahkan menyiramnya dengan asam. Namun, palu godam pun tidak bisa membuat celah. Ia menyimpannya bertahun-tahun, hingga pada akhirnya dia tahu batu itu tidak mengandung emas.

Kecewa? Justru sebaliknya, dia lebih gembira. Dikutip dari Science Alert, Jumat (25/11/2022) ternyata batu yang ia simpan tersebut adalah meteorit langka yang jauh lebih berharga dari emas.

"Batu itu memiliki tampilan yang terpahat dan seperti berlesung pipi," kata ahli geologi Melbourne Museum Dermot Henry kepada The Sydney Morning Herald pada 2019.

"Batuan terbentuk saat mereka melewati atmosfer. Mereka meleleh di luar, dan atmosfer memahatnya," jelasnya.

Tidak dapat membelah batu tersebut dan diliputi penasaran, Hole membawa bongkahan batu ke Museum Melbourne untuk diidentifikasi.

"Saya telah melihat banyak batu yang dianggap orang sebagai meteorit," kata Henry. Ia mengatakan, hanya dua dari beberapa bongkah batu yang diantarkan Hole yang ternyata adalah meteorit asli.

"Jika Anda melihat batu di Bumi seperti ini, dan Anda memungutnya, seharusnya tidak seberat itu," kata ahli geologi Melbourne Museum, Bill Birch.

Para peneliti kemudian menerbitkan sebuah makalah ilmiah yang menggambarkan meteorit berusia 4,6 miliar tahun, yang mereka beri nama Maryborough, diambil dari nama kota tempat ditemukan batu tersebut.

Batu dengan berat mencapai 17 kilogram ini, setelah menggunakan gergaji berlian untuk memotongnya, para peneliti menemukan komposisinya memiliki persentase kandungan besi yang tinggi, membuatnya menjadi kondrit biasa H5.

Setelah terbuka, dari dalamnya terlihat tetesan mineral logam kecil yang mengkristal di seluruh bagiannya, yang disebut chondrules.

"Meneliti meteorit adalah bentuk eksplorasi ruang angkasa yang paling terjangkau. Mereka membawa kita kembali ke masa lalu, memberikan petunjuk usia, pembentukan, dan kimia Tata Surya kita, termasuk Bumi," kata Henry.

Beberapa batuan dari luar angkasa, terangnya, memberikan pandangan sekilas mengenai bagian dalam planet kita. Di beberapa meteorit, ada 'stardust' yang bahkan lebih tua dari Tata Surya kita, yang menunjukkan kepada kita bagaimana bintang terbentuk dan berevolusi untuk menciptakan elemen tabel periodik.

"Meteorit langka lainnya mengandung molekul organik seperti asam amino yang menjadi penyusun kehidupan awal sebuah planet," tambahnya.

Asal Batuan

Meskipun para peneliti belum tahu dari mana meteorit itu berasal dan sudah berapa lama berada di Bumi, mereka memiliki beberapa dugaan.

Tata Surya kita dulunya adalah tumpukan debu dan batu chondrite yang berputar. Akhirnya, gravitasi menarik banyak materi ini menjadi planet, tetapi sisa-sisanya sebagian besar berakhir di sabuk asteroid yang sangat besar.

"Meteorit khusus ini kemungkinan besar keluar dari sabuk asteroid antara Mars dan Jupiter dan telah didorong keluar dari sana oleh beberapa asteroid yang saling bertabrakan, lalu suatu hari menabrak Bumi," kata Henry.

Penanggalan karbon menunjukkan, meteorit tersebut telah ada di Bumi antara 100 hingga 1.000 tahun, dan ada sejumlah penampakan meteor antara tahun 1889 dan 1951 yang dapat dikaitkan dengan kedatangannya di planet kita.

Para peneliti berpendapat bahwa meteorit Maryborough jauh lebih langka daripada emas, membuatnya jauh lebih berharga bagi sains. Ini adalah salah satu dari 17 meteorit yang pernah tercatat di negara bagian Victoria, Australia, dan merupakan massa kondritik terbesar kedua, setelah penemuan spesimen besar seberat 55 kilogram yang diidentifikasi pada tahun 2003.

"Ini meteorit ke-17 yang ditemukan di Victoria, sedangkan ada ribuan bongkahan emas yang ditemukan," kata Henry.

Ini juga bukan meteorit pertama yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk sampai ke museum. Dalam kisah lain pada tahun 2018, sebongkah batu luar angkasa membutuhkan waktu 80 tahun hingga akhirnya teridentifikasi dan dilaporkan ke museum oleh pemiliknya.



Simak Video "5 Fenomena Hujan Meteor yang Akan Terjadi di November 2022"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT