Video Kebaya Merah Viral, Kenapa Orang Suka Pornografi?

Video Kebaya Merah Viral, Kenapa Orang Suka Pornografi?

ADVERTISEMENT

Video Kebaya Merah Viral, Kenapa Orang Suka Pornografi?

Rachmatunnisa - detikInet
Kamis, 10 Nov 2022 17:33 WIB
Kasus kebaya merah viral memasuki babak baru. Setelah sempat diselidiki oleh polisi, pemeran wanita kebaya merah dalam video tersebut sudah ditangkap.
Penasaran Kebaya Merah, Kenapa Orang Suka Pornografi? Foto: Tangkapan layar video viral
Jakarta -

Video asusila 'kebaya merah' yang viral membuat penasaran banyak orang. Mengapa orang suka pornografi? Ternyata ada alasan ilmiahnya.

Sebuah riset yang dilakukan oleh Beáta Bothe dan timnya telah diterbitkan dalam Psychology of Addictive Behaviors edisi Maret 2021. Mereka meneliti alasan orang menonton pornografi dan potensi kecanduan pornografi.

Dikutip dari Psychology Today, Kamis (10/11/2022) penelitian dilakukan menggunakan tiga sampel partisipan dari Hungaria yang rinciannya sebagai berikut:

  • Sampel 1, terdiri dari 772 partisipan, 51% perempuan, usia rata-rata 23 tahun (kisaran 18-54 tahun), 51% lajang, dan 47% dalam hubungan romantis (hanya 2% menikah), 80% heteroseksual, 17% biseksual, 2% gay atau aseksual, mengakses materi porno mingguan
  • Sampel 2, 792 partisipan, 6% perempuan, usia rata-rata 40 tahun (19-76 tahun), 20% lajang dan 35% dalam hubungan romantis (44% menikah), 80% heteroseksual, 18% biseksual, 2% gay atau aseksual, 2-3 kali seminggu mengakses materi porno
  • Sampel 3, 1.082 orang, 50% perempuan, usia rata-rata 24 tahun (18-64 tahun), 40% lajang dan 54% dalam hubungan romantis (5% menikah), 82% heteroseksual, 15% biseksual, 2% gay atau aseksual, mengakses materi porno mingguan.

Penelitian ini mengukur skala motivasi penggunaan pornografi atau Pornography Use Motivations Scale (PUMS) yang meliputi delapan faktor kenapa orang suka pornografi. Inilah 8 faktor tersebut:

  1. Boredom avoidance (Menghindari kebosanan) - misalnya, "Saya menonton film porno karena saya ingin menghabiskan waktu ketika saya bosan."
  2. Emotional distraction or suppression (Pengalihan atau penekanan emosional) - "Saya menonton film porno untuk menekan suasana hati saya yang buruk."
  3. Fantasy (Fantasi) - "Saya menonton film porno karena saya dapat menjadi bagian dari hal-hal yang tidak dapat saya alami dalam kehidupan nyata."
  4. Lack of sexual satisfaction (Kurangnya kepuasan seksual) - "Saya menonton film porno karena kehidupan seksual saya tidak memuaskan."
  5. Self-exploration (Eksplorasi diri) - "Saya menonton film porno untuk mengenal hasrat seksual saya sendiri dengan lebih baik."
  6. Sexual curiosity (Keingintahuan seksual) - "Saya menonton film porno untuk mempelajari hal-hal baru."
  7. Sexual pleasure (Kenikmatan seksual) - "Saya menonton film porno karena membuat masturbasi lebih mudah."
  8. Stress reduction (Mengurangi stres) - "Saya menonton film porno karena itu adalah salah satu cara terbaik untuk menghilangkan stres."

Selanjutnya di skala kedua, skala konsumsi pornografi bermasalah atau Problematic Pornography Consumption Scale (PPCS) digunakan untuk mengevaluasi konsumsi pornografi yang bermasalah yang meliputi enam faktor:

  1. Conflict - "Menonton film porno mencegah saya mengeluarkan yang terbaik dari diri saya."
  2. Mood modification - "Menonton film porno menghilangkan perasaan negatif saya."
  3. Relapse - "Ketika saya bersumpah untuk tidak menonton film porno lagi, saya hanya bisa menahan keinginan itu untuk waktu yang singkat."
  4. Salience - "Saya terus merencanakan kapan harus menonton film porno lagi."
  5. Tolerance - "Saya merasa bahwa saya membutuhkan lebih banyak pornografi untuk memenuhi kebutuhan saya."
  6. Withdrawal - "Saya menjadi gelisah ketika saya tidak dapat menonton film porno."

Hasil studi

Temuan-temuan mengenai motivasi penggunaan materi pornografi, frekuensi menonton pornografi, konsumsi pornografi yang bermasalah, dan perbedaan gender dirangkum di bawah ini.

Motivasi

Tiga motivasi teratas untuk menonton film porno adalah: kesenangan seksual, keingintahuan seksual, dan fantasi.

Frekuensi menonton pornografi

Kenikmatan seksual memiliki hubungan yang moderat dengan frekuensi penggunaan pornografi, sedangkan menghindari kebosanan dan pengurangan stres memiliki hubungan yang lemah. Keingintahuan seksual, fantasi, kurangnya kepuasan seksual, gangguan atau penekanan emosional, dan eksplorasi diri tidak memiliki hubungan dengan frekuensi menonton pornografi.

Penggunaan pornografi yang bermasalah

Kenikmatan seksual, fantasi, menghindari kebosanan, dan gangguan atau penekanan emosional secara lemah terkait dengan menonton film porno yang bermasalah, sementara pengurangan stres memiliki hubungan yang moderat. Keingintahuan seksual, kurangnya kepuasan seksual, dan eksplorasi diri tidak terkait dengan penggunaan pornografi yang bermasalah.

Pria vs Wanita

Dibandingkan dengan wanita, pria memiliki skor yang lebih tinggi dalam menonton materi pornografi untuk kesenangan seksual, gangguan atau penekanan emosional, pengurangan stres, menghindari kebosanan, fantasi, dan kurangnya kepuasan seksual. Tidak ada perbedaan gender yang ditemukan dalam keingintahuan seksual dan motif eksplorasi diri.

Ringkasan

Singkatnya, motivasi teratas untuk penggunaan pornografi adalah: kesenangan seksual (45%), keingintahuan seksual (12%), dan fantasi (10%).

Diperlukan studi lebih lanjut untuk menguji stabilitas motivasi menonton pornografi (dan kecanduan pornografi) untuk menyelidiki motif konsumsi pornografi pada orang-orang dari budaya dan negara lain.



Simak Video "Akhir Jejak Si Kebaya Merah yang Kini Berganti 'Oranye'"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT