Ilmuwan Eksperimen Infeksi Otak dengan COVID-19, Efeknya Seram

Ilmuwan Eksperimen Infeksi Otak dengan COVID-19, Efeknya Seram

ADVERTISEMENT

Ilmuwan Eksperimen Infeksi Otak dengan COVID-19, Efeknya Seram

Rachmatunnisa - detikInet
Rabu, 26 Okt 2022 21:15 WIB
Computer screens in laboratory. Brain scans and coronavirus research
Foto: Getty Images/janiecbros
Jakarta -

SARS-CoV-2, virus penyebab COVID-19, sudah diketahui dapat memengaruhi fungsi kognisi otak. Sebuah penelitian memberikan jawaban lebih jelas mengenai tingkat kerusakan pada otak yang ditimbulkan SARS-CoV-2.

Penelitian baru yang menunjukkan SARS-CoV-2 menghancurkan koneksi antara sel-sel saraf dalam organoid otak mini mungkin menjadi bagian dari teka-teki mengapa infeksi COVID-19 dapat memiliki dampak yang begitu besar pada otak.

Beberapa pengamatan menunjukkan beberapa kesamaan dengan yang terlihat selama perkembangan penyakit Parkinson dan Alzheimer. Para ilmuwan di Karolinska Institutet di Swedia menciptakan otak mini manusia dalam model tiga dimensi.

Otak ini kemudian ditempatkan dalam cawan dan dengan sengaja menginfeksi otak tersebut dengan SARS-CoV-2. Temuan mereka menunjukkan bahwa virus memicu peningkatan peristiwa terkait kematian sel awal.

Selanjutnya, otak mini yang digunakan dalam penelitian ini menampilkan sel-sel otak yang disebut mikroglia. Ini dapat membantu melindungi otak dengan menelan dan membersihkan sinapsis yang tidak diinginkan, dan persimpangan antara neuron yang digunakan untuk mengirimkan sinyal ke "tetangga" mereka.

Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa mikroglia menghilangkan sinapsis secara berlebihan saat melawan infeksi SARS-CoV-2, yang sebenarnya merusak otak.

Salah satu efek COVID-19 yang paling banyak dilaporkan adalah brain fog atau kabut otak yakni kondisi yang menyebabkan pasien mengalami kebingungan, sangat sulit konsentrasi, masalah memori, dan kurangnya fokus.

Beberapa penelitian juga menemukan bahwa lebih dari sepertiga pasien COVID-19 didiagnosis dengan kondisi neurologis atau kejiwaan dalam waktu 6 bulan setelah infeksi.

Meski sudah jelas bahwa COVID-19 dapat merusak otak secara signifikan, masih ada beberapa perdebatan tentang apakah virus tersebut menginfeksi otak secara langsung.

Namun demikian, para peneliti dari studi terbaru ini mengatakan temuan mereka dapat membantu menjelaskan mengapa infeksi COVID-19 menghasilkan gejala tidak biasa yang memengaruhi kognisi dan fungsi otak.

"Menariknya, hasil kami sebagian besar meniru apa yang baru-baru ini diamati pada model tikus yang terinfeksi virus RNA neuroinvasif lainnya seperti virus West Nile," kata Samudyata Samudyata, penulis studi pertama dan rekan postdoctoral di lab Sellgren di Departemen Fisiologi dan Farmakologi di Karolinska Institutet, dikutip dri IFL Science.

"Virus ini juga terkait dengan defisit kognitif residual setelah infeksi, dan aktivasi mikroglia yang berkelanjutan, mengarah ke sinapsis berlebihan yang diduga mendorong gejala-gejala ini," sambungnya.

Para peneliti mencatat bahwa sinapsis yang berlebihan oleh mikroglia adalah sesuatu yang telah dikaitkan dengan gangguan perkembangan saraf dan gangguan neurodegeneratif termasuk penyakit Alzheimer.

Meskipun terlalu dini untuk mengatakan bagaimana COVID-19 dapat berimplikasi pada orang yang mengembangkan penyakit neurodegeneratif di masa depan, ini adalah kekhawatiran yang telah dikemukakan sebelumnya.

"Microglia menampilkan gen yang berbeda, yang sebagian besar ditandai dengan peningkatan regulasi gen yang responsif terhadap interferon, dan termasuk jalur yang sebelumnya terkait dengan gangguan neurodegeneratif seperti penyakit Parkinson dan Alzheimer," tambah Susmita Malwade, rekan penulis studi dan mahasiswa doktoral di lab Sellgren di Departemen Fisiologi dan Farmakologi di Karolinska Institutet.

"Tanda ini juga diamati pada titik waktu berikutnya ketika beban virus minimal," tutupnya.



Simak Video "Respons Merck soal Potensi Molnupiravir Sebabkan Mutasi Virus Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/rns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT