Misteri Istana Emas di Spanyol Berubah Ungu

ADVERTISEMENT

Misteri Istana Emas di Spanyol Berubah Ungu

Rachmatunnisa - detikInet
Jumat, 07 Okt 2022 05:44 WIB
Istana Alhambra
Misteri Istana Emas di Spanyol Berubah Ungu. Foto: AFP
Jakarta -

Istana Alhambra adalah warisan kesultanan Islam di Granada, Spanyol. Namun ada misteri di sana. Istana berlapis emas ini berubah menjadi ungu.

Alhambra adalah istana agung yang berkilauan di atas Kota Granada selama 800 tahun. Sepanjang hari, istana yang dibangun oleh penguasa Muslim Spanyol terakhir ini berubah-ubah warna terkena sinar Matahari.

Di bagian dalam, di aula berlapis emas Alhambra, istana juga perlahan berubah warna. Setelah berabad-abad mengalami pelapukan alami, bagian dari sisi emas istana dan hiasan dinding bercat putih berubah menjadi ungu kusam, noda yang menurut dua ilmuwan akhirnya bisa mereka jelaskan.

"Asal-usulnya tetap tidak diketahui sampai sekarang," tulis ahli mineral dari Granada Carolina Cardell University dan spesialis mikroskopis Isabel Guerra dalam makalah mereka, dilansir dari Science Direct, Jumat (7/10/2022).

Penelitian mereka menguraikan bagaimana kemajuan teknologi memungkinkan keduanya 'mengupas' lapisan dinding Alhambra yang lapuk.

Emas adalah salah satu logam yang paling tidak reaktif, sehingga harus bertahan dalam ujian waktu. Logam mulia ini tahan terhadap sinar Matahari, kelembapan, polusi udara, dan suhu pemanggangan, itulah sebabnya logam mulia ini menjadi bahan yang sangat berharga untuk membuat perhiasan, koin, dan baru-baru ini, perangkat elektronik.

Lembut dan mudah dibentuk, emas juga digunakan untuk menghias istana, ornamen, lengan dan baju besi, dan bermacam karya seni lewat teknik penyepuhan. Dalam kasus Alhambra, emas yang dilapiskan pada lembaran timah yang lentur awalnya menghiasi dinding istana. Namun seiring waktu, permukaannya berubah menjadi warna ungu yang aneh, dan segera ditutup dengan lapisan gipsum putih pada abad ke-19.

Perubahan cahaya emas menjadi ungu aneh biasanya diinduksi oleh campuran asam nitrat dan asam klorida yang dikenal sebagai asam nitrat hidroklorida, atau aquia regia. Para alkemis Romawi menggunakan teknik ini untuk mewarnai kaca sejak abad ke-4.

Reaksi aqua regia melarutkan emas menjadi partikel-partikel kecil, seperti yang diperkirakan oleh penemu dan ilmuwan Michael Faraday pada tahun 1856, menyebarkan cahaya menjadi merah delima, ungu, dan biru.

Namun hingga saat ini, tidak ada tanda-tanda asam nitrat hidroklorida yang terdeteksi di dinding Alhambra. Tanpa aqua regia dalam campuran, proses kimia yang berbeda diduga menciptakan perubahan warna di dalam Alhambra.

AlhambraBagian dari sisi emas istana Alhambra dan hiasan dinding bercat putih berubah menjadi ungu kusam. Foto: Science Alert

Cardell dan Guerra menyelidiki hal ini menggunakan mikroskop elektron pemindaian yang dilengkapi dengan berbagai spektrometer, untuk mengungkapkan komposisi kimia fitur berlapis emas Alhambra, hingga skala nano.

Setelah mempelajari dinding Alhambra yang berusia berabad-abad dan memodelkan pelapukan kimia yang mungkin terjadi, para peneliti menemukan kombinasi tak terduga dari proses elektrokimia mungkin telah menaungi permukaan yang rusak dengan warna ungu.

Cardell dan Guerra menemukan lubang dan celah berbentuk kawah di daun emas, saluran di mana uap air dapat mencapai kertas timah di bawahnya dan menimbulkan korosi, ketika dinding bebas dari kotoran.

Tapi di area yang dindingnya tertutup kotoran, emasnya malah terkorosi. Ketika dilucuti elektronnya, emas secara bertahap terdegradasi dan secara spontan membentuk nanopartikel emas berdiameter sekitar 70 nanometer yang, menurut Cardell dan Guerra, adalah ukuran yang tepat untuk menyebarkan penyebaran gelombang cahaya yang membuatnya tampak ungu.

Peneliti tidak melakukan tes eksperimental untuk mencoba dan mereproduksi proses korosi yang diperkirakan. Mereplikasi pelapukan selama lima abad dalam eksperimen laboratorium akan menjadi hal yang sulit, dan tidak akan selalu memunculkan hasil yang sangat informatif.

"Penelitian kami dilakukan pada studi kasus nyata lebih dari lima abad pelapukan dalam kondisi alam, membatasi kemampuan kami untuk menjelaskan model korosi yang tepat," tulis Cardell dan Guerra dalam makalah mereka.

Mereka juga menduga, keberadaan nanopartikel emas dan kerusakan penyepuhan bimetal kemungkinan lebih luas daripada yang telah diperhatikan para ahli warisan arsitektur ini, karena beberapa permukaan akan ditutupi dengan lapisan putih seperti aula berlapis emas Alhambra.

"Hasil yang ditampilkan di sini diharapkan akan membantu para ahli benda-benda kuno yang disepuh emas dengan informasi yang relevan dengan metode dan bahan intervensi korosi, serta pencegahan korosi," Cardell dan Guerra menyimpulkan.



Simak Video "Wujud Harta Arkeologi Langka yang Ditemukan di Gaza"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT