AS Pernah Ledakkan Nuklir di Luar Angkasa 60 Tahun Lalu

ADVERTISEMENT

AS Pernah Ledakkan Nuklir di Luar Angkasa 60 Tahun Lalu

Rachmatunnisa - detikInet
Minggu, 17 Jul 2022 19:23 WIB
Bom Nuklir
Ilustrasi bom nuklir. Foto: Getty Images/iStockphoto/Alexyz3d
Jakarta -

Pada 9 Juli 1962, banyak orang berkumpul di pantai Honolulu, Hawaii, menyaksikan Amerika Serikat (AS) meledakkan bom nuklir di luar angkasa. Untuk apa AS melakukannya?

Dikenal sebagai Starfish Prime, ledakan itu adalah bagian dari serangkaian uji coba nuklir ketinggian tinggi yang dikenal sebagai 'Operasi Fishbowl'.

Lima perangkat nuklir diluncurkan selama pengujian, dengan Starfish menjadi yang terbesar sekitar 1,4 megaton (setara dengan pelepasan energi 1,4 juta ton TNT yang diledakkan sekaligus).

Setelah bom diledakkan sekitar 400 kilometer di atas Pulau Johnston di Samudra Pasifik, aurora terlihat di langit saat peralatan elektronik mulai rusak.

"Di Kwaialein, 1.400 mil ke barat, mendung tebal memperpanjang ufuk timur hingga ketinggian 5 atau 8 derajat," kata seorang saksi mata peristiwa itu, seperti yang tercatat dalam laporan militer, dikutip dari IFL Science, Minggu (17/7/2022).

Pada pukul 09.00 waktu setempat, kilatan putih cemerlang membakar awan dengan cepat berubah menjadi bola hijau yang meluas dari pancaran memanjang ke langit cerah di atas mendung.

Dari permukaannya muncul jari-jari putih besar, menyerupai awan cirro-stratus, yang naik hingga 40 derajat di atas cakrawala dalam busur menyapu berbelok ke bawah menuju kutub dan menghilang dalam hitungan detik untuk digantikan oleh cincin, seperti cincin konsentris spektakuler yang bergerak keluar dari ledakan dengan kecepatan awal yang luar biasa, dan akhirnya berhenti ketika cincin terluar berada 50 derajat di atas kepala.

"Mereka tidak menghilang tetapi bertahan dalam keadaan diam yang membeku," tulis laporan tersebut.

Ketika cahaya kehijauan berubah menjadi ungu dan mulai memudar pada titik ledakan, cahaya merah terang mulai berkembang di cakrawala pada arah 50 derajat utara timur dan secara bersamaan 50 derajat selatan timur meluas ke dalam dan ke atas, sampai seluruh langit timur adalah setengah lingkaran merah kusam yang terbakar 100 derajat utara ke selatan, dan setengah jalan ke puncak melenyapkan beberapa bintang yang lebih kecil. Kondisi ini, diselingi dengan pelangi putih yang luar biasa, bertahan tidak kurang dari tujuh menit.

Tes ini dirancang sebagian untuk menguji efek pada medan magnet Bumi, dan apakah ledakan nuklir di ruang angkasa dapat dijadikan senjata melawan Uni Soviet.

Mereka terkejut menemukan bahwa cara itu efektif untuk mematikan beberapa satelit, termasuk yang diluncurkan sehari setelah tes yang terkena tingkat radiasi yang lebih tinggi dari yang diperkirakan.

"Beberapa sistem elektronik dan listrik di Kepulauan Hawaii, 1.400 kilometer jauhnya, terdampak pengujian ini, menyebabkan kegagalan sistem penerangan jalan, pemutus sirkuit terhambat, memicu alarm pencuri, dan kerusakan fasilitas relai telekomunikasi," demikian menurut catatan laporan pada tahun 2012.

Apa yang penting tentang serangan electromagnetic pulse (EMP) adalah bahwa satu atau beberapa ledakan nuklir ketinggian tinggi dapat menghasilkan efek EMP yang berpotensi mengganggu atau merusak sistem elektronik dan listrik di sebagian besar AS, hampir secara bersamaan, pada waktu yang ditentukan oleh musuh.

Efek dari tes, berlangsung lebih lama daripada kemunculan aurora yang cantik. Sabuk radiasi buatan diciptakan oleh ledakan, dengan tingkat yang lebih tinggi dari sabuk Van Allen yang terjadi secara alami, yang berlangsung selama beberapa tahun. Sungguh mengerikan!



Simak Video "Pesan Zelensky: Jangan Tunggu Rusia Gunakan Senjata Nuklir!"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT