Tentang Sungai Aare, Dulu Kumuh Kini Biru dan Airnya Bagus

Tentang Sungai Aare, Dulu Kumuh Kini Biru dan Airnya Bagus

Tim - detikInet
Jumat, 27 Mei 2022 18:30 WIB
The cathedral of Bern or Munster along side of Aare river in sunny day, Switzerland tourism
Sungai Aare Tampak Biru dan Punya Kualitas Air Bagus, Dulunya Kumuh. Foto: CNN
Jakarta -

Salah satu fakta menarik Sungai Aare di Bern, Swiss yang menjadi tempat anak sulung Ridwan Kamil, Emmeril Khan Mumtadz, terseret arus saat berenang, adalah sungai ini memiliki kualitas air yang bagus.

Hal ini telah dikonfirmasi oleh sampel air yang hasilnya menempatkan Sungai Aare dalam kategori "kualitas sangat baik" menurut Uni Eropa pada 2016. Ini jadi daya tarik sendiri bagi Sungai Aare agar orang tidak perlu khawatir jika secara tidak sengaja menelan air saat berenang di sana.

Namun siapa sangka, dulunya kualitas air Sungai Aare tidak sebaik sekarang. Sungai Aare, dulunya kumuh. Hal ini diungkapkan oleh Michael Hengartner, seorang ahli biokimia dan biologi molekuler Swiss-Kanada.

"Di masa lalu, kualitas air di Swiss jauh lebih buruk daripada sekarang. Busa mengapung di banyak tempat di sungai dan ada hamparan alga di danau," kata Hengartner dikutip dari Sciena.

Dalam kolomnya, Michael Hengartner menjelaskan bagaimana penelitian telah berkontribusi pada kualitas air yang lebih baik dan tantangan apa yang kita hadapi saat ini.

"Air di Swiss memiliki kualitas tinggi. Tamu dari luar negeri selalu kagum bahwa air keran kami tidak mengandung klorin. Dan mereka sulit dipercaya bahwa Anda dapat minum air sumur tanpa masalah dan bahkan berenang di sungai dan danau," tulisnya.

Namun, lanjut Hengartner, kondisi air di Swiss tidak selalu seperti ini. Beberapa hal mungkin lebih baik di masa lalu, tetapi kualitas air Swiss tidak demikian. Pada pertengahan 1960-an, hanya 14 dari 100 rumah tangga Swiss yang terhubung ke instalasi pengolahan limbah.

Di banyak tempat, busa mengapung di sungai-sungai Swiss, dan danau-danau itu ditutupi dengan hamparan alga yang harus disapu oleh kapal. Di beberapa area ada tulisan: "Awas! Air tercemar. Jangan ditelan. Bilas setelah mandi." Kini, hal-hal seperti itu tidak terpikirkan karena begitu bersih airnya.

Pada 2017, UNESCO bahkan menetapkan bahwa berenang di Sungai Aare masuk dalam daftar tradisi, dan karenanya merupakan bagian dari warisan budaya takbenda Swiss. Kantor Kebudayaan Federal Swiss memutuskan kegiatan mana yang diklasifikasikan sebagai "tradisi hidup."

Penyebab pencemaran air bermacam-macam. Pertanian berkontribusi dengan terlalu banyak penggunaan pupuk, demikian juga industri dan rumah tangga. Deterjen sering masuk ke aliran air tanpa filter dan menyebabkan sungai berbusa. Dan di Bern, hingga tahun 1980-an, air limbah rumah tangga dari kota (termasuk toilet) hanya disaring secara kasar sebelum dibuang ke Sungai Aare.

Fakta bahwa begitu banyak hal telah diperbaiki untuk kualitas air di Swiss, terutama disebabkan oleh instalasi pengolahan limbah. Saat ini, 97% rumah tangga terhubung ke instalasi pengolahan limbah. Sisanya tinggal di daerah yang sangat terpencil sehingga tidak masuk akal untuk menghubungkan mereka.

Selain itu, pabrik industri sekarang memiliki filter yang lebih baik dan petani lebih jarang menggunakan pupuk. Hukum terkait lingkungan pun lebih ketat. Misalnya, penggunaan fosfat dalam deterjen telah dilarang.

"Penelitian juga telah banyak berkontribusi pada kualitas air. Di Swiss, ini terjadi terutama di Eawag. Misalnya, bioreaktor membran, dan reaktor biofilm telah dikembangkan untuk memurnikan air," kata Hengartner.

Metode pengukuran juga menjadi makin canggih. Saat ini, misalnya, residu antibiotik dan obat lain dapat diukur secara akurat. Bahkan virus Corona bisa dideteksi di air limbah. Tapi jangan khawatir, residu virus ini tidak lagi menular.

"Swiss telah mencapai banyak hal di bidang perlindungan air. Tapi tantangan baru terbentang di depan. Misalnya, akumulasi residu dalam air tanah menjadi perhatian utama," ujar Hengartner.

Gelombang panas yang semakin sering dan kekeringan musim panas menyebabkan kekurangan air regional dan menekan ekosistem sungai dan sungai. Permasalahan tersebut tidak lagi dapat ditangani secara selektif, tetapi harus ditangani secara holistik.

"Sehingga di masa depan kita bisa terus mandi di danau dan sungai kita dan minum air dari sumur kita, berenang dengan santai di Sungai Aare, Limmat, atau Rhine. Sungai-sungai ini bisa digunakan berenang," tutupnya.

[Gambas:Youtube]



(rns/rns)