Banyak Negara Mulai Longgarkan Prokes, WHO: Pandemi Belum Usai!

ADVERTISEMENT

Banyak Negara Mulai Longgarkan Prokes, WHO: Pandemi Belum Usai!

Rachmatunnisa - detikInet
Kamis, 26 Mei 2022 07:15 WIB
SHANGHAI, CHINA - MAY 17: Passengers in protective suits wait for their trains at Hongqiao Railway Station on May 17, 2022 in Shanghai, China. Shanghai has basically cut off community transmission of COVID-19 in 16 districts and launched a three-phase plan to restore production and life to normal. (Photo by Yin Liqin/China News Service via Getty Images)
Foto: China News Service via Getty Ima/China News Service
Jakarta -

Sejumlah negara di dunia mulai melonggarkan aturan protokol kesehatan (prokes), termasuk di Indonesia. Organisasi Kesehatan Dunia WHO, mengingatkan bahwa pandemi COVID-19 belum selesai.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebryesus menyampaikan hal ini di hadapan perwakilan Kementerian Kesehatan dari 194 negara dalam World Health Assembly di Jenewa, Swiss.

Ini adalah pertama kalinya World Health Assembly dapat digelar lagi secara langsung sejak 2019. Dalam kesempatan itu Tedros bertanya kepada para menteri, di mana posisi dunia saat ini, setelah selama dua tahun mengalami krisis kesehatan paling parah dalam abad ini.

"Jadi, apakah COVID-19 sudah berakhir? Tidak, ini belum berakhir. Saya tahu itu bukan pesan yang ingin Anda semua dengar, dan itu pun jelas bukan pesan yang ingin saya sampaikan", tegas Tedros seperti dikutip dari berita di laman resmi PBB.

Dia menambahkan bahwa meskipun di banyak negara semua pembatasan telah dicabut dan kehidupan mulai tampak seperti sebelum pandemi, kasus yang dilaporkan meningkat di hampir 70 negara di semua wilayah.

"Dan ini di dunia di mana tingkat pengujian telah anjlok", tambahnya.

Tedros memperingatkan bahwa kematian yang dilaporkan juga meningkat di Afrika, benua dengan cakupan vaksinasi terendah.

"Virus ini telah mengejutkan kita di setiap kesempatan. Badai yang telah melanda masyarakat berulang kali, dan kita masih tidak dapat memprediksi jalurnya, atau intensitasnya," Tedros mengingatkan.

Kesenjangan respons COVID-19

Tedros setuju bahwa ada banyak kemajuan di bidang medis dan ilmu pengetahuan sejak pandemi COVID-19 terjadi. Sebanyak 60% populasi dunia sudah divaksinasi. Namun Tedros mengingatkan bahwa hampir satu miliar orang di negara-negara berpenghasilan rendah tetap tidak divaksinasi.

"Ini belum berakhir sampai selesai di mana-mana. Hanya 57 negara yang telah memvaksinasi 70% dari populasi mereka. Hampir semuanya negara berpenghasilan tinggi," katanya.

WHO memperingatkan bahwa peningkatan penularan berarti akan ada lebih banyak kematian dan lebih banyak risiko munculnya varian baru, dan penurunan pengujian dan pengurutan saat ini, sama artinya dengan kita menutup mata terhadap evolusi virus.

Dia juga menunjukkan bahwa di beberapa negara masih ada komitmen politik yang tidak memadai untuk meluncurkan vaksin, dan masih ada kesenjangan dalam kapasitas operasional dan keuangan.

"Dan secara keseluruhan, kami melihat keragu-raguan untuk vaksinasi yang didorong oleh informasi yang salah dan disinformasi", tambahnya.

Tedros mengatakan bahwa fokus utama WHO sekarang adalah untuk mendukung negara-negara melakukan vaksinasi secepat mungkin. Tetapi mereka masih menghadapi masalah dari segi pasokan untuk tes dan terapi penyembuhan dengan dana dan akses yang tidak mencukupi.

"Pandemi tidak akan hilang secara ajaib. Tapi kita bisa mengakhirinya. Kita memiliki pengetahuan, kita punya alatnya. Ilmu pengetahuan telah memberi kita keunggulan," katanya seraya menyerukan semua negara untuk bekerja sama mencapai cakupan vaksinasi hingga 70%.



Simak Video "Satgas Covid-19: Kita Perlu Berhati-hati dalam Memaknai Akhir Pandemi"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/afr)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT