Gelombang Panas Terparah dalam 60 Tahun Terakhir Ternyata Sudah Terjadi

Gelombang Panas Terparah dalam 60 Tahun Terakhir Ternyata Sudah Terjadi

Rachmatunnisa - detikInet
Selasa, 17 Mei 2022 13:36 WIB
People visit a thermometer Sunday, July 11, 2021, in Death Valley National Park, Calif. Death Valley in southeastern Californias Mojave Desert reached 128 degrees Fahrenheit (53 Celsius) on Saturday, according to the National Weather Services reading at Furnace Creek. The high temperature was actually lower than the previous day, when the location reached 130 F (54 C). (AP Photo/John Locher)
Foto: AP/John Locher
Jakarta -

Saat gelombang panas terjadi, solusinya tidak segampang menghidupkan AC lalu seketika adem. Gelombang panas adalah masalah lingkungan yang menciptakan kondisi yang mengancam jiwa.

India dan Pakistan, tempat 21% populasi dunia tinggal, saat ini berada di tengah gelombang panas yang mematikan. Saat krisis iklim mengamuk, populasi yang lebih rentan di negara berkembang akan terus menanggung beban konsekuensinya.

Dikutip dari Inverse, Selasa (17/5/2022) menurut sebuah penelitian baru-baru ini, gelombang panas yang lebih ekstrem mungkin telah terjadi tanpa disadari dan tercatat oleh para ilmuwan. Para peneliti dari University of Bristol di Inggris menganalisis kembali data iklim dari tahun 1950-an dan seterusnya.

Yang mengkhawatirkan, peristiwa Juni 2021 berada di antara delapan gelombang panas terburuk sejak saat itu, dengan yang lainnya tersebar di seluruh dunia. Temuan ini dipublikasikan minggu lalu di jurnal Science Advances.

Menggunakan kombinasi data yang tersedia dan model iklim, laporan terbaru merinci beberapa gelombang panas terburuk di seluruh dunia yang luput dari perhatian, termasuk yang terburuk di Asia Tenggara pada tahun 1998.

Para peneliti tidak hanya mencari jumlah terbesar dalam hal suhu atau durasi tetapi juga apa yang disebut gelombang panas untuk wilayah tertentu. Misalnya, suhu musim panas 37 derajat celcius di Arizona mungkin biasa, tetapi tidak di British Columbia, di mana panas Juni lalu mencapai 50 derajat celcius. Menurut Coroners Service, hampir 600 orang di wilayah tersebut meninggal karena kematian akibat panas antara 18 Juni hingga 12 Agustus 2021.

"Melihat secara global memberi kita gambaran yang berbeda tentang apa yang terjadi dan memungkinkan kita untuk menempatkan peristiwa masa depan ke dalam konteks yang lebih baik, karena bahkan jika satu wilayah tidak memiliki gelombang panas, kita dapat menunjukkan bahwa bagian lain dari dunia mungkin sudah mengalami hal serupa," kata Vikki Thompson, peneliti senior di Fakultas Ilmu Geografi University of Bristol.

Naiknya suhu Bumi mendapat perhatian serius, karena gelombang panas dapat menghancurkan komunitas dan lingkungan.

"Secara harfiah, komunitas mulai terbakar. Saat itu sangat panas dan sangat kering, kita mengalami kebakaran hutan, sejumlah kota yang tampak di peta benar-benar terbakar," kata Robert McLeman profesor geografi dan studi lingkungan di University of Wilfrid Laurier.

Kota-kota seperti di British Columbia, yang jarang mengalami panas ekstrem seperti itu, tidak memiliki infrastruktur seperti pusat pendingin besar atau AC sentral untuk meringankan 'penderitaan' penduduknya.

McLeman mengatakan bahwa setelah suhu mencapai sekitar 40 derajat celcius, tidak aman berada di luar. Dengan suhu sepanas itu, tenaga kerja manual dan waktu di luar membebani tubuh secara eksponensial lebih banyak. Mereka yang tinggal sendirian sangat rentan karena mereka mungkin tidak dapat meminta bantuan di saat-saat yang mengerikan.

Studi ini juga menyoroti populasi yang kurang mendapat perhatian. Sebagian alasan dari mengapa lebih banyak informasi tentang iklim di Amerika Utara dan Eropa Barat, adalah karena di sanalah banyak ilmuwan iklim tinggal. Alhasil, potongan besar data akhirnya hilang dari beberapa negara, atau bahkan seluruh wilayah di benua.

"Kami harus meninggalkan sebagian Afrika karena kumpulan data tidak sejalan dengan apa yang terjadi. Tidak ada cukup data pengamatan dari mereka," ujarnya.

Jika ada peristiwa panas yang lebih ekstrem yang tidak disadari oleh para ilmuwan, beberapa orang mungkin bertanya-tanya, bukankah itu berarti iklim sebenarnya tidak memanas, tetapi dicatat secara tidak akurat?

Di sinilah pemodelan matematika masuk, kata Thompson dan McLeman. Para peneliti membuat model mereka berdasarkan data pengamatan yang mereka miliki untuk menghitung kemungkinan peristiwa cuaca pada titik tertentu dalam sejarah di wilayah tertentu.

Untuk menguji keakuratan model mereka, para peneliti membuat "prediksi" tentang cuaca selama periode waktu yang telah terjadi dan yang datanya mereka miliki. Mereka kemudian dapat membandingkan model dengan data yang diamati.

Thompson berharap penelitian masa depan akan menargetkan daerah dengan iklim yang berubah. Dia juga berfokus pada dampak sanitasi dan curah hujan di Ethiopia, Uganda, dan Nepal, jadi dia berharap dapat memberikan kejelasan lebih lanjut tentang beberapa negara yang kurang diperhatikan.

Sementara itu, McLeman ingin melihat kemajuan dalam penelitian infrastruktur dan perencanaan kota sebelum gelombang panas berikutnya. "Bagaimana kita membangun infrastruktur kita untuk mengatasi suhu ekstrem ini, karena akan menjadi lebih sering terjadi, terutama di daerah di mana kita tidak benar-benar terbiasa dengan suhu ekstrem seperti itu," tutupnya.

Simak Video 'India Dilanda Gelombang Panas, Suhu Capai 49 Derajat Celsius':

[Gambas:Video 20detik]



(rns/fay)