Sisi Jauh Bulan Lebih Bopeng-bopeng, Ini Alasannya

Sisi Jauh Bulan Lebih Bopeng-bopeng, Ini Alasannya

ADVERTISEMENT

Sisi Jauh Bulan Lebih Bopeng-bopeng, Ini Alasannya

Rachmatunnisa - detikInet
Rabu, 13 Apr 2022 10:13 WIB
Fenomena Bulan Biru Musiman atau Seasonal Blue Moon di langit Bekasi, Minggu (22/8/2021). Bulan Biru adalah purnama ketiga dari salah satu musim astronomis yang di dalamnya terjadi empat kali bulan purnama. ANTARA FOTO/Paramayuda/wsj.
Foto: ANTARA FOTO/Paramayuda
Jakarta -

Di mana pun kita berada di Bumi, kita hanya bisa melihat satu sisi wajah Bulan saja, sedangkan sisi lainnya selalu menjauh dari planet kita. Sisi jauh Bulan ini lebih bopeng-bopeng karena memiliki lebih banyak kawah. Ilmuwan mencoba menjelaskan alasannya.

Sisi dekat Bulan tertutupi Lunar Maria, dataran luas basal vulkanik yang muncul sebagai tambalan gelap saat kita melihat satelit alami Bumi tersebut.

Alasan penampakan dua wajah ini tetap menjadi misteri, bahkan bertahan sejak pesawat ruang angkasa pertama mengorbit Bulan pada 1960-an. Tapi simulasi terbaru saat ini mungkin telah memecahkan teka-teki era misi Apollo.

Menggabungkan fitur-fitur yang berbeda, model komputer mendukung gagasan bahwa dampak besar Bulan pernah muncul kembali di sisi dekat Bulan dalam aliran lava. Perbedaannya lebih dari sekadar permukaan kulit, karena mereka juga digambarkan oleh komposisi geologis yang berbeda di setiap sisi Bulan.

Para astronom telah lama menduga sisi dekat Bulan pernah tertutup lautan magma yang ketika menjadi dingin, menghaluskan lanskap berbatu dan menciptakan noda gelap seperti yang kita lihat sekarang. Namun pemicu aktivitas vulkanik ini masih diperdebatkan.

Sebuah kawah besar di kutub selatan Bulan, yang dikenal sebagai South Pole-Aitken (SPA), dapat menjelaskan perbedaannya. Cekungan ini merupakan sisa dari salah satu tabrakan terbesar dan tertua di Bulan.

Simulasi menunjukkan peristiwa SPA, yang terjadi sekitar 4,3 miliar tahun yang lalu, terjadi pada waktu dan tempat yang tepat untuk memulai perubahan hanya pada satu sisi mantel Bulan.

Panas luar biasa yang dihasilkan oleh tumbukan akan menghangatkan mantel atas di sisi dekat Bulan sedemikian rupa. Para ahli berpikir itu akan menyebabkan konsentrasi kalium, elemen tanah jarang, fosfor, dan elemen penghasil panas seperti thorium.

Sampai saat ini, itulah komposisi yang ditemukan para ilmuwan dalam sampel batuan Bulan dari sisi dekat, terutama di Procellarum KREEP Terrane (PKT), area luas yang dikenal dengan anomali komposisi ini.

"Apa yang kami tunjukkan adalah bahwa dalam kondisi yang masuk akal pada saat SPA terbentuk, ia akhirnya memusatkan elemen penghasil panas ini di bagian dekat Bulan," jelas ilmuwan planet Matt Jones dari Brown University, dikutip dari Science Alert, Rabu (13/4/2022).

"Kami berharap hal ini berkontribusi pada pencairan mantel yang menghasilkan aliran lava yang kita lihat di permukaan," ujarnya.

Dampak dari peristiwa SPA mungkin akan berlangsung selama ratusan juta tahun. Dalam simulasi, dataran vulkanik paling dekat yang paling kuno meletus 200 juta tahun setelah peristiwa tumbukan. Faktanya, episode intens aktivitas vulkanik berlanjut di sisi dekat Bulan hingga 700 juta tahun pasca-benturan.

Menurut para ahli, alasan mengapa sisi Bulan yang ini lebih banyak bereaksi terhadap tumbukan adalah karena ini adalah lokasi tumbukan berpusat pada pengangkutan material penghasil panas, juga karena adanya sedikit perubahan gravitasi.

Dalam setiap skenario yang diteliti para peneliti, mantel atas di belahan Bumi selatan memanas dan mulai mengalir menuju belahan Bumi utara, bergerak melalui sisi dekat.

Sementara itu, mantel atas di sisi jauh tetap terlalu dingin untuk mendistribusikan bahan yang sama dengan cara yang serupa.

Perbedaan ini telah menghasilkan asimetri yang diamati di dua wajah Bulan.

"Bagaimana PKT terbentuk bisa dibilang merupakan pertanyaan terbuka paling signifikan dalam ilmu bulan. Dan tumbukan SPA adalah salah satu peristiwa paling signifikan dalam sejarah bulan. Pekerjaan ini menyatukan dua hal itu, dan saya pikir hasil kami sangat menarik," tutupnya.



Simak Video "Melihat Fenomena Gerhana Bulan Total di Jakarta dan Kota-kota di Dunia"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT