Rusia Dituding Curi Bahan Pembuat Bom dari Chernobyl di Ukraina

Rusia Dituding Curi Bahan Pembuat Bom dari Chernobyl di Ukraina

Rachmatunnisa - detikInet
Kamis, 31 Mar 2022 16:05 WIB
FILE - An operators arm-chair covered with plastic sits in an empty control room of the 3rd reactor at the Chernobyl nuclear plant, in Chernobyl, Ukraine, on April 20, 2018. Among the most worrying developments on an already shocking day, as Russia invaded Ukraine on Thursday, was warfare at the Chernobyl nuclear plant, where radioactivity is still leaking from historys worst nuclear disaster 36 years ago.(AP Photo/Efrem Lukatsky, File)
Rusia Curi Bahan Pembuat Bom di Chernobyl, Orang-orang Khawatir. Foto: AP/Efrem Lukatsky
Jakarta -

Sudah lima pekan lamanya sejak Chernobyl, situs bencana nuklir terburuk dalam sejarah manusia, diambil alih oleh pasukan Rusia yang menyerang Ukraina. Perkembangan Chernobyl selanjutnya mulai membuat publik khawatir.

Mendengar pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Chernobyl jatuh ke tangan Rusia saja sudah membuat cemas. Orang-orang sibuk menerka apa yang akan dilakukan Rusia terhadap situs tersebut.

Dalam beberapa pekan, listrik di fasilitas tersebut padam, membuat ratusan pekerja Ukraina yang ditahan di dalam gedung berisiko terkena debu radioaktif, dan hutan tanaman radioaktif dan jamur di sekitarnya terbakar.

Kemudian minggu lalu, berita yang lebih buruk muncul. Menurut sebuah laporan yang dilansir Science dan dikonfirmasi oleh sumber New Scientist, pasukan Rusia di daerah tersebut telah menjarah laboratorium pemantauan radiasi di desa Chernobyl.

Tampaknya mereka juga membawa serta artefak yang berpotensi dapat digunakan untuk membuat bom kotor, sejenis senjata yang dibuat dengan mencampur bahan peledak konvensional dengan bahan radioaktif.

"Ada bahan yang lebih berbahaya yang disimpan di fasilitas Chernobyl dan nasibnya tidak kita ketahui," kata Anatolii Nosovskyi, Direktur Institute for Safety Problems of Nuclear Power Plants (ISPNPP) di Kyiv, dikutip dari Science, Kamis (31/3/2022).

Di antara bahan-bahan ini adalah sampel dari kehancuran fasilitas Unit Empat 35 tahun lalu yang masih menyimpan zat radioaktif, serta apa yang disebut Nosovskyi sebagai sumber kuat radiasi gamma dan neutron yang digunakan dalam pengujian perangkat.

Meski terdengar menakutkan, para ahli mengatakan tidak banyak alasan untuk khawatir, setidaknya, tidak lebih dari yang sudah kita khawatirkan sebelumnya.

"Sumber radioaktif yang mudah tersedia di laboratorium dan kantor akan menjadi sumber kalibrasi, bahan yang Anda gunakan untuk mengkalibrasi peralatan deteksi," kata Profesor Bruno Merk, Ketua Penelitian dalam Pemodelan Komputasi untuk Teknik Nuklir di University of Liverpool.

"Sumber radioaktif ini bisa Anda curi di setiap rumah sakit. Akan selalu ada kemungkinan bagi seseorang untuk menyelinap masuk dan mencuri sesuatu. Saya tidak melihat bahwa risikonya lebih tinggi daripada sebelum Rusia menyerbu," jelasnya.

"Jika mereka memiliki plutonium yang bertebaran di kantor, maka mereka telah secara besar-besaran melanggar undang-undang kontaminasi (global). Ada aturan yang jelas dari IAEA (Badan Energi Atom Internasional) untuk ini dan itu sepertinya tidak mungkin," sambung Merk.

Rusia sebelumnya membantah bahwa pasukannya telah membuat fasilitas nuklir di Ukraina dalam bahaya. Sanggahan ini atas respons para pejabat Ukraina yang mengutuk kegiatan pasukan di sekitar PLTN Chernobyl yang dianggap tidak bertanggung jawab.

"Dalam konteks keselamatan nuklir, tindakan prajurit Rusia yang tidak bertanggung jawab dan tidak profesional menghadirkan ancaman yang sangat serius tidak hanya bagi Ukraina tetapi juga bagi ratusan juta orang Eropa," kata Wakil Perdana Menteri Ukraina Iryna Vereshchuk.

Pengangkutan senjata tua dan tidak terawat milik Rusia di sekitar fasilitas Chernobyl berisiko merusak bejana penahan yang melindungi reaktor Unit Empat yang hancur, yang bisa menyebabkan pelepasan sejumlah besar debu radioaktif dan kontaminasi di atmosfer tak hanya di Ukraina, tetapi juga di negara-negara Eropa lainnya.

Sementara itu, laporan dari dalam PLTN yang terkepung mengungkapkan bahwa krisis kemanusiaan sedang terjadi di sana. Para pekerja dipaksa untuk mengambil shift 24 jam dengan akses terbatas ke kebutuhan dasar seperti makanan dan obat-obatan.

Sementara itu, berbagai upaya sedang berlangsung untuk mengamankan ribuan situs nuklir Ukraina lainnya, meskipun ada banyak sumber radioaktif yang tidak ada dalam radar siapa pun, bahkan radar Ukraina sendiri.

Namun demikian, Merk mengatakan ancaman dari bom kotor yang dibuat dari bahan-bahan artefak di Chernobyl tetap rendah. "Ada begitu banyak sumber radioaktif di seluruh dunia. Jika seseorang ingin mendapatkan ini, ada cara yang lebih mudah," yakinnya.



Simak Video "Melihat dari Udara Kota Borodyanka, Korban Pertempuran Rusia-Ukraina"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)