Populasi Serangga Dunia Turun, Dampaknya Bahaya Buat Manusia

Populasi Serangga Dunia Turun, Dampaknya Bahaya Buat Manusia

Rachmatunnisa - detikInet
Selasa, 01 Mar 2022 06:17 WIB
hama padi
Foto: Ilustrasi: Thinstock
Jakarta -

Hilangnya habitat, penggunaan pestisida, dan meningkatnya perubahan iklim, mengancam populasi serangga di seluruh dunia. Pada tahun 2019, Biological Conservation melaporkan bahwa 40% dari semua spesies serangga menurun secara global dan sepertiga dari mereka terancam punah.

Mungkin terdengar menyenangkan bisa hidup tanpa gangguan serangga, terutama yang menjijikkan seperti kecoak. Namun faktanya, seperti disebutkan penulis isu lingkungan Oliver Milman, manusia sebenarnya akan merugi jika hidup tanpa serangga.

Pasalnya, serangga memainkan peran penting dalam penyerbukan tanaman yang kita makan, memecah limbah di tanah hutan, dan membentuk dasar rantai makanan yang diandalkan oleh hewan lain yang lebih besar, termasuk manusia.

"Bumi mungkin akan menjadi tempat mengerikan untuk ditinggali, dan tentu saja bukan sesuatu yang ingin kita tuju," kata Milman seperti dikutip dari NPR.

"Manusia akan mengalami kelaparan massal, dan mungkin kerusuhan sosial. Bumi akan menjadi tempat di mana akan ada kotoran dan mayat yang membusuk di mana-mana karena kumbang kotoran dan serangga lain yang memecah materi itu hilang," ujarnya memberikan gambaran.

Milman mendeskripsikan hilangnya serangga dalam buku barunya "The Insect Crisis: The Fall of the Tiny Empires That Run the World". Dia mengatakan, meskipun tidak mungkin untuk mengetahui secara pasti apa yang terjadi pada setiap spesies serangga di dunia, yang jelas tren keseluruhannya tidak baik.

Contohnya saja, populasi kupu-kupu raja di Amerika Utara telah anjlok dalam 40 tahun terakhir, dan riset PBB yang dilakukan di 2019 menemukan bahwa setengah juta spesies serangga berada di ambang kepunahan, dan beberapa lainnya diprediksi musnah dalam beberapa dekade mendatang.

"Dunia, lingkungan kita, akan jauh lebih sunyi, jauh lebih kusam, jauh lebih menjemukan tanpa serangga," katanya.

"Ketika Anda mulai menggali angka-angka ini dengan melihat penelitian, jelas bahwa ada sesuatu yang salah. Ada penurunan yang konsisten pada sebagian besar populasi serangga, dan itu menimbulkan masalah besar tak hanya bagi mereka, tetapi juga bagi kita manusia," jelas Milman.

Hilangnya serangga berarti munculnya gemuruh kekhawatiran tentang kerawanan pangan. Sebanyak 300% peningkatan volume produksi pertanian bergantung pada penyerbukan hewan dalam 50 tahun terakhir.

Tanpa makhluk-makhluk ini, kita tidak akan memiliki buah-buahan, sayuran, dan sumber makanan. Ketika kita menarik serangga keluar dari dasar rantai makanan, semua yang berada di atasnya akan kacau.

Mereka sangat penting dalam hal fondasi dasar ekosistem hutan dan padang rumput. Dalam hal ini, kita berbicara tentang penempatan tanah sebagai siklus nitrogen melalui tanah yang memastikan bahwa tanaman tumbuh.

"Kita mungkin membenci nyamuk, tetapi mereka menyediakan banyak makanan untuk katak dan juga burung misalnya. Jadi, selain penurunan yang telah didokumentasikan pada serangga, jumlah burung juga dilaporkan menurun di beberapa negara, dan burung yang memakan serangga bernasib jauh lebih buruk daripada burung yang omnivora, seperti burung gagak," kata Milman.

"Serangga memberikan dasar yang sangat penting untuk piramida makanan, dan mereka menyediakan bagian yang sangat penting dari lingkungan kita secara keseluruhan," tutupnya.



Simak Video "Palsukan Kapur Antiserangga, Pasutri di Karanganyar Raup Miliaran Rupiah"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/afr)