Ledakan di Bintang Mirip Matahari Jadi Peringatan untuk Bumi

Ledakan di Bintang Mirip Matahari Jadi Peringatan untuk Bumi

Virgina Maulita Putri - detikInet
Senin, 13 Des 2021 05:40 WIB
Solar Dynamics Observatory milik NASA baru saja merekam solar flare atau suar Matahari, yaitu ledakan terbesar yang terjadi di bintang tersebut sejak tahun 2017. Kini dengan terjadinya solar flare itu, ada kemungkinan Matahari bakal sangat aktif kembali.
Ilustrasi suar matahari Foto: 20detik
Jakarta -

Bintang berjarak 100 tahun cahaya dari Bumi mengeluarkan ledakan dahsyat yang tidak pernah ditemukan sebelumnya. Astronom mengatakan ledakan ini bisa jadi tanda peringatan bagi Bumi.

Bintang bernama EK Draconis itu berada di konstelasi Draco dan memiliki massa yang mirip seperti matahari. Tapi usia EK Draconis masih sangat muda, yaitu sekitar 100 juta tahun, dibandingkan dengan matahari yang berusia 4,6 miliar tahun.

Seperti diketahui, matahari sering melontarkan plasma yang disebut sebagai suar matahari. Suar itu ukurannya bisa kecil, tapi kadang lontaran energi ini bisa jauh lebih besar.

Suar matahari juga bisa meluncurkan plasma super panas ke luar angkasa yang disebut sebagai lontaran massa korona (coronal mass ejection/CME). EK Draconis diketahui baru saja mengeluarkan plasma dalam ledakan dahsyat yang 10 kali lebih besar dari yang pernah dilihat di bintang mirip matahari sebelumnya.

"Hasil ini membantu meningkatkan pemahaman kami tentang bagaimana lontaran massa korona terjadi dalam sejarah bintang seukuran matahari dan matahari kita sendiri selama 4,6 miliar tahun," kata ahli astrofisika di University of Colorado Boulder Yuta Notsu yang merupakan salah satu penulis laporan ini, seperti dikutip dari Gizmodo, Minggu (12/12/2021).

"Meski CME super besar seperti ini lebih sering terjadi di usia muda, event ini bisa menjadi proxy untuk kemungkinan CME super terkait dengan suar super yang mungkin terjadi di matahari sekali dalam ratusan atau ribuan tahun," sambungnya.

Laporan yang diterbitkan di jurnal Nature Astronomy ini mengindikasikan ledakan dengan kekuatan serupa bisa saja terjadi di matahari. Padahal suar matahari berukuran kecil saja bisa menimbulkan dampak yang cukup besar jika mengarah ke Bumi, seperti mengganggu alat elektronik dan orbit satelit.

CME yang berukuran signifikan bisa merusak satelit dan merusak pembangkit listrik. Seperti CME yang terjadi pada tahun 1989 yang mengakibatkan pemadaman listrik di Quebec, Kanada dan hampir menumbangkan pembangkit listrik di Amerika Serikat.

Ilmuwan mengamati EK Draconis pada tahun 2020 selama 32 hari menggunakan teleskop TESS milik NASA dan teleskop SEMEI milik Kyoto University. Suatu malam, mereka melihat bintang ini mengeluarkan suar besar yang diikuti dengan tahap awal CME.

Tahap itu, yang disebut sebagai ledakan filamen, membuat plasma dari EK Draconis melesat dengan kecepatan 1,8 juta km/jam. Notsu mengatakan sejauh ini timnya hanya mengamati tahap awal CME, dan untuk melihat tahap selanjutnya mereka harus mengamati EK Dracnos menggunakan teleskop ultraviolet dan sinar-X.

Notsu menambahkan suar super dari matahari terbilang jarang karena bintang yang usianya lebih tua biasanya lebih tenang. Tapi ia mengingatkan data menunjukkan bahwa matahari pernah melontarkan suar super ke Bumi beberapa kali dalam 10.000 tahun terakhir.



Simak Video "Pengunjung Toserba Matahari Berhamburan Ada Lantai Pecah"
[Gambas:Video 20detik]
(vmp/vmp)