Perusahaan Orang Terkaya di Dunia Ingin Redupkan Cahaya Matahari

Perusahaan Orang Terkaya di Dunia Ingin Redupkan Cahaya Matahari

Rachmatunnisa - detikInet
Minggu, 05 Des 2021 06:30 WIB
Matahari berbentuk cincin di Aceh terjadi saat puncak gerhana matahari cincin terjadi pukul 11.55 WIB. Di Tanah Rencong, GMC menyapa dua kabupaten yaitu Simeulue dan Aceh Singkil.
Ilustrasi Perusahaan Orang Terkaya di Dunia Ingin Meredupkan Cahaya Matahari. Foto: Agus Setyadi
Jakarta -

Amazon, perusahaan yang didirikan salah satu orang terkaya dunia Jeff Bezos, tampaknya berupaya meredupkan cahaya Matahari. Infrastruktur cloud milik Amazon digunakan untuk menghitung berbagai skenario yang mungkin terjadi jika Matahari terhalang.

Memang bukan Bezos yang berencana melakukan ini, melainkan National Center for Atmospheric Research (NCAR). Ide untuk mengurangi cahaya Matahari ini disebut manajemen radiasi Matahari (solar radiation management). Ini bisa saja menjadi upaya terakhir untuk mendinginkan Bumi jika pemanasan global terus berlanjut dan kita gagal mengambil langkah dalam mengendalikannya.

Dikutip dari Gizmodo, Minggu (5/12/2021) metode pendinginan Bumi telah menjadi topik kontroversial di antara para ilmuwan karena tidak ada data yang dapat diandalkan, empiris atau eksperimental, yang dapat membantu kita memahami dampak penuh dari langkah tersebut.

Satu-satunya cara untuk memperkirakannya adalah dengan menggunakan superkomputer yang dapat menjalankan skenario ini dan memberi kita kemungkinan hasilnya.

Beberapa dari 500 superkomputer teratas di dunia ditempatkan di fasilitas penelitian iklim, yang menjalankan model berbeda tentang seperti apa Bumi di masa depan. Namun, menyiapkan superkomputer bukan hanya proses yang mahal tetapi juga memakan waktu. Apa yang ditawarkan Amazon adalah kekuatan infrastruktur cloudnya untuk melakukan perhitungan besar-besaran ini.

Proyek ini sedang dilakukan untuk NCAR, di mana cloud Amazon menjalankan 30 skenario berbeda menggunakan data NCAR untuk memodelkan Bumi antara tahun 2035 dan 2070. Beberapa di antaranya juga mencakup pemblokiran Matahari, meskipun sebagian.

Pendekatan ini menawarkan banyak keuntungan bagi para peneliti yang bekerja pada model iklim. Ini menghilangkan kebutuhan untuk menginvestasikan waktu dalam menyiapkan superkomputer sekaligus membuatnya dapat diakses oleh siapa saja, di hampir semua wilayah dunia.

Kumpulan data dapat disimpan di cloud dan kemudian diintegrasikan ke dalam model sesuai kebutuhan, sementara model itu sendiri dapat dibuat lebih mudah diakses oleh pembuat kebijakan dan masyarakat luas.

Kelly Wanser, direktur eksekutif SilverLining, sebuah organisasi nirlaba yang bekerja pada langkah-langkah untuk melawan pemanasan global, mengatakan bahwa cloud computing telah menjadi cukup canggih untuk mengambil beban kerja yang disediakan untuk superkomputer.

Pertanyaannya sekarang adalah, apa lagi yang bisa dilakukannya? Seiring perkembangan teknologi yang makin maju, kita akan dibuat terkejut melihat lebih banyak lagi kemampuan infrastruktur cloud computing di masa depan.



Simak Video "Tahun 2021 Disebut Peneliti Tahun Terpanas Keenam Sepanjang Sejarah"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/agt)