Fenomena Astronomi Desember 2021: Gerhana Matahari Total dan Bertabur Hujan Meteor

ADVERTISEMENT

Fenomena Astronomi Desember 2021: Gerhana Matahari Total dan Bertabur Hujan Meteor

Rachmatunnisa - detikInet
Kamis, 02 Des 2021 11:04 WIB
The moon moves across the sun during a solar eclipse in Piedra del Aguila, Argentina, Monday, Dec. 14, 2020. The total solar eclipse was visible from the northern Patagonia region of Argentina and from Araucania in Chile. (AP Photo/Natacha Pisarenko)
Fenomena Astronomi Desember 2021: Gerhana Matahari Total dan Bertabur Hujan Meteor. Foto: AP Photo/Natacha Pisarenko
Jakarta -

Berdasarkan kalender astronomi bulan November yang dirilis Pusat Riset Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) - BRIN, ada beberapa fenomena langit yang layak ditunggu.

Seperti bulan November, Desember pun bertabur hujan meteor. Di bulan ini ada gerhana Matahari total, apakah Indonesia bisa melihatnya? Berikut ini rangkumannya seperti dikutip detikINET dari situs Edukasi Sains LAPAN.

3 Desember - Bulan bertemu Mars

Sementara beberapa wilayah dunia menyaksikan okultasi Mars oleh Bulan (saat Mars melintas di belakang Bulan), wilayah yang tak kebagian dapat menyaksikan fenomena konjungsi antara Bulan dan Planet Merah. Fenomena ini terjadi pada 3 Desember dan akan terlihat pada 07.28 pagi waktu setempat.

Fenomena ini sudah bisa terlihat di ufuk timur, 1 jam sebelum Matahari terbit selama 35 menit. Saat itu, Bulan berada di fase sabit akhir dengan iluminasi 2,7%. Posisi Mars berada di magnitudo +5,4, dan konjungsi ini terpisah di sudut 1,3-1,6 derajat.

4 Desember - Super new moon

Saat fase Bulan baru terjadi berdekatan dengan perige Bulan, terjadilah Bulan baru super atau super new moon. Ini adalah fenomena astronomis tahunan. Super new mooon terakhir terjadi pada 17 Oktober 2020, super new moon berikutnya akan terjadi pada 2023, 2024, dan 2025.

Pada super new moon 4 Desember, Bulan baru terjadi pada 02.43 siang waktu setempat, dan Bulan berada di jarak geosentrik 356.805 kilometer dan lebar sudut 33,49 menit busur. Pada pukul 04.57 sore waktu setempat, perige Bulan terjadi di jarak geosentrik 356.796 kilometer dan lebar sudut 33,49 menit busur.

4 Desember - Gerhana Matahari total

Masih di tanggal 4 Desember ada fenomena gerhana Matahari total. Wilayah Antartika bisa menyaksikan fenomena istimewa ini, dikarenakan wilayah Antartika pas terkena umbra Bulan. Sementara Antartika mengalami fase total, wilayah-wilayah ini mengalami gerhana Matahari parsial:

Lebar gerhana kurang dari 10% diameter Matahari:

  • Afrika Selatan
  • Namibia
  • Australia bagian selatan

Lebar gerhana 10-40% diameter Matahari:

  • Kepulauan Malvinas
  • Kepulauan Tierra del Fuego

Lebar gerhana 93-97% diameter Matahari

  • Georgia Selatan
  • Kepulauan Sandwich Selatan

Dimulai pada 10.59 pagi waktu setempat, gerhana Matahari akan penuh pada 12.30 siang waktu setempat dan mencapai fase maksimum pada 01.03 siang waktu setempat. Pada pukul 03.07 sore, barulah gerhana Matahari total berakhir. Durasi totalitas berkisar antara 90-116 detik.

Sayangnya, Indonesia tidak bisa menyaksikan fenomena ini. Menurut LAPAN, gerhana Matahari total ini adalah yang ke-13 dari 70 gerhana Seri Saros ke-152. Selanjutnya, fenomena ini akan terjadi lagi pada pertengahan Desember 2039 dan menjelang akhir Desember 2057.

6-7 Desember - Puncak hujan meteor Phoenicid

Hujan meteor di bulan Desember 2021 akan dibuka oleh hujan meteor Phoenicid. Mencapai puncaknya pada 6-7 Desember, hujan meteor ini terjadi di konstelasi Phoenix dan merupakan sisa debu Komet 289P/Blanpain. Fenomena ini dapat terlihat sejak awal senja bahari pada 6 Desember hingga pukul 02.15 dini hari pada 7 Desember waktu setempat.

Pussainsa LAPAN memprakirakan meteor turun dengan intensitas 51 meteor/jam di Sabang sampai 74 meteor/jam di Pulau Rote. Saat berada di titik puncak/zenit, hujan meteor Phoenicid turun dengan 100 meteor per jam. Untuk bisa melihatnya, langit harus dalam keadaan cerah tanpa polusi cahaya dan bidang pandang terbentang tanpa penghalang.

7-8 Desember - Hujan meteor Puppid-Velid

Seperti namanya, hujan meteor ini terjadi di konstelasi Vela yang berbatasan dengan konstelasi Puppis. Tampak pada 1-15 Desember, hujan meteor Puppid-Velid mencapai puncaknya pada 7-8 Desember, hujan meteor ini adalah sisa debu Komet 96P/Machholz.

Intensitas hujan meteor Puppid-Velid berkisar di 6 meteor/jam untuk kawasan Sabang dan 8 meteor/jam untuk Pulau Rote. Saat di titik zenit, intensitas memuncak di 10 meteor/jam. Fenomena ini terlihat sejak 7 Desember pukul 9 malam waktu setempat hingga akhir fajar bahari (25 menit sebelum Matahari terbit) pada 8 Desember waktu setempat.

9-10 Desember - Puncak hujan meteor Monocerotid

Puncak hujan meteor Monocerotid terjadi di konstelasi Monoceros. Hujan meteor ini adalah produksi sisa debu asteroid 2004 TG10 (yang juga menyebabkan hujan meteor Taurid utara).

Fenomena ini dapat disaksikan pada 9 Desember pukul 07.40 malam waktu setempat hingga pada 10 Desember saat akhir fajar bahari. Hujan meteor ini akan turun dengan intensitas 1,9-2 meteor/jam.



Simak Video "4 Fenomena Astronomi Awal Oktober, Ada Hujan Meteor!"
[Gambas:Video 20detik]

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT