Mitos Gerhana Bulan yang Seram dan Gak Masuk Akal

Mitos Gerhana Bulan yang Seram dan Gak Masuk Akal

Aisyah Kamaliah - detikInet
Jumat, 19 Nov 2021 14:40 WIB
I this Tuesday, July 16, 2019 photo, men stand below street lights as the moon rises during a partial lunar eclipse in Buenos Aires, Argentina. (AP Photo/Natacha Pisarenko)
Mitos Gerhana Bulan yang Seram dan Gak Masuk Akal. Foto: AP/Natacha Pisarenko
Jakarta -

Gerhana Bulan sebagian akan menghiasi langit pada Jumat, 19 November 2021. Ternyata, ada banyak mitos yang dipercaya terkait fenomena gerhana Bulan.

Mitos tersebut mulai dari yang seram, hingga yang tak masuk akal. Yah, namanya juga mitos. Dikutip dari National Geographic, di bawah ini adalah beberapa mitos tentang gerhana Bulan.

1. Melolong di Bulan

"(Suku Inca) sama sekali tidak melihat gerhana sebagai sesuatu yang baik," kata David Dearborn, seorang peneliti di Lawrence Livermore National Laboratory di California, yang telah banyak menulis tentang bagaimana suku Inca memandang astronomi.

Di antara mitos yang terkumpul adalah cerita tentang seekor jaguar yang menyerang dan memakan Bulan. Serangan kucing besar itu menjelaskan warna karatan atau merah darah yang sering terjadi pada Bulan saat terjadi gerhana Bulan total.

Suku Inca takut setelah menyerang Bulan, jaguar akan menabrak Bumi untuk memakan orang, kata Dearborn. Untuk mencegahnya, mereka akan mencoba mengusir predator tersebut dengan mengibaskan tombak ke Bulan dan membuat banyak suara, termasuk memukuli anjing mereka untuk membuat mereka melolong dan menggonggong.

2. Raja pengganti

Orang Mesopotamia kuno juga melihat gerhana Bulan sebagai serangan di Bulan menurut penjelasan E. C. Krupp, director of the Griffith Observatory, Los Angeles, California, AS. Tapi dalam cerita mereka, penyerangnya adalah tujuh iblis.

Budaya tradisional menghubungkan apa yang terjadi di langit dengan keadaan di Bumi. Karena raja mewakili tanah dalam budaya Mesopotamia, orang-orang memandang gerhana Bulan sebagai serangan terhadap raja mereka.

"Kami tahu dari catatan tertulis (bahwa Mesopotamia) memiliki kemampuan yang wajar untuk memprediksi gerhana Bulan," jelasnya. Jadi untuk mengantisipasi gerhana, mereka akan memasang raja pengganti yang dimaksudkan untuk menanggung beban serangan apa pun.

"Biasanya, orang yang dideklarasikan menjadi raja adalah orang yang 'bisa' dibuang," ujar Krupp.

Meskipun penggantinya tidak benar-benar berkuasa, dia akan diperlakukan dengan baik selama periode gerhana, sementara raja yang sebenarnya menyamar sebagai warga negara biasa. Setelah gerhana berlalu, biasanya raja pengganti ini akan menghilang. Mungkin mati karena keracunan.

3. Menyembuhkan Bulan

Mitos gerhana yang diceritakan oleh Hupa, suku asli Amerika dari California Utara lebih baik dari versi-versi sebelumnya. Hupa percaya Bulan memiliki 20 istri dan banyak hewan peliharaan.

Sebagian besar hewan peliharaan itu adalah singa gunung dan ular, dan ketika Bulan tidak memberi mereka cukup makanan untuk dimakan, mereka menyerang dan membuatnya berdarah. Gerhana akan berakhir ketika istri Bulan datang untuk melindunginya, mengumpulkan darahnya dan memulihkan kesehatannya. Demikian penjelasan dari Krupp.

Bagi suku LuiseƱo di California selatan, gerhana menandakan bahwa Bulan sedang sakit. Maka, sudah menjadi tugas anggota suku untuk menyanyikan nyanyian atau doa agar sehat kembali.

4. Matahari dan Bulan bertengkar hebat

Tidak semua budaya memandang gerhana sebagai hal yang buruk menurut Jarita Holbrook, astronom budaya di University of Western Cape, Bellville, Afrika Selatan, dalam sebuah wawancara.

"Mitos favorit saya berasal dari orang Batammaliba di Togo dan Benin," ungkapnya.

Dalam mitos ini, Matahari dan Bulan bertempur saat gerhana, dan orang-orang mendorong mereka untuk berhenti.

"Mereka melihatnya sebagai waktu untuk bersatu dan menyelesaikan perselisihan dan kemarahan yang sudah berlangsung lama. Itu mitos yang bertahan sampai hari ini," pungkas Holbrook.



Simak Video "Ada Gerhana Bulan Sebagian Hari Ini, Catat Jadwalnya!"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/rns)