Membawa Energi Matahari ke Rumah Sendiri

ADVERTISEMENT

Membawa Energi Matahari ke Rumah Sendiri

Ardhi Suryadhi - detikInet
Jumat, 26 Nov 2021 17:40 WIB
Sejumlah warga menikmati sunset atau matahari terbenam akhir tahun 2019 di Pantai Ampenan, Mataram, NTB, Selasa (31/12/2019). Taman Pantai Ampenan menjadi salah satu lokasi alternatif warga Mataram untuk melewati malam pergantian tahun. ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/wsj.
Foto Matahari terbenam. Foto: Antara Foto
Papua -

Kian nyatanya ancaman perubahan iklim membuat kita didorong untuk semakin cepat beralih ke sumber energi terbarukan yang ramah lingkungan. Langkah kongkretnya adalah mengurangi penggunaan energi fosil.

Menurut Ketua Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) Fabby Tumiwa, Indonesia sejatinya kaya akan energi terbarukan yang bisa dipilih sebagai sumber energi pengganti dari Sabang sampai Merauke. Mulai dari yang berasal dari tenaga surya (matahari), tenaga angin, arus air, hingga panas bumi.

"Tetapi yang sangat besar itu potensinya adalah energi matahari. Dari perhitungan kami, potensi energi surya Indonesia itu antara 3,4 terawatt sampai 20 terawatt. Ini 12-74 kali lebih besar dari angka yang dikeluarkan pemerintah. Karena pemerintah hanya bilang potensi energi surya hanya 273 gigawatt, tapi kami bilang tidak," paparnya di sela Media Camp Huawei Indonesia di Raja Ampat, Papua Barat.

"Artinya sampai tahun 2050 kalau seluruh energi kita diganti dengan energi terbarukan yang berasal dari tenaga matahari -- dengan catatan semua potensi sumber energi itu dijadikan listrik yang mana jadi tren sekarang -- dengan potensi yang mencapai 3,4 sampai 20 terawatt itu maka sebenarnya seluruh kebutuhan energi Indonesia bisa dipenuhi oleh energi surya," Fabby melanjutkan.

Nah, kalau malam hari gimana, matahari kan cuma muncul siang? Di sinilah peran teknologi baterai sebagai tempat untuk menyimpan listrik yang dihasilkan pada siang hari. Potensi teknologi baterai di era sekarang ini tentu terbuka lebar, mulai dari sistem manajemennya, daya tahan, hingga teknologi inverter yang menyertainya.

"Ini yang menjadi penting, Kita membutuhkan teknologi penyimpan energi besar, inverter yang bisa menyediakan kapabilitas seperti pembangkit listrik termal yang punya rotational power. Jadi kalau listrik mati bisa menyala lagi," kata Fabby.

Dari sisi penyerapan tenaga kerja pun dibangunnya pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) bisa menghasilkan peluang 'kerja hijau' yang signifikan. Dalam perhitungan AESI, untuk 1 PLTS yang terbangun itu bisa menyerap 30 ribu lapangan kerja dan dampak ekonominya juga besar.

Selain itu, PLTS juga bisa dipakai di semua permukaan, mulai dari daratan, danau sampai lahan pertanian juga bisa. Termasuk bisa dilakukan tak cuma oleh pemerintah, melainkan juga oleh masyarakat luas untuk membawa energi matahari ke rumah mereka sendiri.

"Coba kalau energi panas bumi itu investasinya besar sekali, setiap megawatt itu USD 5-7 juta. tapi kalau PLTS meski skala kecil tapi kalau banyak itu berasa, dan bisa melibatkan gotong royong masyarakat," Fabby menambahkan.

Pun demikian, pemerintah dianggapnya terkesan masih khawatir dampak bisnis yang bisa terjadi. Padahal sejatinya kalau dibilang PLTS itu mahal itu tetapi secara capital cost itu bisa turun drastis.

"Kalau PLTS skala kecil itu Rp 15 juta per kilowatt. Kalau skala besar dengan skema zero capex, tarif listriknya itu bisa 15% lebih murah dari cara konvensional. Usulan ke pemerintah untuk menyediakan pembiayaan berbunga rendah bagi PLTS skala kecil di rumah, sehingga masyarakat tidak berat untuk investasi di awal," tutup Fabby.



Simak Video " Momen Gerhana Matahari Parsial Lintasi Menara Eiffel"
[Gambas:Video 20detik]
(ash/fyk)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT