Studi: Orang Lebih Mau Divaksin Kalau Dibayar

Studi: Orang Lebih Mau Divaksin Kalau Dibayar

tim detikcom - detikInet
Kamis, 28 Okt 2021 06:16 WIB
Scientists are done research on vaccine in laboratory with test tubes on Covid19 Coronavirus type for discover vaccine.
Studi: Orang Lebih Mau Divaksin Kalau Dibayar. Foto: Getty Images/iStockphoto/chayakorn lotongkum
Jakarta -

Studi ungkap bahwa orang-orang cenderung lebih mau divaksin jika diberikan insentif. Menurut data Our World in Data per 25 Oktober 2021, baru 49% yang menerima vaksinasi dosis satu di dunia. Sedangkan untuk vaksin lengkap baru 37,7%. Karenanya, mungkin hal ini dapat dipertimbangkan, untuk memberikan insentif pada orang-orang yang ingin divaksin.

Untuk meyakinkan lebih banyak orang, beberapa negara bagian Amerika Serikat bahkan telah mulai menawarkan insentif keuangan, seperti lotre bernilai jutaan dollar. Padahal, secara logika, sebuah lotere hanya berakhir menguntungkan beberapa orang yang beruntung. Memberikan insentif bagi orang yang mau divaksin pun bukan ide baru. Di masa lalu, insentif keuangan telah membantu penyebaran vaksin human papillomavirus (HPV) di Inggris.

Awal tahun ini, beberapa eksperimen survei di AS menemukan sepertiga dari mereka yang tidak divaksinasi akan tertarik untuk mendapatkan suntikan jika mereka diberi pembayaran tunai yang jumlahnya tidak sedikit. Hasil dari program percontohan dua minggu di North Carolina menunjukkan bahwa insentif dapat benar-benar mempengaruhi minat seseorang untuk divaksin.

Studi dimulai di empat wilayah di negara bagian itu, di mana beberapa klinik menjamin e-money berisi uang USD 25 kepada siapa saja yang datang untuk mendapatkan vaksin COVID-19 atau membawa orang lain ke klinik untuk dosis pertama mereka.

Secara total, klinik membayar sampai hampir 3.000 kartu kepada 1.374 orang hanya dalam dua minggu. Dibandingkan dengan klinik di negara yang sama yang tidak menawarkan insentif keuangan, mereka yang melakukannya tampaknya memiliki lebih banyak penerima vaksin selama masa studi.

Klinik yang bukan bagian dari program percontohan melihat vaksinasi dosis pertama menurun hampir 10% dalam dua minggu penelitian, sedangkan yang merupakan bagian dari program percontohan mengalami peningkatan 46%. Ketika para peneliti mensurvei beberapa pasien yang berpartisipasi dalam program ini, mereka menemukan sejumlah besar orang termotivasi oleh uang.

Dari 401 penerima vaksin yang disurvei, 41% mengatakan e-money adalah alasan penting untuk vaksinasi mereka, dan ini terutama berlaku pada mereka yang berpenghasilan rendah. Hampir 10% dari mereka yang disurvei mengatakan bahwa mereka tidak akan menjalani vaksinasi jika tidak terdapat imbalan tersebut, dan 15% responden mengatakan mereka menunggu untuk mendapatkan suntikan vaksin sampai mereka menemukan klinik yang memiliki e-money atau insentif lainnya.

"Dengan tingkat vaksinasi yang tertinggal di daerah dengan kerentanan sosial yang lebih tinggi, insentif keuangan yang kecil harus dipertimbangkan dalam hubungannya dengan strategi promosi kesetaraan lainnya," para penulis berpendapat.

"Insentif sosial dari e-money juga dapat mendorong orang untuk membantu teman dan keluarga mereka divaksinasi sebagai motivator yang kuat bagi mereka yang ragu-ragu tentang vaksinasi," tambah penulis.

Lagi pula, tidak semua orang yang tidak divaksinasi menentang vaksin. Ada yang ragu dengan vaksin tapi mereka secara aktif mempertanyakan apakah harus vaksin COVID-19 atau tidak. Sementara banyak orang lain apatis, artinya vaksin itu bahkan tidak ada dalam pikiran mereka. Dalam kasus khusus ini, para peneliti berpikir bahwa insentif finansial dapat membantu mengubah ketidakpedulian menjadi antusiasme. Begitu juga bagi anak muda yang tidak takut dengan virus COVID-19, misalnya, mungkin insentif akan memotivasi untuk vaksin.

"Dengan ratusan juta dolar dihabiskan untuk mempercepat vaksinasi COVID-19, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa strategi untuk meningkatkan vaksinasi ini memerlukan investasi yang lebih besar," simpul para peneliti.

Meski begitu, sulit juga untuk mengatakan seberapa baik program ini akan bekerja di wilayah atau negara lain. Studi ini dipublikasikan di JAMA Internal Medicine sebagaimana melansir Science Alert.

Simak juga Video: Indonesia Kaji 'Mixing' Vaksin Booster untuk 2022

[Gambas:Video 20detik]




(ask/afr)