Penampakan Microchip Bersayap, Lebih Kecil dari Butiran Pasir

Penampakan Microchip Bersayap, Lebih Kecil dari Butiran Pasir

Aisyah Kamaliah - detikInet
Kamis, 30 Sep 2021 14:43 WIB
Penampakan microchip bersayap terkecil yang pernah dibuat manusia, tidak lebih besar dari butiran pasir.
Penampakan microchip bersayap terkecil yang pernah dibuat manusia, tidak lebih besar dari butiran pasir (Foto: Northwestern University)
Jakarta -

Penampakan microchip bersayap terkecil yang pernah dibuat manusia ini menarik untuk dibahas. Apa tujuan dibuatnya microchip terbang ini? Lalu apa yang bisa dilakukan oleh microchip bersayap ini?

Terinspirasi oleh cara pohon seperti maple menyebarkan benih mereka menggunakan sedikit lebih dari angin sepoi-sepoi, para peneliti mengembangkan berbagai microchip terbang kecil -- bahkan tidak lebih besar dari sebutir pasir.

Microchip atau 'microflier' terbang ini menangkap angin dan berputar seperti helikopter menuju tanah. Sebagaimana dikutip detikINET dari Science Alert, Kamis (30/9/2021).

Microfliers, yang dirancang oleh tim di Northwestern University di Illinois, dapat dikemas dengan teknologi ultra-miniatur, termasuk sensor, sumber daya, antena untuk komunikasi nirkabel, dan bahkan memori tertanam untuk penyimpanan data.

"Tujuan kami adalah menambahkan penerbangan bersayap ke sistem elektronik skala kecil, dengan gagasan bahwa kemampuan ini akan memungkinkan kami untuk mendistribusikan perangkat elektronik mini yang sangat fungsional untuk merasakan lingkungan untuk pemantauan kontaminasi, pengawasan populasi, atau pelacakan penyakit," kata John A Rogers, dari Northwestern yang memimpin pengembangan perangkat baru ini.

Penampakan microchip bersayap terkecil yang pernah dibuat manusia, tidak lebih besar dari butiran pasir.Penampakan microchip bersayap terkecil yang pernah dibuat manusia, tidak lebih besar dari butiran pasir. Foto: Northwestern University

Tim insinyur ingin merancang perangkat yang akan bertahan di udara selama mungkin dengan tujuan memungkinkan mereka untuk memaksimalkan pengumpulan data yang relevan.

Ketika microflier jatuh di udara, sayapnya berinteraksi dengan udara untuk menciptakan gerakan rotasi yang lambat dan stabil.

"Kami berpikir bahwa kami mengalahkan alam. Setidaknya dalam arti sempit bahwa kami telah mampu membangun struktur yang jatuh dengan lintasan yang lebih stabil dan pada kecepatan terminal yang lebih lambat daripada benih setara yang akan Anda lihat dari tanaman atau pohon," kata Rogers.

"Kami juga mampu membangun struktur terbang helikopter ini dengan ukuran yang jauh lebih kecil daripada yang ditemukan di alam," sambungnya.

Rogers percaya perangkat ini berpotensi dijatuhkan dari langit secara massal dan tersebar untuk memantau upaya perbaikan lingkungan setelah tumpahan minyak, atau untuk melacak tingkat polusi udara di ketinggian yang berbeda.

Namun ada ironi bahwa ini akan berpotensi menciptakan polutan lingkungan baru. Rogers dan timnya menuliskan dalam makalah mereka yakni metode yang efisien untuk pembuangan harus dipertimbangkan secara hati-hati.

Salah satu solusi masalah ini adalah membuat perangkat yang dibuat dari bahan yang secara alami diserap ke lingkungan melalui reaksi kimia dan/atau disintegrasi fisik menjadi produk akhir yang tidak berbahaya. Untungnya, laboratorium Rogers mengembangkan elektronik transien yang mampu larut dalam air setelah tidak lagi berguna.

"Kami membuat sistem elektronik transien fisik seperti itu menggunakan polimer yang dapat terdegradasi, konduktor yang dapat dikomposkan, dan chip sirkuit terpadu yang dapat larut yang secara alami menghilang menjadi produk akhir yang ramah lingkungan saat terkena air," kata Rogers.

"Kami menyadari bahwa pemulihan koleksi mikroflier dalam jumlah besar mungkin sulit. Untuk mengatasi masalah ini, versi yang dapat diserap lingkungan ini larut secara alami dan tidak berbahaya," tandasnya. Penelitian ini sudah dipublikasikan di jurnal Nature.



Simak Video "Studi Plasma Konvalesen: Bisa Jadi Alternatif Namun Efektifitasnya Rendah"
[Gambas:Video 20detik]
(ask/fay)