Polusi Cahaya Bunuh Ratusan Burung Saat Migrasi

Polusi Cahaya Bunuh Ratusan Burung Saat Migrasi

Rachmatunnisa - detikInet
Sabtu, 18 Sep 2021 14:03 WIB
burung mati
Foto: Twitter @MelissaBreyer
Jakarta -

Ratusan bangkai burung bertebaran di Manhattan, New York, Amerika Serikat. Burung-burung ini tewas akibat menghantam gedung pencakar langit yang terang benderang di malam hari.

Kondisi ini diabadikan oleh fotografer Melissa Breyer. Dia memang biasa secara sukarela membersihkan bangkai burung migran yang mati akibat bertabrakan dengan gedung pencakar langit di pusat kota Manhattan. Namun kali ini, jumlah burung yang mati lebih banyak dari biasanya.

Hanya dalam waktu satu jam, Breyer mengumpulkan 226 tubuh burung tak bernyawa dari trotoar di sekitar gedung World Trade Center. Sebanyak 35 lainnya telah mati tetapi jatuh ke area yang tidak dapat dijangkaunya, dan tiga puluh burung tampak masih hidup dan membutuhkan bantuan dokter hewan.

"Ketika menemukan 226 burung migran yang mati di suatu pagi, sulit untuk memotret semuanya dalam satu gambar," tulisnya di Twitter, disertai foto puluhan burung. Banyak di antaranya adalah jenis warbler dalam berbagai warna, termasuk kuning, coklat dan abu-abu.

"Lampu bisa dimatikan, jendela bisa diperbaiki. Tolong lakukan sesuatu," pintanya.

Menurut penelitian oleh NYC Audubon, kelompok yang menjalankan "Project Safe Flight", komunitas relawan yang diikuti Breyer, di New York, sekitar 90 ribu hingga 230 ribu burung terbunuh setiap tahun akibat bertabrakan dengan kaca gedung pencakar langit.

Secara nasional di AS, sebuah studi dari tahun 2019 menemukan bahwa jumlah kematian burung yang disebabkan oleh tabrakan bangunan bisa mencapai satu miliar.

Tabrakan fatal melonjak dua kali setahun selama musim migrasi, tepatnya ketika burung bermigrasi melalui kota-kota besar dalam perjalanan mereka ke dan dari habitat musim dingin mereka di Amerika Tengah dan Selatan.

"Burung terdorong keluar jalurnya oleh polusi cahaya. Mereka sering tertarik pada cahaya lampu kota yang terang," kata Sirena Lao, peneliti di San Francisco Bird Observatory, dikutip dari NPR.

"Jadi burung akan menyimpang dari jalurnya dan terbang menuju kota-kota ini, yang menempatkan mereka ke dalam lingkungan yang lebih banyak bahaya," sambungnya.

Para aktivis lingkungan dan peduli satwa liar telah lama meminta agar gedung-gedung pencakar langit meredupkan lampu yang tidak perlu selama musim migrasi. Seruan ini kembali disuarakan setelah kasus kematian massal burung pekan in ramai dibahas.

Wild Bird Fund, sebuah pusat rehabilitasi yang berbasis di New York, menerima lebih dari 70 burung yang terluka pada hari Selasa, termasuk yang dikumpulkan oleh Breyer.

"Ada langkah mudah yang dapat diterapkan hari ini untuk mengurangi kematian burung yang terjadi di seluruh kota. Matikan semua pencahayaan yang tidak perlu, mulai pukul 11 malam hingga 6 pagi hingga 16 November," cuit grup tersebut.

Sementara itu, pihak World Trade Center menanggapi tweet Breyer, dan berterima kasih padanya karena telah mengungkap masalah ini. "Kami secara aktif mendorong penyewa kantor kami untuk mematikan lampu mereka di malam hari dan sebisa mungkin menurunkan tirai. Kami sedang mengupayakan tindakan pencegahan tambahan," tulis perusahaan itu.



Simak Video "Selain di Bali, Fenomena Burung Pipit Mati Massal Juga Ada di Cirebon"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/rns)