LIPI Rancang Ventilator Pintar dan Inovatif untuk Pasien COVID-19 Kritis

LIPI Rancang Ventilator Pintar dan Inovatif untuk Pasien COVID-19 Kritis

Rachmatunnisa - detikInet
Rabu, 21 Jul 2021 06:15 WIB
Transferring a patient from the emergency area into the ICU
LIPI Kembangkan Ventilator Pintar dan Inovatif untuk Pasien COVID-19 Kritis. Foto: Getty Images/Tempura
Jakarta -

Peneliti Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi (P2ET) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), mengembangkan ventilator yang diberi nama SIVENESIA, singkatan dari Smart Innovative Ventilator Indonesia. Ventilator ini dirancang untuk menangani pasien COVID-19 kritis.

Seluruh fasilitas kesehatan saat ini berjibaku menangani pasien COVID-19. Ketersediaan alat bantu pernapasan seperti ventilator menjadi sangat penting untuk membantu menangani jumlah pasien COVID-19 kritis yang semakin meningkat di setiap fasilitas kesehatan.

Peneliti P2ET LIPI Eko Joni Pristianto beserta tim yang sedang mengembangkan SIVENESIA menjelaskan, ventilator ini dibuat dengan dua mode operasi CPAP dan BiPAP.

Mode CPAP (Continuous Positive Airway Pressure) merupakan ventilator yang menghasilkankan satu level tekanan udara positif yang konstan dan terus menerus diberikan kepada pasien dengan tujuan supaya saluran pernapasan pasien tetap terbuka.

Sedangkan mode BiPAP (Bi-level Positive Airway Pressure) merupakan ventilator yang dapat menghasilkan dua level tekanan udara positif yang berbeda, yaitu pada saat menarik napas (inspirasi) dan pada saat mengembuskan napas (ekspirasi), sehingga lebih nyaman digunakan oleh pasien karena akan mengikuti ritme pernapasan dengan tetap terjaga tekanan di akhir napas atau PEEP (Positive end-expiratory pressure) yang diperlukan.

"Ventilator dengan mode CPAP dan BiPAP ini, biasanya disarankan oleh dokter untuk pasien penderita sleep apnea (gangguan tidur serius), yaitu gejala di mana sistem pernapasan pasien akan berhenti beberapa saat selama tidur, hal ini tentu saja akan mengakibatkan kualitas tidur menjadi buruk," kata Eko seperti dikutip dari keterangan resmi LIPI.

Mode ventilator CPAP atau BiPAP ini, merupakan mode pada ventilator yang bekerja berdasarkan tekanan (pressure based), yang bertujuan untuk mencegah tersumbatnya jalan napas seperti gejala yang banyak dialami oleh penderita COVID-19, serta untuk melatih otot-otot pernapasan sebelum pasien bisa bernapas secara normal.

"CPAP dan BiPAP ini tergolong dalam sistem pengobatan non-invasif (tanpa pembedahan) yang paling efektif dan merupakan pilihan pertama serta paling banyak digunakan untuk pasien yang mengalami gangguan pernapasan," sambungnya.

Perbedaan mode CPAP dan BiPAP

Eko juga menjelaskan, tujuan dari penggunaan ventilator ini adalah menjaga supaya saluran pernapasan pasien tetap terbuka, sementara perbedaan mendasar dari mode CPAP dan BiPAP ini adalah masalah kenyamanan pada saat pasien bernapas.

Pada mode CPAP, ventilator akan bekerja dengan memberikan aliran udara bertekanan positif secara terus menerus (konstan) melalui selang ke hidung dan atau melalui mulut, hal ini bisa menyebabkan kelelahan (tidak nyaman) pada pasien terutama pada saat proses mengembuskan napas (expirasi), pasien harus menggunakan lebih banyak tenaga atau kekuatan untuk melawan tekanan tersebut.

Masalah ini akan sangat terasa menggangu terutama bagi pasien-pasien tertentu yang memiliki penyakit neuromuscular (kelompok gangguan ekstensif yang ditandai dengan adanya perubahan motorik yang dihasilkan oleh cedera atau gangguan syaraf).

Sementara untuk mode BiPAP, ventilator jenis ini akan melakukan pemberian tekanan yang berbeda pada saat pasien bernapas (inpirasi) dan pada saat pasien mengembuskan napas (expirasi) sehingga pasien akan lebih nyaman dalam bernapas dengan tetap terjaga tekanan PEEP yang diperlukan.

"Karena ventilator ini merupakan peralatan medis yang berfungsi sebagai alat bantu pernapasan, maka penggunaan ventilator mode ini harus dengan saran, petunjuk dan pantauan dokter," terangnya.

SIVENESIA telah melalui serangkaian tahapan pengujian, di antaranya adalah pengujian skala laboratorium sebagai tahap awal pengujian, di mana pengujian menitik beratkan kepada masalah teknis dengan mengacu pada standar yang telah ditetapkan.

"Tahap selanjutnya, kami akan melakukan uji klinis SIVENESIA mendapatkan izin edar sebagai wujud diseminasi hasil penelitian kami," tutup Eko.



Simak Video "Fitur Canggih Ventilator Berteknologi Tinggi Buatan Palestina"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/afr)