Riset dan Inovasi di Indonesia Digenjot Buat Lawan COVID-19

Riset dan Inovasi di Indonesia Digenjot Buat Lawan COVID-19

Fitraya Ramadhanny - detikInet
Minggu, 26 Jul 2020 14:11 WIB
Menristek Bambang Brodjonegoro
Menristek/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro (Foto: Istimewa)
Jakarta -

Riset vaksin Corona dan produk kesehatan untuk melawan COVID-19 semakin berkembang. Kemenristek/BRIN memberikan dukungan penuh.

Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang PS Brodjonegoro dalam keterangan resminya, mengatakan vaksin, produk inovasi obat, terapi dan alat kesehatan dibutuhkan di masa pandemi COVID-19 ini. Dunia tidak siap dengan COVID-19, oleh karena itu Indonesia pun bertindak dari sisi riset.

Kemenristek/BRIN langsung memutuskan untuk membentuk konsorsium riset dan inovasi, yuntuk mempercepat penanggulangan pandemi COVID-19. Tim ini tidak hanya melakukan penelitian dan pengembangan tentang vaksin, karena itu butuh waktu lama, tapi juga mencari inovasi.

"Melakukan terobosan inovatif untuk menghasilkan obat dan terapi untuk menanggulangi COVID-19. Antara lain contohnya adalah terapi plasma darah, serta yang tidak kalah pentingnya adalah menciptakan inovasi alat kesehatan, baik untuk membantu pernapasan seperti ventilator, maupun untuk melakukan skrining dan diagnosis seperti penciptaaan produk-produk inovatif rapid test dan PCR tes kit," ungkap Bambang dalam rilis yang diterima detikINET, Minggu (26/7/2020).

Lebih lanjut Bambang menjelaskan dalam pengembangan vaksin menggunakan dua cara. Pertama melalui kerja sama dengan luar negeri. Kedua, dengan pengembangan vaksin mandiri.

"Saat ini sudah dijalankan oleh Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman. Ditargetkan pertengahan tahun depan 2021, sudah bisa diproduksi massal, tentunya sesudah melalui uji klinis terhadap vaksin Merah Putih karya anak bangsa tersebut," ujarnya.

Uji klinis tahap 3 vaksin Corona dari Sinovac di Indonesia, merupakan kerja sama dengan Bio Farma. Jika uji klinis vaksin Sinovac selesai, maka harus dilihat dulu berapa persen tingkat efektivitasnya.

"Nanti akan dilihat apakah vaksin Sinovac yang research and development-nya dilakukan di China cocok dengan virus yang bertransmisi di Indonesia atau tidak," ujarnya.

Bambang mengutip informasi WHO, vaksin Corona yang paling cepat adalah Sinovac dari China, AstraZeneca dari Inggris dan Moderna dari Amerika Serikat. Dia juga mengingatkan tugas BRIN mengintegrasi riset dan pengembangan dari para stakeholder di Indonesia.

Menurut Bambang, Presiden Jokowi ingin Indonesia berbasis pada inovasi. Hilirisasi riset terkait COVID-19 juga perlu didorong.

"Saya ingin kembali mengapresiasi para inventor dan inovator Indonesia, karena kasus COVID-19, mereka mampu menghasilkan produk-produk inovasi, dalam waktu yang sangat pendek. Kemenristek/BRIN juga berhasil menggandeng beberapa mitra industri," kata dia.

Prototipe produk inovasi, sebagai contoh alkes, yang sudah lolos uji dan punya izin edar, akan dilanjutkan ke tahap produksi oleh industri, baik pemerintah (BUMN) atau pihak swasta. Pemerintah nanti bisa menjadi pembeli atau fasilitator promosi kepada mitra industri.

"Produk inovasi karya anak bangsa, sebaiknya ditahap awal pembelinya harus dari Pemerintah, karena tanpa adanya jaminan pembelian, tidak ada pihak yang mau untuk memproduksi. Yang melakukan riset dan inovasi mungkin banyak di Indonesia, tapi yang memproduksi yang tidak mau," pungkas Bambang Brodjonegoro.



Simak Video "Vaksin Merah Putih Ditargetkan Uji Klinis Awal Tahun Depan"
[Gambas:Video 20detik]
(fay/ask)