4 Mitos Aneh dan Seram Tentang Gerhana Bulan

4 Mitos Aneh dan Seram Tentang Gerhana Bulan

Aisyah Kamaliah - detikInet
Rabu, 26 Mei 2021 11:50 WIB
Fenomena gerhana bulan total yang terjadi di dunia memberikan pemandangan yang menakjubkan. Keindahannya pun tampak jelas terlihat hingga negara Jerman.
Gerhana Bulan total akan menghiasi langit pada Rabu, 26 Mei 2021. Ternyata ada banyak mitos terkait fenomena gerhana bulan. Foto: Dok
Jakarta -

Gerhana Bulan total akan menghiasi langit pada Rabu, 26 Mei 2021 ini. Ternyata ada banyak mitos terkait fenomena gerhana bulan.

Gerhana Bulan total terjadi ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berbaris sempurna. Ketika beranjak ke bagian terluar bayangan Bumi, Bulan menjadi benar-benar bermandikan bagian paling gelap dari bayangan itu. Namun hasilnya bukan gelap gulita, melainkan Bulan diselimuti cahaya jingga hingga merah darah.

Dikutip dari National Geographic, di bawah ini adalah beberapa mitos yang dipercaya tentang Gerhana Bulan:

1. Melolong di Bulan

"(Suku Inca) sama sekali tidak melihat gerhana sebagai sesuatu yang baik," kata David Dearborn, seorang peneliti di Lawrence Livermore National Laboratory di California, yang telah banyak menulis tentang bagaimana suku Inca memandang astronomi.

Di antara mitos yang terkumpul adalah cerita tentang seekor jaguar yang menyerang dan memakan bulan. Serangan kucing besar itu menjelaskan warna karatan atau merah darah yang sering terjadi pada bulan saat gerhana bulan total.

Suku Inca takut setelah menyerang bulan, jaguar akan menabrak Bumi untuk memakan orang, kata Dearborn. Untuk mencegahnya, mereka akan mencoba mengusir predator tersebut dengan mengibaskan tombak ke bulan dan membuat banyak suara, termasuk memukuli anjing mereka untuk membuat mereka melolong dan menggonggong.

2. Raja pengganti

Orang Mesopotamia kuno juga melihat gerhana bulan sebagai serangan di bulan menurut penjelasan E. C. Krupp, director of the Griffith Observatory, Los Angeles, California. Tapi dalam cerita mereka, penyerangnya adalah tujuh iblis.

Budaya tradisional menghubungkan apa yang terjadi di langit dengan keadaan di Bumi. Karena raja mewakili tanah dalam budaya Mesopotamia, orang-orang memandang gerhana bulan sebagai serangan terhadap raja mereka.

"Kami tahu dari catatan tertulis (bahwa Mesopotamia) memiliki kemampuan yang wajar untuk memprediksi gerhana bulan," jelasnya. Jadi untuk mengantisipasi gerhana, mereka akan memasang raja pengganti yang dimaksudkan untuk menanggung beban serangan apa pun.