12 Orang Ini Dalang Konten Anti Vaksin COVID-19 Sedunia

12 Orang Ini Dalang Konten Anti Vaksin COVID-19 Sedunia

Aisyah Kamaliah - detikInet
Selasa, 18 Mei 2021 09:15 WIB
Vaksin Covid-19: Mengapa Prancis disebut sebagai lahan subur bagi aktivis antivaksin garis keras?
Ilustrasi antivaksin. Foto: BBC Magazine
Jakarta -

Dalam sebuah studi baru, para peneliti menemukan mayoritas konspirasi anti-vaksin yang beredar di media sosial kemungkinan disebabkan dari pengaruh 12 orang dengan followers banyak di dunia. Mereka bertanggung jawab sekiranya 65% atas semua propaganda anti-vaksin yang salah dan menyesatkan yang dibagikan di Facebook dan Twitter.

Angka itu didasarkan pada analisis lebih dari 812 ribu posting yang diambil dari Facebook dan Twitter antara 1 Februari dan 16 Maret 2021, yang dilakukan dalam penyelidikan oleh Center for Countering Digital Hate (CCDH) dan Anti-Vax Watch, sebuah organisasi yang memantau industri anti-vaksin.

CEO CCDH Imran Ahmed dalam laporannya menyampaikan banyak orang-orang yang tidak memiliki keahlian di bidang medis namun menyalahgunakan kekuasaannya untuk menyesatkan masyarakat dengan menyebar minsinformasi terkait COVID-19.

"Menurut laporan terbaru kami, aktivis anti-vaksin di Facebook, YouTube, Instagram, dan Twitter mencapai lebih dari 59 juta pengikut, menjadikannya platform media sosial terbesar dan terpenting untuk anti-vaxxers," katanya sebagaimana dikutip dari Live Science.

Berdasarkan penelitian, 12 orang yang dijuluki 'disinformation dozen' di dalam studi tersebut antara lain Joseph Mercola, Robert F Kennedy Jr, Ty dan Charlene Bollinger, Sherri Tenpenny, Rizza Islam, Rashid Buttar, Erin Elizabeth, Sayer Ji, Kelly Brogan, Christiane Northrup, Ben Tapper, dan Kevin Jenkins.

Para peneliti mengatakan akun yang berpengaruh ini memiliki banyak pengikut dan menghasilkan volume konten anti-vaksin yang tinggi.

Meskipun belum tentu orang yang membagikan konten anti-vaksin mengikuti salah satu akun tersebut, tetapi analisis baru menunjukkan bahwa mayoritas unggahan anti-vaksin yang dibagikan di platform seperti Facebook dan Twitter awalnya dimulai dari kelompok tersebut.

Penelitian tersebut, yang awalnya dirilis pada bulan Maret, diterbitkan untuk mendesak para pemimpin platform media sosial untuk 'mencabut' suara-suara terkemuka ini. Dalam beberapa minggu sejak itu, beberapa akun telah dilarang atau dibatasi, tetapi yang lain dibiarkan begitu saja. Para peneliti pun bersuara bahwa ini adalah kegagalan yang berbahaya oleh perusahaan teknologi dalam mengendalikan dengan benar dan bertanggung jawab terkait penyebaran kebohongan di platform sosial.

"Tokoh utama dalam 'industri anti-vaxx' adalah kelompok propagandis profesional yang koheren," tulis Ahmed dalam sebuah artikel di Nature Medicine pada awal tahun.

"Ini adalah orang-orang yang menjalankan organisasi multi-juta dolar, yang sebagian besar tergabung di AS, dengan masing-masing sebanyak 60 staf. Mereka membuat manual pelatihan untuk para aktivis, menyesuaikan pesan mereka untuk audiens yang berbeda, dan mengatur pertemuan yang mirip dengan konferensi perdagangan tahunan, seperti industri lainnya," pungkasnya.



Simak Video "Studi Covid-19 Berlangsung di China, WHO Minta Hasil Transparan "
[Gambas:Video 20detik]
(ask/afr)