Ilmuwan Desak WHO Tanggapi Serius Teori Virus Corona Bocor dari Lab

Ilmuwan Desak WHO Tanggapi Serius Teori Virus Corona Bocor dari Lab

Rachmatunnisa - detikInet
Senin, 17 Mei 2021 10:18 WIB
Virus Corona terbaru atau Sars-Cov-2 yang menjadi penyebab COVID-19 memang berbahaya. Tapi tampilannya di bawah mikroskop bisa sangat bertolak belakang.
Foto: NIAID
Jakarta -

Asal usul virus Corona baru hingga saat ini masih belum jelas. Sekelompok ilmuwan terkemuka mendesak organisasi kesehatan dunia WHO menanggapi dengan serius teori yang menyebutkan virus Corona disebabkan kebocoran laboratorium.

Dikutip dari Reuters, Senin (17/5/2021) para ilmuwan tersebut meminta teori ini ditelusuri lebih lanjut hingga ada data yang membuktikannya salah. Untuk diketahui, COVID-19 yang muncul di China pada akhir 2019, telah menewaskan lebih dari 3,34 juta orang.

"Penyelidikan lebih lanjut masih diperlukan untuk menentukan asal mula pandemi," kata 18 ilmuwan antara lain termasuk ahli mikrobiologi klinis dari University of Cambridge Ravindra Gupta, dan peneliti evolusi virus dari Fred Hutchinson Cancer Research Center Jesse Bloom.

"Teori pelepasan secara tak sengaja dari laboratorium dan limpahan zoonosis tetap dapat dipertahankan," tulis salah satu ilmuwan, profesor mikrobiologi di Stanford University David Relman, dalam sebuah surat kepada jurnal ilmiah Science.

Penulis surat mengatakan, penyelidikan WHO tentang asal-usul virus tidak membuat pertimbangan yang adil terkait teori bahwa virus itu mungkin berasal dari insiden laboratorium.

Dalam laporan akhirnya yang ditulis bersama dengan para ilmuwan China, tim WHO yang menghabiskan empat minggu di dan sekitar Wuhan pada Januari hingga Februari mengatakan, virus itu mungkin telah ditularkan dari kelelawar ke manusia melalui hewan lain, dan kebocoran laboratorium adalah sangat tidak mungkin. Namun, ada banyak sekali gagasan berbeda tentang asal-usul virus termasuk serangkaian teori konspirasi.

"Kita harus menganggap serius hipotesis tentang limpahan alam dan laboratorium sampai kita memiliki data yang cukup," kata para ilmuwan, seraya menambahkan bahwa penyelidikan yang cermat dan tidak memihak secara intelektual perlu dilakukan.

"Saat ini terjadi sentimen anti-Asia yang tidak menguntungkan di beberapa negara, kami mencatat bahwa pada awal pandemi, para dokter, ilmuwan, jurnalis, dan warga China yang berbagi informasi penting tentang penyebaran virus kepada dunia, sering kali menggunakan biaya pribadi yang besar," tutup mereka.



Simak Video "WHO Sebut Kasus Corona 2021 Lebih Tinggi dari 2020"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)