Lapan Jepret 'Mata Sahara', Pusaran Raksasa di Afrika
Hide Ads

Lapan Jepret 'Mata Sahara', Pusaran Raksasa di Afrika

Agus Tri Haryanto - detikInet
Jumat, 16 Apr 2021 17:47 WIB
Struktur richat
Foto: NASA/GSFC/MITI/ERSDAC/JAROS, and U.S./Japan ASTER Science Team
Jakarta -

Satelit milik Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) memamerkan hasil foto menakjubkan Mata Aahara dari luar angkasa.

Sebelumnya, Mata Sahara tersebut telah diabadikan oleh satelit negara lain, salah satunya dari NASA. Kini, Mata Sahara dijepret oleh satelit Lapan-A3/Lapan-IPB dari ketinggian 505 km di atas permukaan Bumi.

Mata sahara atau dikenal juga sebagai Struktur Richat (Qalb ar-Risyat) adalah sebuah struktur geologis unik berbentuk melingkar dengan diameter 40 km yang terletak di dataran tinggi Adrar, negara Mauritania, bagian barat laut Afrika.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT


Mata Sahara pertama kali diabadikan dari luar angkasa oleh wahana Apollo 9 pada 10 Maret 1969 atau 52 tahun lalu. Namun sudah setengah abad, fenomena alam ini masih memukau mata, khususnya bagi astronaut yang bertugas di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).

Lapan mengungkapkan bahwa Mata Sahara adalah salah satu fenomena alam yang tidak terkait konspirasi apapun di dalamnya, termasuk mengenai Atlantis.

Peneliti Pusat Sains Antariksa Lapan Andi Pangerang menjelaskan bahwa struktur melingkar seperti ini lazim disebut 'kubah' karena terdiri dari lipatan sedimen magma yang menyembul naik ke permukaan Bumi.

"Lipatan ini disebut juga sebagai antiklin. Antiklin pada Mata Sahara ini sangat simetris dan terkikis membentuk lingkaran sempurna, sehingga struktur ini sempat diduga merupakan bekas tabrakan meteorit," kata Andi dikutip dari situs Lapan.

Andi mengutip dari pernyataan Jacques Richard-Molard di tahun 1984 mempertimbangkan struktur ini sebagai hasil dari thrust (gaya naik) yang mendorong magma ke permukaan Bumi, yang disebut juga thrust lakolit.

Disampaikan Andi berdasarkan penelitian terakhir yang dilakukan Guillaume Matton di 2005 dan 2008 juga mengatakan bahwa Mata Sahara tersebut terbentuk bukan karena tabrakan meteorit atau benda luar angkasa lainnya.

Struktur ini diduga terbentuk sejak 98 juta tahun lalu berdasarkan penanggalan Argon, salah satu penanggalan geologis yang berdasarkan peluruhan kadar Argon di dalam batuan.

"Berarti, Mata Sahara sudah muncul sejak periode kapur (cretaceous) akhir, ketika benua besar Pangea terpisah menjadi beberapa benua yang ada seperti saat ini (kecuali India yang belum menyatu dengan Asia dan Australia yang masih menyatu dengan Antartika)," tuturnya.

Adapun, bagian tengah Mata Sahara, kata Andi, merupakan lapisan tertua dikarenakan magma telah naik lebih dahulu dan kemudian mengeras. Sedangkan, semakin ke tepi, lapisan tersebut berumur semakin muda.




(agt/fay)