Banyak Planet Berair Mirip Bumi, Bisa Dihuni?

Banyak Planet Berair Mirip Bumi, Bisa Dihuni?

Rachmatunnisa - detikInet
Senin, 12 Apr 2021 05:45 WIB
High altitude view of the Earth from space, blue planet with white clouds and deep black space. Elements of this image furnished by NASA.

/urls:
https://images.nasa.gov/details-iss047e137096.html,
https://images.nasa.gov/details-GSFC_20171208_Archive_e000127.html,
https://images.nasa.gov/details-iss013e78960.html,
https://images.nasa.gov/details-iss040e088891.html /
Foto: Getty Images/iStockphoto/Elen11
Jakarta -

Galaksi Bima Sakti punya banyak planet yang berair. Unsur air kemungkinan besar hadir selama pembentukan lebih banyak planet seperti Bumi, sehingga meningkatkan harapan akan keberadaan exoplanet yang lebih layak huni di Bima Sakti.

Dalam sebuah studi terbarunya para peneliti dari GLOBE Institute di University of Copenhagen, Denmark, mengungkapkan bahwa seperti Planet Bumi, Venus, dan Mars yang diciptakan dari partikel debu kecil yang mengandung es dan karbon, kemungkinan ada lebih banyak planet berair yang serupa.

Sebabnya, unsur air yang berwujud cair adalah elemen dasar yang mendukung adanya kehidupan. Untuk diketahui, molekul air H2O ditemukan di mana-mana di galaksi kita. Jadi, ada kemungkinan besar bahwa planet lain mungkin telah terbentuk dengan cara yang sama seperti Bumi, Mars, dan Venus.




Untuk mendukung temuan tersebut, Anders Johansen dan timnya melakukan analisis tentang bagaimana planet terbentuk. Setelah melakukan penelitian secara menyeluruh, mereka menyimpulkan bahwa sebagian besar planet dibentuk oleh partikel debu es dan karbon berukuran milimeter, yang mengorbit di sekitar semua bintang muda di Bima Sakti. Sekitar 4,5 miliar tahun yang lalu, partikel yang sama bertambah dalam pembentukan planet Biru yang kita sebut Bumi.

"Sampai titik di mana Bumi telah tumbuh hingga 1% dari massanya saat ini, planet kita tumbuh dengan menangkap massa kerikil yang diisi dengan es dan karbon," kata Johansen yang memimpin penelitian ini, dikutip dari Republic World.

Bumi membutuhkan waktu hampir lima juta tahun untuk terbentuk seperti yang kita kenal sekarang. Suhu di permukaan meningkat tajam, menyebabkan es di kerikil menguap saat turun ke permukaan sehingga saat ini, hanya 0,1% dari planet ini yang terdiri dari air, meski 70% permukaan Bumi tertutup air," sambungnya.

Dia menambahkan, timnya mengajukan teori 'pertambahan kerikil', yang diteliti secara ekstensif selama lebih dari 10 tahun. Teori tersebut menyatakan bahwa planet-planet secara bertahap meningkat dalam ukuran menjadi lebih layak huni dan luas dengan mengelompok bersama.

"Semua planet di Bima Sakti mungkin dibentuk oleh blok bangunan yang sama, artinya planet dengan jumlah air dan karbon yang sama dengan Bumi. Ini menyiratkan ada tempat potensial di mana kehidupan mungkin ada, yang sering terjadi di sekitar bintang lain di galaksi kita, asalkan suhunya tepat," katanya.

Sementara itu, rekan penulis studi, Profesor Martin Bizzarro, mendukung teori yang mengatakan bahwa semua planet mendapatkan jumlah air yang sama. Hal ini secara khusus menunjukkan bahwa mungkin ada lebih banyak exoplanet yang dapat dihuni di Bima Sakti yang tidak hanya memiliki jumlah air dan lautan yang sama, tetapi juga jumlah benua yang sama seperti di Bumi.

"Ini memberikan kesempatan yang baik bagi munculnya kehidupan. Tim kami menggunakan teleskop canggih untuk mengamati lebih banyak exoplanet yang mengorbit bintang selain Matahari untuk menemukan exoplanet yang lebih layak huni di mana jejak air dapat ditemukan," tutupnya.



Simak Video "Ilmuwan Mendeteksi Permukaan Venus Bergerak Seperti Bumi"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/rns)