Saatnya Bersih-bersih Sampah Luar Angkasa, Pakai Apa?

Saatnya Bersih-bersih Sampah Luar Angkasa, Pakai Apa?

Rachmatunnisa - detikInet
Rabu, 31 Mar 2021 10:15 WIB
Perangkat luar angkasa Rusia dan China tidak jadi tabrakan, tapi bagaimana dengan sampah luar angkasa lainnya?
Foto: BBC World
Jakarta -

Sampah satelit dan benda lain yang dikirim manusia ke luar angkasa, berisiko bertabrakan dengan objek lain di orbit Bumi. Sebuah startup teknologi luar angkasa sedang menguji cara untuk bersih-bersih sampah luar angkasa.

Pada 22 Maret, Astroscale, sebuah startup yang berbasis di Tokyo, Jepang, bekerja sama dengan badan antariksa nasional Jepang, JAXA, meluncurkan mesin pengangkut sampah luar angkasa magnetik bernama End of Life Services by Astroscale demonstration atau ELSA-d.

Proyek tersebut terdiri dari dua pesawat luar angkasa. Salah satunya adalah satelit seukuran kulkas mini seberat 175 kilogram yang dilengkapi dengan magnet. Benda satunya lagi adalah yang berbentuk seperti beberapa kotak pizza yang ditumpuk dan memiliki pelat magnet bundar.

Penerbangan pertama mereka adalah misi demonstrasi, yang dirancang untuk menguji seberapa baik satelit yang lebih besar dapat mengejar dan menangkap satelit yang lebih kecil, sebagai target latihan. Apakah solusi ini akan bisa menghilangkan sampah luar angkasa?

Jika semuanya berjalan dengan baik, skema seperti ini mungkin menjadi langkah pertama dalam menghilangkan konstelasi logam yang mengorbit Bumi. Menurut perkiraan NASA, setidaknya ada 23 ribu unit muatan yang dibuang, terdiri dari badan roket, dan puing-puing lainnya yang panjangnya lebih dari 10 cm mengelilingi planet ini.

Selain itu, ada 500 ribu benda kecil lainnya dengan panjang antara 1 cm hingga 10 cm. Semua benda ini bergerak setidaknya 18.000 mil per jam dan dapat bertahan selama beberapa dekade sebelum masuk kembali ke atmosfer Bumi dan terbakar.

Saat berada di orbit, mereka menimbulkan risiko bagi satelit komunikasi komersial, pengorbit ilmiah dan cuaca, dan tentu saja Stasiun Luar Angkasa Internasional yang saat ini menjadi rumah bagi para astronaut yang sedang bertugas.

"Kami harus membuat orang sadar bahwa untuk mengurangi jumlah puing yang ada, kami harus memastikan bahwa satelit apa pun yang akan diluncurkan ke depannya dapat dihilangkan dengan lebih mudah. Karena semakin banyak satelit yang diluncurkan, risiko tabrakan semakin tinggi," kata Chief Operating Officer Astroscale dan mantan pejabat NASA Chris Blackerby.

Jika proyek ELSA-d berhasil, tim Astroscale akan mulai merencanakan misi kedua untuk mengambil pendorong roket tingkat atas Jepang yang mati sekitar tahun 2023. Astroscale juga sedang mengerjakan ide lain untuk menghilangkan puing-puing dan sampah luar angkasa yang lebih tua, salah satunya menciptakan lengan robotik yang saat ini masih dirancang.



Simak Video "LAPAN Berharap Ambisi Komersialisasi Antariksa Menular ke Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/rns)