SpaceX dan OneWeb Berlomba Hadirkan Internet di Kutub Utara

SpaceX dan OneWeb Berlomba Hadirkan Internet di Kutub Utara

Rachmatunnisa - detikInet
Selasa, 30 Mar 2021 07:45 WIB
Penjelajah Kutub Utara, Hilde Falun Strom dan Sunniva Sorby
Ilustrasi penjelajah Kutub Utara. Foto: Hearts in the Ice/CNN
Jakarta -

Perusahaan internet satelit SpaceX dan OneWeb berlomba-lomba menyediakan internet broadband di wilayah garis lintang paling utara Bumi. Ini merupakan dampak dari kawasan Arktik yang mencair dan mulai meningkatkan permintaan dan persaingan untuk internet.

Peluncuran 36 satelit OneWeb milik Inggris pekan ini semakin mendekati tujuannya untuk menyebarkan internet ke wilayah tersebut pada akhir tahun. Sementara itu, SpaceX melalui Starlink yang sudah menyediakan internet bagi ribuan konsumen melalui program beta, mengincar area yang sama.

Miliaran dolar dana pemerintah AS dan Inggris dipertaruhkan untuk perusahaan yang dapat menghubungkan kawasan ini dengan internet. Wilayah Arktik bagaikan "gurun broadband" bagi militer AS, dan Inggris bersedia mengeluarkan banyak uang untuk menghubungkan daerah pedesaan, termasuk wilayah kutub agar terhubung ke internet.

Berbeda dengan konstelasi Starlink SpaceX yang mengorbit planet lebih dekat di sepanjang garis khatulistiwa, orbit OneWeb adalah dari kutub ke kutub. Itu artinya, wilayah utara dan selatan paling selatan yang biasanya sepi dari akses internet akan segera menjadi persimpangan satelit yang ramai untuk jaringan mereka.

Chief Government Affairs OneWeb Chris McLaughlin mengatakan, generasi berikutnya dari satelit OneWeb mungkin akan memiliki tautan optik yang memungkinkan satelit untuk berkomunikasi satu sama lain di luar angkasa. Cara ini bisa mengurangi kebutuhan lahan untuk stasiun di Bumi yang biayanya mahal dan sulit dijangkau di Kutub Utara.

"Konstelasi 648 satelit yang direncanakan OneWeb jauh lebih kecil daripada SpaceX. Tapi lebih sedikit lebih baik," kata McLaughlin, dikutip dari The Verge.

Menurutnya, satelit di ketinggian yang lebih tinggi dapat memancarkan sinar ke petak Bumi yang lebih luas. Analoginya seperti kita menyinari meja menggunakan senter yang kita taruh di atasnya, dan kerucut cahaya akan semakin lebar ketika semakin jauh kita menarik senter ke atas.

"Kelemahan satelit di ketinggian yang lebih tinggi adalah latensi yang lebih besar, atau waktu yang dibutuhkan untuk mentransfer data antara satelit dan tujuannya," kata McLaughlin.

SpaceX, di sisi lain, lebih maju dengan jaringan satelitnya, didorong oleh putaran pendanaan yang tinggi dan uang tunai yang dikucurkan Elon Musk selaku pemilik perusahaan. Perusahaan teknologi luar angkasa ini telah meluncurkan lebih dari 1.300 satelit Starlink ke orbit yang lebih rendah dari konstelasi OneWeb, dan itu hanya sebagian kecil dari konstelasi 30.000 satelit yang direncanakan.

Tahun ini, SpaceX meluncurkan fase beta terbuka untuk konsumen di AS, Inggris, Kanada, Jerman, dan Selandia Baru, dengan menawarkan kit terminal Starlink seharga USD 499 dan berlangganan USD 99 per bulan kepada setidaknya 10.000 pengguna. Sejauh ini banyak yang senang dengan jaringan tersebut.

SpaceX mendapat persetujuan peraturan pada menit-menit terakhir untuk meluncurkan 10 satelit Starlink yang mengorbit kutub pertamanya pada bulan Januari, dan sedang melobi Komisi Komunikasi Federal untuk mendapatkan izin memasang lebih banyak satelit di orbit kutub, di mana ia dapat menghadirkan layanan broadband berkualitas tinggi di daerah paling terpencil di Alaska.



Simak Video "Detik-detik Roket SpaceX Luncurkan 60 Satelit Internet"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/afr)