Rahasia Kecoak Bisa Bertahan Hidup Meski Kepalanya Buntung

Rahasia Kecoak Bisa Bertahan Hidup Meski Kepalanya Buntung

Rachmatunnisa - detikInet
Kamis, 28 Jan 2021 09:40 WIB
kecoak
Rahasia Kecoak Bisa Bertahan Hidup Meski Kepalanya Buntung. Foto: IFL Science
Jakarta -

Kecoak, meski sebagian orang jijik memandangnya, punya reputasi sebagai hewan tangguh. Mereka adalah salah satu dari sedikit makhluk yang dapat bertahan hidup tanpa kepala.

Bagi kebanyakan makhluk hidup, tidak ada kepala pada dasarnya adalah akhir dari segalanya. Tubuh kehilangan kendali atas detak jantung dan paru-paru sehingga sulit untuk bertahan hidup.

Herannya, kecoak dapat hidup selama beberapa minggu setelah kepalanya terpenggal. Sejumlah penelitian menunjukkan, kecoak bisa selamat meski kepalanya buntung dengan pembekuan di leher.

Pernapasan mereka terjadi melalui lubang kecil di tubuh mereka yang disebut spirakel yang tidak dikendalikan oleh otak. Karena kecoak berdarah dingin, mereka membutuhkan lebih sedikit makanan dan dapat hidup berminggu-minggu dengan makanan yang mereka makan sebelum hari kepala mereka terpenggal.

Selain itu, seperti dikutip dari IFL Science, mereka memiliki ganglia di seluruh tubuh mereka. Ganglia membantu mereka masih bisa bereaksi terhadap rangsangan. Misalnya, dalam sebuah uji coba, peneliti mendorong tubuh mereka dengan pena. Nyatanya, mereka masih bisa berdiri dan bergerak, tanpa kepala!

Nasib kepala kecoak pun tak kalah menakjubkan. Tanpa tubuh, kepala kecoak bisa bertahan hidup selama berjam-jam setelah keduanya terpisah. Jika nutrisinya cukup, mereka bisa bertahan lebih lama lagi, meski tidak selama tubuh mereka.

Tahan Radiasi dan Ledakan Nuklir

Klaim tentang kecoak mampu bertahan hidup dari ledakan nuklir berasal dari mitos bahwa hewan ini akan mewarisi Bumi pascaperang nuklir setelah AS menjatuhkan bom atom di kota Hiroshima dan Nagasaki, Jepang pada 1945.

Setelah ledakan bom atom tersebut, kemudian muncul sebuah laporan yang mengklaim bahwa serangga ini satu-satunya yang hidup di antara puing reruntuhan Hiroshima dan Nagasaki.

Untuk menguji apakah mitos itu benar atau hanya sekedar isu, tim Discovery Chanel MythBuster melakukan pengujian dengan menggunakan satu set kecoak kecil atau yang lebih dikenal sebagai kecoak Jerman dalam tiga tingkat radioaktif logam kobalt 60. Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan bertahan hidup mereka dalam tingkat radiasi tertentu.

Semua kecoak dimulai dengan paparan awal 1.000 unit radon (rad) kobalt 60, dengan kemampuan membunuh manusia hanya dalam waktu 10 menit. Kemudian berlanjut dengan 10.000 dan 100.000 eksposur rad pada kelompok kecoak yang terpisah. Sebagai perbandingan, bom atom di Hiroshima memancarkan sinar radioaktif gamma pada kekuatan sekitar 10.000 rad.

Karena radiasi secara bertahap menghancurkan organisme pada tingkat sel, para peneliti memantau kecoak yang terpapar selama 30 hari. Setelah sebulan, setengah kecoak yang terpapar 1.000 rad masih bergerak, dan yang luar biasa, 10% dari kelompok yang terpapar 10.000 rad mampu bertahan hidup.

Kelompok 10.000 rad memperlihatkan bahwa kecoa mampu bertahan hidup dari ledakan nuklir, tetapi hanya untuk poin tertentu, dan tidak ada kecoak di kelompok 100.000 rad berhasil bertahan hidup.

Kemampuan kecoak untuk bertahan dari paparan radiasi ekstrem disebabkan oleh sistem tubuh mereka yang sederhana dan siklus sel yang lebih lambat. Sel adalah bagian yang paling sensitif dari radiasi nuklir ketika melakukan pembelahan. Itulah sebabnya, manusia lebih rentan terhadap paparan radiasi karena memiliki banyak sel yang terus melakukan pembelahan dan pembaruan dalam siklus sel.



Simak Video "Harpa Tanpa Senar, Teknologi Unik di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/afr)