Cara Kerja Seismometer, Alat Pencatat Gempa dan Kekuatannya

Cara Kerja Seismometer, Alat Pencatat Gempa dan Kekuatannya

Puti Yasmin - detikInet
Selasa, 26 Jan 2021 11:16 WIB
Petugas mengukur panjang amplitudo letusan Gunung Anak Krakatau (GAK) dari data rekam seismograf di Pos Pengamatan GAK Pasauran, Serang, Banten, Kamis (27/12/2018). PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) menaikan status GAK dari WASPADA ke level SIAGA sejak Kamis (27/12) karena frekwensi letusan meningkat dengan amplitudo rata-rata 25 milimeter diiringi dentuman cukup keras. ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman/hp.
Cara Kerja Seismometer, Alat Pencatat Gempa dan Kekuatannya (Foto: ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman)
Jakarta -

Bencana gempa bisa terjadi kapan saja dan di mana saja. Untuk mengetahui ukuran kekuatannya, bisa menggunakan alat seismometer.

Indonesia menjadi salah satu wilayah yang rawan mengalami gempa baik tektonik maupun vulkanik. Hal itu dipengaruhi dari letak geografis Indonesia di antara dua lempeng sehingga memiliki alat seismometer menjadi bagian yang penting.

Seismometer:

Seismometer adalah alat atau sensor getaran yang digunakan untuk mendeteksi getaran pada permukaan tanah, misalnya gempa atau ledakan. Alat ini bekerja berdasarkan prinsip pendulum atau beban, di mana alat digantung dan akan bergerak jika terdapat getaran.

Seismometer digantung terbalik untuk meningkatkan kepekaan terhadap getaran. Pada beban itu terdapat juga pena dan gulungan kertas.

Gerakan yang dibuat oleh seismometer ini akan dicatat ukurannya melalui sebuah pena dan gulungan kertas yang melilit di samping seismometer, dan dikenal dengan nama seismograf.

Cara kerja seismograf yakni mengukur dan mencatat gempa bumi dengan mengeluarkan gambaran garis naik-turun di sebuah gulungan kertas. Hasil gerakan tersebut dikenal dengan nama seismogram.

Cara membaca seismogram, garis tersebut dibaca dari Barat/Timur (kiri/kanan) atau dari Utara/Selatan (atas/bawah). Kemudian, semakin tinggi atau lebar garisnya maka semakin besar getarannya.

Sementara itu, pada tahun 2019 tercatat sebanyak 194 seismometer telah dipasang di seluruh Indonesia. Langkah ini dilakukan guna memberikan informasi atau peringatan kepada masyarakat sekitar.

  • Sejarah Seismometer

Seismogram pertama kali diproduksi oleh seorang fisikawan dari Italia bernama Filippo Cecchi pada tahun 1875. Alat tersebut telah menggunakan pendulum untuk mengecek getaran.

Alat itu juga menggunakan jarum logam yang ditempelkan pada sebuah massa yang tertutup. Seiring berkembangnya waktu, jarum diganti dengan pulpen tinta sehingga bisa melihat ukuran getaran.

Saat ini, seismometer telah berhubungan dengan komputer melalui sinyal sehingga secara otomatis terekam. Bahkan, beberapa seismometer telah dilengkapi dengan sensor elektromagnetik.



Simak Video "Warga Sulbar Bantu Bongkar Sekolah Terdampak Gempa"
[Gambas:Video 20detik]
(pay/erd)