Karena COVID-19, Travelling Mungkin Butuh Paspor Vaksin Corona

Karena COVID-19, Travelling Mungkin Butuh Paspor Vaksin Corona

Rachmatunnisa - detikInet
Selasa, 29 Des 2020 09:50 WIB
PM Israel Benjamin Netanyahu disuntik vaksin Pfizer-BioNTech. Ia dan Menteri Kesehatan Israel diketahu jadi yang pertama disuntik vaksin COVID-19 di negara itu.
Karena COVID-19, Travelling Mungkin Butuh Paspor Vaksin Corona. Foto: AP Photo/AMIR COHEN
Jakarta -

Vaksinasi untuk menghambat laju penyebaran virus Corona sudah dimulai di sejumlah negara. Orang-orang mulai berpikir, di masa depan mungkin kita akan perlu dokumen vaksin pada paspor saat akan travelling.

Gambarannya kira-kira mungkin seperti calon jemaah haji atau umroh yang harus menyertakan dokumen kuning vaksin meningitis di paspor mereka, ketika akan masuk ke Arab Saudi.

Saat ini beberapa perusahaan dan grup teknologi telah mulai mengembangkan aplikasi atau sistem smartphone bagi individu untuk mengunggah rincian tes dan vaksinasi COVID-19 mereka. Aplikasi semacam ini membuat kredensial digital yang dapat ditampilkan ketika mereka akan memasuki tempat konser, stadion, bioskop, kantor, atau bahkan suatu negara.

Salah satu yang mengembangkan teknologi semacam itu adalah The Common Trust Network, sebuah inisiatif oleh organisasi nirlaba The Commons Project dan World Economic Forum yang berbasis di Jenewa. Mereka telah bermitra dengan beberapa maskapai penerbangan termasuk Cathay Pacific, JetBlue, Lufthansa, Swiss Airlines, United Airlines dan Virgin Atlantic, serta ratusan sistem kesehatan di seluruh Amerika Serikat.

Aplikasi yang mereka buat, bernama CommonPass, memungkinkan pengguna mengupload data medis seperti hasil tes COVID-19 atau bukti vaksinasi oleh rumah sakit atau medis profesional. CommonPass akan menampilkan sertifikat kesehatan dalam bentuk kode QR yang dapat ditunjukkan kepada pihak berwenang tanpa mengungkapkan informasi sensitif.

Untuk keperluan perjalanan, aplikasi ini akan mencantumkan persyaratan izin kesehatan di titik keberangkatan dan kedatangan berdasarkan rencana perjalanan yang bersangkutan.

"Anda dapat dicek setiap kali melintasi perbatasan, Anda tidak perlu divaksinasi setiap kali melintasi perbatasan," kata Chief Marketing and Communications Officer Commons Project Thomas Crampton, seperti dikutip dari CNN Business.

Dia menekankan perlunya satu set kredensial yang sederhana dan mudah dialihkan, atau semacam kartu kuning digital yang mengacu pada dokumen kertas yang umumnya dikeluarkan sebagai bukti vaksinasi.

Perusahaan teknologi besar juga ikut mengembangkannya. IBM mengembangkan aplikasinya sendiri yang bernama Digital Health Pass. Aplikasi ini memungkinkan perusahaan dan tempat penyelenggaraan sebuah acara menyesuaikan indikator yang mereka perlukan untuk menyertakan hasil tes virus Corona, pemeriksaan suhu, dan catatan vaksinasi. Kredensial yang sesuai dengan indikator tersebut selanjutnya akan disimpan di dompet digital.

Dalam upaya untuk mengatasi tantangan di era new normal setelah vaksin didistribusikan secara luas adalah, para developer aplikasi mungkin harus menghadapi tantangan lain, mulai dari masalah privasi hingga mewakili beragam efektivitas vaksin yang berbeda.

Tetapi tantangan yang paling mendesak mungkin menghindari implementasi terputus-putus dan beragam keberhasilan upaya teknologi sebelumnya untuk mengatasi krisis kesehatan masyarakat, yaitu pelacakan kontak orang yang terpapar COVID-19.



Simak Video "Momen Kedatangan Vaksin COVID-19 di Gorontalo"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/afr)