Gawat, Tawon Pembunuh Masuki Fase Pembantaian

Gawat, Tawon Pembunuh Masuki Fase Pembantaian

Fino Yurio Kristo - detikInet
Kamis, 08 Okt 2020 06:14 WIB
Tawon Pembunuh
Tawon pembunuh memangsa lebah madu. Foto: YouTube
Washington -

Tawon raksasa Asia yang sering dijuluki tawon pembunuh, Vespa mandarinia, masih berkeliaran di Amerika Serikat, terutama di negara bagian Washington. Terdeteksi sejak Desember tahun silam, otoritas setempat kini berusaha menemukan sarang mereka sebelum 'fase pembantaian' tiba.

Dalam dua minggu terakhir, enam ekor tawon pembunuh telah tertangkap atau terlihat di sana. Fase pembantaian sendiri adalah saat di mana para tawon itu akan membunuh kawanan lebah madu, salah satu mangsa kegemaran mereka.

"Tawon pembunuh Asia pada saat seperti ini akan mulai menuju apa yang kami sebut sebagai fase pembantaian," kata Sven Eri Spichiger, ahli ilmu serangga di Departemen Pertanian yang dikutip detikINET dari Guardian.

Hal itu mencemaskan lantaran kawanan lebah yang penting bagi beberapa tanaman di sana. Petani bergantung pada lebah madu untuk melakukan penyerbukan tanaman seperti apel, cherry dan blueberry. Spesies invasif semacam tawon pembunuh ini bisa memperburuk kondisi ekologi.

Pada fase pembantaian, tawon pembunuh akan menyerang koloni lebah madu, memutilasi mangsanya itu sebagai makanan untuk tawon lebih muda. Lebah madu tidak punya pertahanan diri untuk menghadapinya.

Seekor lebah madu dalam keadaan hidup tertangkap pada September silam. Sayangnya, upaya untuk menemukan sarangnya belum membuahkan hasil. Sejumlah jebakan telah dipasang dan warga diminta melapor jika melihat penampakannya.

Walau terutama mengancam lebah madu, tawon pembunuh tersebut juga bisa menyengat manusia dan dalam kasus tertentu, dapat berakibat kematian. Di Jepang, salah satu negara di mana banyak populasi tawon pembunuh, diperkirakan 50 orang meninggal dunia tiap tahun karena tersengat olehnya.

Sejauh ini belum diketahui bagaimana proses tawon pembunuh itu bisa sampai di AS, mungkin tak sengaja terangkut kontainer. Kedatangan spesies asing ini menimbulkan ketakutan karena mungkin saja akan tinggal secara permanen di AS.

"Kita harus mengajari orang tentang bagaimana mengenali dan mengidentifikasi tawon ini ketika populasinya masih kecil, sehingga bisa memberantasnya saat kita masih punya kesempatan," cetus Todd Murray, spesialis spesies invasif.

Saking waspadanya mereka, dibuatlah aplikasi smartphone untuk warga agar mereka dapat melapor segera begitu melihat ada tawon pembunuh. "Jika melihatnya, orang-orang harus melaporkannya sesegera mungkin," kata ilmuwan Tim Lawrence.



Simak Video "Sarang Pertama Tawon Raksasa Asia Ditemukan di AS, Ilmuwan Bergerak!"
[Gambas:Video 20detik]
(fyk/afr)