Berlomba-lomba Cari Obat Corona, Remdesivir Sudah Maksimal?

Berlomba-lomba Cari Obat Corona, Remdesivir Sudah Maksimal?

Aisyah Kamaliah - detikInet
Jumat, 02 Okt 2020 17:50 WIB
ilustrasi obat
Ilustrasi obat corona. Foto: iStock
Jakarta -

Pengembangan vaksin corona angkanya semakin bertambah, kini sudah mendekati 200 vaksin dan enam di antaranya sudah memasuki uji coba tahap 3. Tapi sebelum bicara vaksin corona, ada hal yang lebih dahulu diperhatikan.

Prioritas ialah menemukan pengobatan yang tepat untuk mengatasi COVID-19. Jujur saja, vaksin bukanlah salah satunya senjata untuk melawan penyebaran musuh tak kasat mata ini. Vaksin butuh waktu untuk dikembangkan dan didistribusikan.

Sementara itu, orang-orang akan tetap terpapar virus karena ada di antara mereka yang mungkin tidak mendapatkan imunisasi. Belum lagi tidak ada jaminan semua vaksin akan efektif bagi setiap orang, terutama untuk mereka yang berisiko tinggi -- para manula.

Mengutip Stat News, Jumat (2/10/2020) vaksin flu tahunan yang hanya mengurangi risiko penyakit 40% hingga 60%, bahkan di tahun-tahun ketika vaksin tersebut cocok dengan strain virus yang tersebar.

Untuk memperingkas, pengobatan adalah bagian penting dari pertarungan COVID-19 karena dua alasan. Pertama, ini adalah alat yang sangat diperlukan untuk mengelola pandemi sebelum vaksin tersedia, yang bahkan kita sendiri belum tahu kapan pastinya. Kedua, bahkan setelah vaksin tersedia, pengobatan akan menjadi penyangga yang penting untuk menangani penyakit akibat ketidaksempurnaan dalam efektivitas vaksin.

Sejauh ini, hanya dua obat yang menunjukkan efek terapeutik terhadap COVID-19 dalam uji klinis acak yakni remdesivir antivirus dan deksametason steroid umum. Remdesivir mengurangi waktu pemulihan untuk pasien yang terinfeksi dan deksametason mengurangi mortalitas pada pasien yang paling parah terdampak.

Baru-baru ini juga, peneliti dari Florida mengembangkan metode perawatan COVID-19 dan mengklaim tingkat kesuksesan mereka mendekati sempurna. AdventHealth Ocala menyebut terapi obat ini dengan sebutan ICAM.

"Protokol ICAM memiliki potensi untuk memicu pembukaan kembali negara. Kami akan mengetahui langkah selanjutnya setelah penelitian rawat jalan kami," kata Dr Carlette Norwood-Williams, Director of Pharmacy di AdventHealth Ocala. Sejak April, para ilmuwan melihat adanya 96,4% survival rate dari pasien COVID-19 dengan ICAM.



Simak Video "Indonesia Kantongi Lebih dari 141 Juta Dosis Vaksin COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(ask/fay)