Menguak Misteri Ratusan Ribu Burung Bertingkah Aneh dan Mati Massal

Menguak Misteri Ratusan Ribu Burung Bertingkah Aneh dan Mati Massal

Fino Yurio Kristo - detikInet
Jumat, 18 Sep 2020 05:20 WIB
Burung mati massal
Salah satu burung yang tewas. Foto: Twitter
New Mexico -

Kematian massal ratusan ribu burung di New Mexico, Amerika Serikat, yang sedang dalam perjalanan migrasi tahunan mengundang rasa penasaran para ilmuwan akan apa yang menjadi penyebabnya. Beberapa pakar pun mengemukakan teori di balik peristiwa yang tidak biasa dan mencemaskan ini.

Periset di New Mexico State University (NMSU) memperkirakan angka kematian bahkan bisa mencapai jutaan. Warga setempat melaporkan temuan bangkai burung di lapangan golf, area hiking, perumahan dan lain-lainnya.

Burung-burung dari beragam spesies itu, seperti burung gereja, disebut sempat bertingkah aneh. Mereka bergerombol, kelihatan lemas, dan tidak mau makan apapun. Sebagian terbang rendah, lalu berkerumun di tanah dan ada yang tertabrak kendaraan.

Sebagian bangkai sedang dalam penelitian untuk membantu mencari akar masalah. Profesor ekologi di NMSU, Martha Desmond, menyebut kematian massal ini mungkin disebabkan beberapa faktor, dari kekeringan atau migrasi terlalu awal karena ada kebakaran hutan di sebagian wilayah AS.

Selain itu barangkali ada dampak terkait udara dingin yang tak biasanya dan hujan salju lebih awal di New Mexico. "Namun demikian, seharusnya itu tidak cukup untuk membunuh mereka. Burung migrasi justru terbantu dengan adanya massa udara dingin yang mendorong mereka," papar Desmond.

Apalagi banyak bangkai burung sudah ditemukan sebelum terjadinya udara dingin. Saat ini, tim Desmond sedang menganalisis dari mana persisnya para burung itu berasal. Selain itu untuk membantu penelitian, warga diminta melapor jika menemukan bangkai burung di lokasi mereka.

"Setiap orang yang menemukan bangkai burung bisa memotretnya atau cukup menulis deskripsi untuk diupload di aplikasi. Hal itu akan membantu kami memonitor seberapa besar sebenarnya skala kematian massal ini," ujar pemimpin proyek aplikasi ini, Allison Salas.