Fenomena Hari Tanpa Bayangan Pertanda Apa?

Fenomena Hari Tanpa Bayangan Pertanda Apa?

Tim - detikInet
Sabtu, 05 Sep 2020 08:43 WIB
Ilustrasi Hari Tanpa Bayangan
Ilustrasi hari tanpa bayangan. Foto: Muhammad Ridho
Jakarta -

Zero shadow day atau hari tanpa bayangan terjadi di beberapa bagian Bumi, termasuk Indonesia. Ini adalah saat di mana sinar Matahari tidak menimbulkan bayangan pada benda-benda di waktu tertentu pada siang hari.

Pada saat itu, Matahari tepat berada di zenith. Zenith adalah titik di angkasa yang berada persis di atas pengamat. Cahaya Matahari benar-benar berada di posisi vertikal pada obyek sehingga bayangan pun menghilang.

Hari tanpa bayangan ini sesungguhnya merupakan fenomena yang terjadi tiap tahun, di mana dalam satu tahun terjadi dua kali.

Selain sebagai fenomena yang menarik, hari tanpa bayangan adalah sinyal akan terjadi pergantian musim. "(Hari tanpa bayangan) mulai terjadi (menandakan) terjadi perubahan musim di wilayah Indonesia," kata Peneliti Pusat Sains Antariksa Lapan Rhorom Priyatikanto beberapa waktu silam.

Peristiwa ini terjadi karena Bumi beredar mengitari Matahari pada jarak 150 juta kilometer dengan periode sekitar 365 hari. Garis edar Bumi berbentuk agak lonjong sehingga Bumi kadang bergerak lebih cepat dan kadang bergerak lebih lambat.

Bidang edar Bumi disebut sebagai bidang ekliptika. Bidang ini miring sebesar 23,4 derajat terhadap bidang ekuator Bumi. Karenanya, Matahari tampak berada di atas belahan Bumi utara selama sekitar setengah tahun dan berada di atas belahan Bumi selatan setengah tahun sisanya.

"Perubahan posisi tampak Matahari menyebabkan perubahan musim di Bumi, misalnya empat musim di daerah subtropis dan juga musim kering-basah di wilayah Indonesia," jelas Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Lapan, Jasyanto, mengenai hari tanpa bayangan.

Namun demikian, bukan berari setelah terjadi hari tanpa bayangan langsung musim berganti, melainkan hanya sebagai patokan. Ada faktor lain misalnya perubahan iklim global dapat mempengaruhi pola musim hujan yang akan terjadi di Indonesia.

Di sisi lain, muncul pula mitos bahwa telur dapat berdiri tegak saat hari tanpa bayangan. Hal itu telah pula ditanggapi Lapan yang menyebutnya tidak akurat. "Secara ilmiah, tidak ada dasarnya antara telur berdiri dengan vernal equinox. Telur terlalu kecil untuk merespons gravitasi Matahari," cetus Kepala Lapan, Thomas Djamaludin, beberapa waktu silam.



Simak Video "Gegara Corona, Matahari Tutup 7 Gerainya"
[Gambas:Video 20detik]
(fyk/fay)