Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Apa Itu Aplikasi Super Rumah Pendidikan Kemendikdasmen, Ini Penjelasannya

Apa Itu Aplikasi Super Rumah Pendidikan Kemendikdasmen, Ini Penjelasannya


Agus Tri Haryanto - detikInet

Aplikasi Dunia Baca yang ditampilkan Untag Surabaya bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional.
Foto: Istimewa
Jakarta -

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mempunyai Aplikasi Super Rumah Pendidikan sebagai pusat integrasi layanan dan sumber belajar digital nasional untuk jenjang pendidikan dasar hingga menengah.

Platform tersebut dirancang untuk menyatukan berbagai aplikasi dan layanan pendidikan yang sebelumnya tersebar, sehingga lebih mudah diakses oleh guru, siswa, orang tua, hingga satuan pendidikan.

Secara umum, Rumah Pendidikan berfungsi sebagai hub ekosistem digital pendidikan, yang mengintegrasikan lebih dari 1.000 aplikasi, fitur, dan layanan pembelajaran dalam satu platform terpadu. Mulai dari sumber belajar digital, media pembelajaran interaktif, layanan data pendidikan, hingga sistem pendukung kegiatan belajar mengajar berbasis teknologi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Melalui pendekatan super aplikasi, Kemendikdasmen menargetkan efisiensi pengelolaan layanan digital sekaligus peningkatan kualitas pembelajaran. Integrasi ini juga bertujuan mengurangi tumpang tindih aplikasi, menekan biaya pengembangan, serta memastikan layanan pendidikan digital dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.

ADVERTISEMENT

Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kemendikdasmen, Yudhistira Nugraha, menjelaskan bahwa optimalisasi Rumah Pendidikan menjadi kebutuhan mendesak seiring meningkatnya jumlah aplikasi dan layanan digital di sektor pendidikan.

"Jika tidak dioptimalkan, maka ini menyebabkan kualitas layanan publik menurun dan mahal untuk dikembangkan. Jadi, hackhaton kami adakan sebagai wadah berbagai kalangan menciptakan ide, solusi, dan prototipe teknologi pendidikan yang berdampak nyata ke pengembangan super aplikasi Kemendikdasmen, Rumah Pendidikan," ujarnya dalam keterangan pers.

Ia menambahkan, pelaksanaan hackathon menjadi salah satu strategi mendorong partisipasi berbagai kalangan dalam pengembangan teknologi pendidikan yang berdampak nyata bagi ekosistem Rumah Pendidikan.

Untuk memastikan platform tersebut benar-benar relevan dengan kebutuhan pengguna, Kemendikdasmen mendorong partisipasi publik melalui berbagai inisiatif kolaboratif. Salah satunya melalui Hackathon Rumah Pendidikan, yang digelar oleh Pusdatin sebagai wadah pengembangan inovasi teknologi pendidikan.

Hackathon ini mengajak guru dan peserta didik dari berbagai jenjang-mulai PAUD, SD, SMP, SMA, hingga SMK-untuk merancang solusi pembelajaran berbasis teknologi, khususnya gim edukasi interaktif yang dapat terintegrasi dengan ekosistem Rumah Pendidikan.

Dari ajang tersebut, tercatat 615 proposal karya yang diunggah peserta. Setelah melalui proses seleksi dan penilaian, terpilih 50 proposal terbaik hingga akhirnya ditetapkan para pemenang dari tiap jenjang pendidikan.
Inovasi yang dihasilkan pun beragam.

Dari jenjang PAUD, misalnya, muncul gim pembelajaran berbasis petualangan yang menggabungkan elemen suara, visual, dan gerakan tubuh untuk mengatasi kebosanan anak saat belajar.

Sementara dari jenjang SMK, lahir gim edukasi berbasis simulasi dan permainan aktif yang membantu siswa memahami materi teknis seperti Internet of Things (IoT) serta jaringan LAN dan WAN secara lebih kontekstual.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menggelar Hackathon Rumah Pendidikan, yang digelar oleh Pusdatin sebagai wadah pengembangan inovasi teknologi pendidikan.Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menggelar Hackathon Rumah Pendidikan, yang digelar oleh Pusdatin sebagai wadah pengembangan inovasi teknologi pendidikan. Foto: Kemendikdasmen

Adapun pemenang utamanya untuk jenjang PAUD diraih oleh TK Surya Buana dari Prov. Jawa Timur, TK IT Al-Bushra Hasyimiyah, Prov. Nusa Tenggara Barat, dan PAUD Satu Al Umm Barabai, Prov. Kalimantan Selatan.

Selanjutnya jenjang SD (SDN 3 Sukahurip Jabar, SD Negeri Kradenan 01 Jateng, dan SDN Soekaraja Kidul, Jateng), SMP (SMP Islam As Shofa Riau, SMP Negeri 1 Nglipar, DI Yogyakarta, dan SMP Negeri 4 Satu Atap Kragan, Jateng).

Kemudian jenjang SMA (SMA Negeri 6 Bandung, Jabar, SMA Negeri 75 Jakarta, SMA 1 Bintan Pesisir, Kepulauan Riau), dan SMK (SMK Telkom Banjarbaru, Kalimantan Selatan, SMK IT As-Syifa Boarding School, Jabar, dan SMK Negeri 2 Bangkalan, Jatim).

Kemendikdasmen melalui Pusdatin menegaskan, berbagai inovasi hasil hackathon tersebut akan terus dikembangkan dan diintegrasikan sebagai sumber belajar digital dalam Aplikasi Super Rumah Pendidikan. Langkah ini diharapkan dapat memperkaya konten pembelajaran, mendorong kreativitas satuan pendidikan, serta mempercepat transformasi digital pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan.

Dengan pendekatan super aplikasi dan kolaborasi lintas pemangku kepentingan, Rumah Pendidikan diproyeksikan menjadi tulang punggung ekosistem pendidikan digital nasional, bukan sekadar platform teknologi, tetapi ruang bersama untuk belajar, berinovasi, dan tumbuh bersama di era digital.




(agt/agt)







Hide Ads