Hong Kong Laporkan Kasus Pertama Orang Sembuh COVID-19 Terinfeksi Lagi

ADVERTISEMENT

Hong Kong Laporkan Kasus Pertama Orang Sembuh COVID-19 Terinfeksi Lagi

Rachmatunnisa - detikInet
Selasa, 25 Agu 2020 08:45 WIB
Virus Corona terbaru atau Sars-Cov-2 yang menjadi penyebab COVID-19 memang berbahaya. Tapi tampilannya di bawah mikroskop bisa sangat bertolak belakang.
Hong Kong Laporkan Kasus Pertama Orang Sembuh COVID-19 Terinfeksi Lagi. Foto: NIAID
Jakarta -

Seorang pria sehat berusia 33 tahun di Hong Kong menjadi orang pertama di dunia yang dipastikan terinfeksi virus corona SARS-CoV-2 untuk yang kedua kali.

Infeksi pertama pria tersebut terjadi akhir Maret lalu. Dia melaporkan gejala batuk berdahak, demam, sakit tenggorokan, dan sakit kepala selama tiga hari sebelum akhirnya dinyatakan positif terkena virus pada 26 Maret.

Meskipun gejalanya mereda beberapa hari kemudian, dia dirawat di rumah sakit pada 29 Maret, dan tetap di rumah sakit hingga 14 April. Setelah itu, dalam proses perawatannya, dia dites negatif SARS-CoV-2 dalam dua kali pengujian yang dilakukan selang waktu 24 jam, sebelum 'sembuh' dari COVID-19.

Namun sekitar 4,5 bulan kemudian, pria itu dinyatakan positif terkena virus Corona lagi. Kali ini, infeksinya terdeteksi selama pemeriksaan masuk di bandara Hong Kong, saat ia kembali dari perjalanan ke Spanyol, melalui Inggris, pada 15 Agustus.

Dikutip dari Ars Technica, meski tidak menunjukkan gejala, ia kembali dirawat di rumah sakit. Data klinis menunjukkan, dia memiliki tanda-tanda infeksi akut, namun tetap asimtomatik atau tanpa gejala selama berada di rumah sakit.

Para peneliti memecahkan kode seluruh rangkaian genetik virus SARS-CoV-2 yang diisolasi dari pria tersebut dalam kedua infeksi, dan menemukan bahwa kedua infeksinya disebabkan oleh jenis virus corona yang berbeda.

Strain pertama sangat mirip dengan strain SARS-CoV-2 yang dikumpulkan pada April dan Maret di Amerika Serikat dan Inggris. Sedangkan strain yang kedua terkait erat dengan strain yang dikumpulkan di Inggris dan Swiss pada Juli dan Agustus.

Secara keseluruhan, ada 24 perbedaan genetik antara dua strain virus yang menginfeksi, termasuk perbedaan yang signifikan dalam kode protein lonjakan.

Para peneliti di Hong Kong melaporkan kasus ini pada 24 Agustus dalam sebuah studi ilmiah yang diterima Clinical Infectious Disease, namun belum dipublikasikan oleh jurnal.

Dengan puluhan juta kasus terjadi di seluruh dunia dan terakumulasi selama delapan bulan, kasus infeksi ulang sebenarnya tidak mengherankan.

Penelitian sejauh ini menunjukkan, respons kekebalan tubuh terhadap SARS-CoV-2 dapat bervariasi. Artinya, beberapa orang mungkin mengembangkan respons kekebalan yang lebih kuat dan lebih protektif daripada yang lain.

Ada banyak data menunjukkan bahwa beberapa respons kekebalan dapat sepenuhnya melindungi terhadap infeksi ulang, setidaknya untuk beberapa periode waktu.

Dari studi baru tersebut, kasus ini juga sebenarnya sedikit menggembirakan, karena infeksi virus Corona kedua yang terjadi pada pria itu lebih ringan dibandingkan yang pertama. Ini mengisyaratkan respons imunnya sangat membantu, khususnya terhadap SARS-CoV-2.

Meski ada laporan lain yang lebih bersifat anekdot tentang infeksi ulang, laporan tersebut belum dikonfirmasi seperti studi yang satu ini, dengan sekuensing genom lengkap dan data lainnya.

Dan, meski dokumentasikan kasus ini sangat penting, masih tersisa pertanyaan paling signifikan tentang kekebalan terhadap SARS-CoV-2 yang belum terjawab.

Artinya, kita masih belum mengetahui tingkat respons imun yang diperlukan untuk mencegah terjadinya infeksi ulang. Belum diketahui pula berapa proporsi orang yang mengembangkan respons imun protektif setelah infeksi, dan berapa lama respons imun pelindung bertahan pada kebanyakan orang.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa respons antibodi terhadap SARS-CoV-2 dapat berkurang setelah periode dua hingga tiga bulan. Tingkat antibodi secara alami akan berkurang setelah infeksi akut, tetapi beberapa peneliti menyatakan kekhawatiran bahwa antibodi anti-SARS-CoV-2 tampaknya menurun lebih cepat dari yang diperkirakan.

Tapi sekali lagi, semua ini masih spekulatif. Kita belum tahu tingkat antibodi apa yang diperlukan untuk melindungi dari infeksi SARS-CoV-2 kedua, dan berapa lama kekebalan tersebut dapat bertahan. Penelitian yang berkembang dan terus menerus dilakukan akan menjawabnya.



Simak Video "Update Covid-19 RI 27 September 2022: 1.976 Kasus Baru, 2.070 Sembuh"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/rns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT