Partikel Debu Juga Bisa Sebarkan Virus Flu

Partikel Debu Juga Bisa Sebarkan Virus Flu

Rachmatunnisa - detikInet
Senin, 24 Agu 2020 12:13 WIB
Asian woman are going to work.she wears N95 mask.prevent PM2.5 dust and smog.she is coughing
Partikel Debu Juga Bisa Sebarkan Virus Flu. Foto: Getty Images/iStockphoto/Torwai
Jakarta -

Para ilmuwan memperdebatkan peran droplet atau percikan kecil dalam penularan SARS-CoV-2 sejak awal pandemi COVID-19. Temuan terbaru, partikel debu juga bisa sebarkan virus flu.

Penelitian yang diterbitkan di jurnal Nature Communications ini mempelajari bahwa virus di udara seperti SARS-CoV-2 dan influenza, perlu melihat lebih dekat peran vektor kecil lainnya, yakni debu mikroskopis.

"Data kami dengan sangat jelas menunjukkan bahwa partikel mikroskopis di udara dapat menularkan flu," kata penulis studi William Ristenpart, profesor teknik kimia di University of California, Davis, Amerika Serikat.

Partikel-partikel ini, yang dikenal sebagai 'aerosolized fomites', terdiri dari segala macam hal mulai dari kulit, kotoran hingga fragmen jaringan mikroskopis atau (dalam kasus marmot, yang menjadi hewan penelitian ini) serbuk gergaji di kandang.

Melalui partikel-partikel ini, virus dapat menumpang dan melayang di udara menuju makhluk yang tidak terinfeksi, sama seperti pada droplet atau percikan aerosol kecil yang keluar dari mulut dan hidung saat kita berbicara atau bersin.

"Hal ini sebenarnya telah diketahui sebelumnya, tetapi sampai sekarang hanya ada sedikit data mengenai apakah virus yang ikut dalam partikel tersebut berperan dalam menginfeksi tubuh baru," kata Ristenpart seperti dikutip dari Popular Science.

Selama ini, studi tentang peran aerosol dalam penularan penyakit lebih difokuskan pada droplet yang meninggalkan tubuh hewan, bukan pada debu di lingkungan kita.

Sedangkan Ristenpart dan timnya berhipotesis bahwa partikel debu juga berperan. Jadi, mereka beralih ke kelinci percobaan untuk mempelajarinya lebih lanjut.

Dalam empat percobaan pertama, mereka memantau hewan yang terinfeksi influenza menggunakan alat yang disebut aerodynamic particle sizer (APS) yang mengukur partikel mikroskopis.

Mereka menemukan bahwa jumlah partikel yang datang dari kandang masing-masing marmot sangat berkorelasi dengan gerakan. Semakin banyak hewan pengerat itu bergerak, semakin banyak partikel yang menyebar. Studi sebelumnya yang mengamati bagaimana infeksi menyebar dari satu hewan ke hewan lain di kandang terdekat juga menemukan hal serupa.

Namun, penelitian tersebut menyimpulkan bahwa infeksi disebabkan oleh aerosol yang dihembuskan. Tapi di luar itu, percobaan ini menunjukkan bahwa sebagian besar partikel yang melakukan perjalanan dari satu kandang ke kandang lainnya adalah partikel debu yang teraduk oleh marmot yang merayap di dalam kandangnya, bukan partikel yang diembuskan. Seekor marmot yang diam tidak mengirimkan banyak partikel.

Selanjutnya, tim ingin mengetahui bagian tertentu, jika ada, dari aerosol yang mereka deteksi diproduksi oleh pernapasan marmot. Untuk melakukan itu, mereka membuat apa yang disebut Ristenpart sebagai 'guinea pig burrito' dengan hewan hidup yang dibius dan hewan mati yang disuntik mati.

"Kami mengambil marmot dan membungkusnya dengan kandang aluminium dengan menyisakan lubang kecil untuk hidung mereka," katanya.

Kemudian, mereka menggunakan APS untuk memantau berapa banyak partikel yang berasal dari hewan yang dibungkus. Mereka menemukan terdapat dua kali lebih banyak partikel yang terlepas dari marmot pada percobaan pertama, di mana hewan-hewan itu dibiarkan bergerak bebas di dalam kandang yang tidak dibungkus.

Secara jelas, dalam percobaan kedua ini mereka menemukan bahwa marmot mati, yang tidak bernapas sama sekali, menghasilkan jumlah partikel yang hampir sama dengan marmot yang hidup.

Dalam percobaan terakhir, tim peneliti menorehkan marmot yang kebal influenza dengan zat yang sarat virus dan meletakkannya di kandang yang berdekatan dengan marmot yang tidak terinfeksi. Hasilnya, marmot yang tidak terinfeksi terserang flu, karena partikel yang menyebar dari kandang marmot yang kebal.

Semua bukti yang digabungkan ini meyakinkan Ristenpart bahwa transmisi debu dapat memainkan peran penting dalam menularkan influenza pada marmut.

"Anda mungkin berpikir bahwa marmot yang tidak mandi setiap hari dengan sabun dan tinggal di lingkungan berdebu, lebih mungkin menyebarkan debu daripada kebanyakan manusia," kata Ristenpart.

"Tapi manusia menyebarkan partikel debu mikroskopis dengan kecepatan yang sama, dan tidak ada alasan untuk berpikir bahwa virus kita tidak ikut serta lewat kulit mati, partikel dari lingkungan, dan kotoran lain-lain yang terus-menerus kita buang," simpulnya.



Simak Video "Inggris Temukan Varian Baru COVID-19: VoC dan VuI"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)