Kontroversi Vaksin COVID-19, Perlu atau Tidak?

Kontroversi Vaksin COVID-19, Perlu atau Tidak?

Aisyah Kamaliah - detikInet
Minggu, 23 Agu 2020 11:23 WIB
The doctor prepares the syringe with the cure for vaccination.
Ilustrasi vaksin corona. Foto: iStock
Jakarta -

Suara menolak vaksin COVID-19 berdatangan dari berbagai negara di dunia. Dua kubu pun tercipta menyikapi vaksin penyakit yang disebabkan oleh SARS-CoV-2 ini. Vaksin COVID-19 dibutuhkan atau tidak?

"Ada kemungkinan virus menghilang secara alami sebelum vaksin dikembangkan. Kita melihat pola yang sama di mana-mana. Saya menganggap kita punya lebih banyak imunitas dari yang diestimasikan," kata Prof Karol Sikora, ahli onkologi yang mendalami imunologi pada video YouTube 'Why We Might Not Need A Vaccine for COVID-19 | This Morning'.

Ia mencoba melihat dari sudut pandang di mana vaksin belum ditemukan pada pandemi yang telah lalu dan melihat bahwa virus seakan hilang begitu saja. Begitu juga penelitian di berbagai dunia yang banyak memiliki perbedaan, ini dikarenakan virus berubah begitu cepat dan jumlah orang yang memiliki imun untuk penyakit ini tidak diketahui -- bisa jadi lebih banyak dari yang kita bayangkan.

Lebih lanjut, Prof Sikora mengatakan banyak negara yang menjadi bukti COVID-19 bisa diatasi tanpa bantuan vaksin. Ia menyebut Austria, Ceko, Norwegia, dan Denmark yang sudah mengalami penurunan kasus.

Akan tetapi, karena banyaknya hal yang tertunda selama pandemi misalnya perawatan pasien kanker. Sikora berharap vaksin untuk COVID-19 segera ditemukan dan itu pun jika masih dibutuhkan.

"Saya hanya berharap vaksin tidak dibutuhkan, tapi kita harus melakukannya (mengembangkan vaksin), tentu tidak ada keraguan untuk menjalaninya. Jika saya salah, dan siapa yang tahu apa yang akan terjadi, tapi demi pasien, saya berharap ini bisa tercipta dengan segera," ujarnya.

Kendati demikian, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan wabah virus Corona bisa terus kembali dan muncul di semua negara. Karenanya, vaksin menjadi hal yang dibutuhkan.

"Keterhubungan kita secara global dapat diartikan bahwa risiko pengenalan ulang dan kemunculan kembali COVID-19 akan terus berlanjut. Pada akhirnya, pengembangan dan pengiriman vaksin yang aman serta efektif diperlukan untuk sepenuhnya menghentikan transmisi," ucap Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Nah bagaimana menurut Anda, detikers?



Simak Video "Apakah Tubuh Jadi Kebal COVID-19 Setelah Divaksin? "
[Gambas:Video 20detik]
(ask/fay)