Rusia Klaim Vaksin Corona Pertama, Ilmuwan Gelisah

Rusia Klaim Vaksin Corona Pertama, Ilmuwan Gelisah

Fino Yurio Kristo - detikInet
Rabu, 12 Agu 2020 16:28 WIB
In this handout photo taken on Thursday, Aug. 6, 2020, and provided by Russian Direct Investment Fund, a new vaccine is on display at the Nikolai Gamaleya National Center of Epidemiology and Microbiology in Moscow, Russia. Russia on Tuesday, Aug. 11 became the first country to approve a coronavirus vaccine for use in tens of thousands of its citizens despite international skepticism about injections that have not completed clinical trials and were studied in only dozens of people for less than two months. (Alexander Zemlianichenko Jr/ Russian Direct Investment Fund via AP)
Vaksin Corona Rusia. Foto: AP/Alexander Zemlianichenko Jr
Moskow -

Rusia jadi negara pertama yang menyetujui sebuah vaksin Corona, yang dibuat oleh Gamaleya Research Institute dan Kementerian Pertahanan Rusia. Akan tetapi, hal itu memicu skeptisme dari dunia internasional maupun kalangan ilmuwan lantaran vaksin Corona itu baru diuji coba pada sedikit orang.

Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengumumkan langsung bahwa Kementerian Kesehatan telah menyetujui vaksin Corona dan salah satu putrinya telah diinjeksi. Putin mengklaim vaksin bersangkutan sudah melalui tes yang diperlukan dan memicu kekebalan pada virus Corona.

"Saya tahu vaksin ini terbukti efisien dan membentuk imunitas yang stabil. Kita harus bersyukur pada mereka yang melakukan langkah pertama yang sangat penting bagi negara kita ataupun seluruh dunia," cetus Putin. Bahkan ia mengklaim imunitas bisa sampai 2 tahun.

Namun demikian, otoritas Rusia belum menunjukkan bukti efektivitas ataupun keamanannya. Ilmuwan, bahkan dari Rusia sendiri, menyuarakan peringatan, bahwa terburu-buru memberikan vaksin Corona sebelum uji coba final bisa berujung runyam.

Fase 3 atau tahap akhir seharusnya melibatkan ribuan orang untuk diujicoba dan mungkin butuh waktu berbulan-bulan. Ilmuwan memandang itu satu-satunya cara membuktikan kandidat vaksin aman dan benar-benar manjur. Di Amerika Serikat misalnya, tes tahap final disyaratkan melibatkan 30 ribu orang.

"Persetujuan begitu cepat tidak akan membuat Rusia menjadi pemimpin dalam perlombaan, hal itu hanya memaparkan pengguna vaksin pada bahaya yang tidak perlu," sebut Association of Clinical Trials Organizations Rusia, yang menyarankan pemerintah menunda dulu persetujuan itu.

Deputi Perdana Menteri Rusia, Tatyana Golikova, menyebut bahwa vaksinasi dokter bisa dimulai bulan ini. Kemudian vaksinasi massal mungkin diawali pada Oktober.

Vaksin Rusia dibuat dari DNA adenovirus SARS-CoV-2. Vaksin ini menggunakan virus yang telah dilemahkan untuk mengirimkan sebagian kecil patogen dan menstimulasi respons imun. Namun sejauh ini, belum ada publikasi ilmiah yang membuktikan keandalannya.

Selain itu, para ilmuwan menyebut bahwa meski sebuah vaksin terbukti manjur, masih perlu banyak waktu untuk menyimpulkan seberapa lama proteksi bisa diberikan.

"Kerusakan dari rilis vaksin apapun yang kurang aman dan efektif malah akan memperuncing masalah kita saat ini hingga tak dapat diatasi," kecam profesor Danny Altmann, profesor di Imperial College London. "Saya pikir hal ini sungguh menakutkan, sungguh berisiko," sebut Daniel Salmon, Direktur Institute for Vaccine Safety di Johns Hopkins University.

Vaksin yang tidak dites dengan semestinya bisa berbahaya bagi kesehatan ataupun menciptakan perasaan sudah aman dari bahaya, padahal tidak. WHO pun telah menghubungi ilmuwan Rusia untuk mempelajari vaksin Corona tersebut lebih lanjut.



Simak Video "Vladimir Putin Pamer Vaksin Sputnik V di Sidang PBB"
[Gambas:Video 20detik]
(fyk/fay)