Ilmuwan Sayangkan 'Buaya Siluman' Dibunuh di Bangka

Ilmuwan Sayangkan 'Buaya Siluman' Dibunuh di Bangka

Fitraya Ramadhanny - detikInet
Jumat, 07 Agu 2020 16:10 WIB
Buaya Muara di Kali Porong
Ilustrasi buaya muara (Foto: istimewa)
Jakarta -

Warga di Bangka membunuh buaya muara besar karena dianggap siluman. Hal ini disesalkan oleh ilmuwan, karena merupakan kerugian buat alam.

"Sayang sekali masyarakat di Bangka itu, kenapa buaya itu dibunuh. Itu kan mestinya dilindungi," kata Hellen Kurniati, peneliti ahli herpetofauna LIPI, Jumat (7/8/2020).

Dalam penelusuran detikINET, buaya muara (Crocodylus porosus) masuk sebagai salah satu jenis hewan yang dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI nomor P.92/MENLHK/SETJEN/KUM.1/8/2018 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri LHK nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. Dengan demikian, semestinya buaya ini tidak dibunuh.

Warga setempat meyakini buaya tersebut adalah buaya siluman. Sebabnya, buaya ini bisa dipanggil setelah ritual khusus dengan memasang umpan monyet. Namun menurut Hellen, monyet memang makanan kesukaan buaya.

Menurut Hellen, buaya muara tersebar populasinya dari India, Asia Tenggara termasuk Indonesia, sampai Australia. Kondisi kelestarian spesies buaya muara ini berbeda-beda di setiap negara.

"Buaya muara di Indonesia ini statusnya vurnerable (terancam-red), diburu karena kulitnya harganya tinggi," kata dia.

Hellen menyayangkan buaya yang dituduh siluman ini sampai dibunuh di Bangka, karena usianya sudah dewasa. Dengan matinya buaya ini, Indonesia kehilangan salah satu plasma nutfahnya yang berharga.

Peneliti buaya ini mengatakan bahwa buaya secara alami tidak bisa hidup berdampingan dengan manusia. Saat ini habitat alami buaya telah diserobot oleh manusia yang semakin banyak jumlahnya.

Tidak jarang buaya jadi bersinggungan dengan kawasan pemukiman orang. Namun jika sampai kejadian dan ada buaya yang dianggap mengganggu, mestinya ada solusi lain tanpa harus membunuhnya dengan melibatkan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) yang ada di setiap kota dan kabupaten setempat.

"Lebih baik kalau ada buaya meresahkan, hubungi BKSDA setempat, lalu taruh di penangkaran," pungkasnya.



Simak Video "Buaya 'Raksasa' Diangkut Buldoser, Gagal Dievakuasi Karena Aturan Adat"
[Gambas:Video 20detik]
(fay/fyk)