Hujan Asteroid Hantam Bumi dan Bulan 800 Juta Tahun Lalu

Hujan Asteroid Hantam Bumi dan Bulan 800 Juta Tahun Lalu

Virgina Maulita Putri - detikInet
Jumat, 24 Jul 2020 08:21 WIB
hujan asteroid
Ilustrasi Hujan Asteroid yang Hantam Bumi dan Bulan 800 Juta Tahun yang Lalu (Foto: Murayama/Osaka University)
Jakarta -

Hujan asteroid raksasa ternyata pernah menghantam Bumi dan Bulan 800 juta tahun yang lalu. Peristiwa ini menyebabkan musim dingin abadi terparah di planet kita.

Dikutip detikINET dari CNN, Jumat (24/7/2020) dalam hujan asteroid ini, batu-batu angkasa yang menghantam Bumi ukurannya jauh lebih besar dibanding asteroid yang membuat dinosaurus punah 66 juta tahun yang lalu.

Peristiwa yang baru diketahui ini melibatkan hujan asteroid dengan massa total mencapai 30 hingga 60 kali lebih besar dari asteroid yang menghantam Bumi dan menyebabkan kawah Chicxulub di Meksiko.

Kawah ini terbentuk ketika asteroid dengan diameter antara 10,9 dan 80,9 km menabrak Bumi 66 juta tahun yang lalu dan mengakibatkan musnahnya tiga perempat spesies hewan dan tumbuhan di Bumi, termasuk dinosaurus.

Hujan asteroid ini juga lebih besar dibandingkan hujan meteoroid yang terjadi 470 juta tahun yang lalu, yang memicu menurunnya ketinggian air laut dan mendorong munculnya keragaman hayati.

"Tidaklah aneh bahwa hujan asteroid 800 juta tahun yang lalu mungkin mungkin memicu zaman es, karena fluks massa total 800 juta tahun yang lalu adalah 10-100 kali lebih besar daripada efek hantaman di Chicxulub dan atau hujan meteoroid 470 juta tahun yang lalu," kata penulis utama studi dan dosen di Universitas Osaka, Kentaro Terada.

Hujan asteroid ini terjadi sebelum zaman Cryogenion antara 635 dan 720 juta tahun yang lalu, ketika Bumi masih diselimuti gurun es. Ini merupakan zaman di mana terjadi banyak perubahan lingkungan dan biologis.

Untuk mendapatkan temuan ini, ilmuwan menginvestigasi Bulan karena kawah hantaman asteroid di sana tidak tersentuh oleh erosi dan aktivitas geologis lainnya. Mereka meneliti 59 kawah bulan yang lebarnya mulai dari 20 km menggunakan wahana orbiter Kaguya milik Jepang.

Delapan dari 59 kawah tersebut rupanya terbentuk pada waktu yang bersamaan. Salah satunya kawah Copernicus yang memiliki diameter 93 km.

Kawah ini dulunya sempat diteliti oleh astronaut Apollo 12, yang membawa pulang sampel yang diduga dilontarkan saat kawah Copernicus terbentuk. Sampel tersebut diteliti setelah astronaut kembali ke Bumi pada 19 November 1969, dan NASA menduga usianya 800 juta tahun.

Kedelapan kawah ini kemungkinan terbentuk bersamaan ketika asteroid dengan diameter 100 km tiba-tiba menghantam Bumi dan Bulan. Ilmuwan memprediksi bahwa 40 hingga 50 triliun meteoroid menghantam Bumi dalam hujan asteroid ini.