Kenapa Siri dan Asisten Virtual Lainnya Pakai Suara Perempuan?

Kenapa Siri dan Asisten Virtual Lainnya Pakai Suara Perempuan?

Rachmatunnisa - detikInet
Sabtu, 30 Mei 2020 06:45 WIB
Google Assistant, Ilustrasi Google Assistant
Ilustrasi Google Assistant. Foto: Agus Tri Haryanto/detikINET
Jakarta -

Pengguna smartphone kini terbiasa menggunakan asisten virtual di smartphone untuk navigasi GPS, menanyakan cuaca, mengatur alarm, dan hal lain untuk membantu memudahkan.

Sadarkah kalian kalau asisten virtual lebih sering menggunakan suara perempuan? Kalian akan menemukan suara perempuan pada Siri, Alexa, Google Assistant, atau Cortana.

Tak cuma di smartphone, komputer hingga perangkat seperti mesin ATM lebih sering menggunakan suara perempuan dalam fitur voice assistant atau asisten suara mereka. Kira-kira apa ya alasan di baliknya?

Beberapa ilmuwan berpendapat, mendengarkan suara perempuan yang disukai semua orang jauh akan lebih mudah ketimbang memodulasi suara laki-laki. Ini terkait dengan suara ibu, sehingga kebanyakan orang cenderung meresponsnya secara positif.

Secara psikologis, seseorang cenderung lebih mendengar suara perempuan. Dikutip dari PC Mag, sebuah penelitian yang diterbitkan pada 2014 menyebutkan bahwa pada tahap prenatal, janin merespons suara kedua orang tua, dan bayi yang baru lahir sudah lebih memilih suara ibu daripada suara ayah.

Namun, ada juga asisten virtual yang menawarkan opsi suara laki-laki, di antaranya, Siri dan Google Assistant. Pilihan ini tak dimiliki oleh Alexa dan Cortana yang hanya punya suara perempuan.

Berbeda lagi dengan asisten suara Watson dari IBM. Lantaran dianggap maskulin dan memiliki kesan pemimpin, Watson pun menggunakan suara laki-laki.

Juru bicara Microsoft menjelaskan, asisten suara Cortana yang mereka kembangkan secara teknis dapat dikatakan tak memiliki gender. Akan tetapi, mereka melakukan penelitian gender ketika memilih suara dan mencari yang lebih baik.

Microsoft ingin menghadirkan asisten yang dapat membantu, mendukung, sekaligus dapat dipercaya. Maka, suara perempuan pun dipilih karena dipercaya lebih unggul untuk tiga faktor tersebut.

Dalam hal ini, psikolog James W. Pennebaker menjelaskan, perempuan biasanya menggunakan lebih banyak kata ganti dan kata tentatif daripada laki-laki.

Pengucapan kata ganti, khususnya 'saya', banyak dilakukan perempuan. Asisten suara yang ada saat ini pun cenderung lebih sering menggunakan kata 'saya'.

Para engineer telah memodulasi sejumlah besar suara laki-laki, perempuan, dan bahkan gender-netral untuk semua jenis perangkat dan layanan online, tetapi sepertinya, belum ada yang bisa menandingi pengalaman berbicara dengan orang sungguhan.

Tapi setidaknya, dengan masa pandemi dan lockdown seperti sekarang, pengalaman menggunakan asisten virtual mulai dianggap nyata karena banyak orang mencari teman ngobrol.

Kalau kalian lebih suka suara perempuan atau laki-laki?



Simak Video "Google Akui Orang Indonesia Doyan Ngobrol dengan Asistennya"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/agt)