Kenapa Antariksa Gelap, Padahal Ada Matahari dan Bintang

Kenapa Antariksa Gelap, Padahal Ada Matahari dan Bintang

Rachmatunnisa - detikInet
Selasa, 19 Mei 2020 03:30 WIB
mitos luar angkasa
Ilustrasi luar angkasa. (Foto: via Brainberries)
Jakarta -

Jika alam semesta penuh dengan bintang-bintang, termasuk Matahari, kenapa penampakannya hitam, tidak terang?

Kalau ruang angkasa terang, apakah lubang hitam akan terlihat? Atau, jika langit kita putih dan terang, apakah kita masih bisa melihat bintang?

Sebuah penjabaran ilmiah tentang semua pertanyaan ini dibahas dalam sebuah video berjudul 'What If the Universe Was White Instead of Black?'.

Seperti dikutip dari Insh.world, sebelum memulai pembahasan, perlu diketahui bahwa secara ilmiah, hitam bukanlah warna. Dalam definisi ilmiah, warna adalah spektrum tampak dari gelombang cahaya.

Objek berwarna hitam menyerap semua warna dari spektrum tersebut. Dengan kata lain, 'hitam' sebenarnya adalah sebuah ketiadaan warna. Sedangkan 'putih' merupakan pencampuran semua warna dan mengandung seluruh gelombang cahaya yang terlihat.

"Warna adalah cara pandang sensor persepsi kita terhadap dunia. Dan kaitannya dengan alam semesta, bisa dibilang tadinya berwarna putih," urai penjelasan dalam video tersebut.

Saat peristiwa ledakan Big Bang membentuk alam raya, tidak ada bintang-bintang untuk memancarkan cahaya. Jagat semesta pun tampak buram penuh dengan 'sup panas' proton, elektron, dan neutron.

Setelah 300 ribu tahun berlalu, ruang angkasa mulai mendingin dan partikel-partikel dari ledakan tadi mulai menyatu menjadi atom dan molekul.

Alam semesta berubah menjadi transparan. Meski demikian, bila kita bisa melihatnya, yang tampak hanya kegelapan. Hal ini dikarenakan sama sekali tidak ada sumber cahaya tercipta.

Masa ini disebut sebagai era kegelapan kosmik. Ketika bintang pertama mulai terbentuk akibat percampuran hidrogen dengan helium, era kegelapan kosmik pun berakhir.