AS Setop Dana Studi Kelelawar di China, Ilmuwan Khawatir COVID-20
Hide Ads

AS Setop Dana Studi Kelelawar di China, Ilmuwan Khawatir COVID-20

Aisyah Kamaliah - detikInet
Sabtu, 16 Mei 2020 06:03 WIB
Poster
Peneliti sayangkan keputusan pemerintah Amerika Serikat yang menghentikan pendanaan untuk meneliti kelelawar, yang diduga kuat sebagai hewan yang menularkan virus Corona. Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Kepala peneliti virus Corona menyayangkan keputusan yang diambil pemerintah Amerika Serikat untuk menghentikan pendanaan organisasinya. Mereka mengkhawatirkan tarikan dana ini berdampak pada studi yang tidak tuntas untuk pencegahan wabah ini, bahkan selanjutnya.

Sebagai informasi, penelitian EcoHealth Alliance di China difokuskan untuk identifikasi mengenai virus Corona yang berbahaya bagi kesehatan manusia.

"Saya benar-benar khawatir apa yang akan terjadi pada kita. Ketika kita mengatasi COVID-19, bagaimana dengan COVID-20? Bagaimana COVID-21? Siapa yang akan mencari tahu itu?" kata Peter Daszak, direktur organisasi yang berbasis di New York tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menuturkan pada 50 tahun lalu tidak ada yang meneliti kelelawar, semua tertuju pada binatang tikus dan nyamuk. Akhirnya, begitu kelelawar berevolusi ini bisa menjadi reservoir yang efektif dari virus mematikan.

"Apakah kita bisa memprediksi lompatan (dari hewan ke manusia -- red) akan datang dari mana? Tidak," sambungnya.

ADVERTISEMENT

Karenanya, Daszak mengatakan pendanaan untuk penelitian coronavirus dibutuhkan lebih dari sebelumnya karena virus yang memiliki risiko tertinggi terhadap kesehatan masyarakat di negara berpenduduk terpadat di dunia.

"Jika kita ingin tahu apa-apa tentang pandemi berikutnya kita harus bekerja di China," tutur Daszak.

Daszak pun menyebut wilayah Asia Tenggara sebagai 'tempat nyaman' untuk virus, sehingga penelitian di China untuk mengusut tuntas soal dari mana hulu penyebaran virus SARS-CoV-2 ini bermula dan detail lainnya dibutuhkan.

"Tujuan pekerjaan kami adalah untuk secara langsung memberi manfaat bagi keamanan nasional AS dan kesehatan masyarakat. Jika kami tidak melakukan ini, kami akan berada di garis depan lagi ketika virus berikutnya menyerang," tutupnya.




(ask/fay)