Kasus Corona di Indonesia Bisa 5 Kali Lipat dari Angka Resmi

Kasus Corona di Indonesia Bisa 5 Kali Lipat dari Angka Resmi

Virgina Maulita Putri - detikInet
Minggu, 29 Mar 2020 13:18 WIB
RSHS Bandung melakukan simulasi penanganan pasien suspect corona, Jumat (6/3/2020). Simulasi itu untuk menunjukkan kesiapan RSHS dalam menangani pasien suspect corona.
Ilmuwan: Kasus Corona di Indonesia Bisa Lima Kali Lipat Angka Resmi (Foto: Wisma Putra/detikcom)
Jakarta -

Jumlah kasus positif virus corona di Indonesia saat ini sudah mencapai lebih dari 1.000 kasus. Tapi ilmuwan memperkirakan jumlah kasus positif saat ini bisa mencapai lima kali lipat dari angka yang dirilis pemerintah.

Temuan ini dipublikasikan oleh lembaga riset telematika asal Bandung, Sharing Vision. Menurut simulasi yang mereka lakukan, pada tanggal 22 Maret saat pemerintah mengumumkan ada 514 kasus positif di Indonesia, model mereka memprediksi angka sebenarnya adalah 2.279 kasus positif.

Sementara itu perkiraan kasus pada tanggal 23-25 Maret juga mencapai lima kali lipat dari jumlah yang dirilis pemerintah. Data lebih lengkapnya dapat dilihat dalam tabel di bawah.

Perbandingan jumlah terjangkit aktual dengan confirmed case yang dirilis resmiPerbandingan jumlah terjangkit aktual dengan confirmed case yang dirilis resmi Foto: Sharing Vision

Dalam keterangan yang diterima detikINET, Minggu (29/3/2020) simulasi ini dipimpin oleh tim Data Scientist Sharing Vision yang dipimpin oleh Senior Data Scientist Budi Sulistyo yang bekerjasama dengan seorang dosen STEI ITB Kelompok Keahlian Kendali dan Komputer, Dimitri Mahayana.

Simulasi ini pertama kali dimulai pada minggu pertama isolasi diri nasional yaitu Senin (16/3) lalu. Temuan ini diperoleh menggunakan simulasi model dinamika penyebaran virus dengan persamaan diferensi orde 30, nonlinier dengan umpan balik positif yang telah digunakan dalam memodelkan fenomena wabah virus corona di Indonesia.

Budi mengatakan salah satu asumsi yang digunakan dalam simulasi tersebut adalah asumsi delay dalam pengumuman kasus yang terkonfirmasi. Tim mengasumsikan delay yang sangat moderat yakni rata-rata tiga hari.

"Delay ini adalah jeda waktu sejak saat dilakukannya tes terhadap seseorang, suspect, yang kemudian dinyatakan positif, hingga konfirmasi resmi pemerintah yang memasukkan orang tersebut ke dalam akumulasi total terjangkit," kata Budi.

"Semakin panjang delay aktual, maka semakin besar gap confirmed case yang diumumkan dengan kondisi aktual," sambungnya.

Sekitar 40-50% terjangkit aktual yang ditemukan dalam simulasi Sharing Vision diduga sebagai terjangkit yang hanya menampakkan gejala sakit ringan, bahkan tanpa gejala, sehingga sulit dideteksi.

Sebagian lainnya merupakan terjangkit dan telah masuk daftar ODP dan PDP. Selain itu, ada juga terjangkit yang mengalami gejala ringan hingga menengah yang belum berkonsultasi ke rumah sakit.

"Selain itu, deteksi terjangkit positif yang berlanjut isolasi diasumsikan hanya dapat menjaring 40% terjangkit setelah fase inkubasi (fase pertama yakni 7 hari pertama, red). Ini karena dalam masa inkubasi peluang keberhasilan deteksi sangat rendah terhadap seseorang yang aktualnya telah terjangkit," katanya.

Budi menambahkan, asumsi-asumsi tersebut ditentukan agar menentukan parameter sistem sedemikian rupa, agar hasil simulasi bisa selaras dengan data global.

Data dunia menunjukkan kenaikan kasus positif virus corona dengan kelipatan 1,23 kali hanya dalam dalam dua hari (274.696 kasus positif per 20 Maret menjadi 336.934 kasus positif per 22 Maret).

Sharing Vision juga menggunakan asumsi lain dalam pemodelan ini seperti penambahan jumlah terjangkit akan mengikuti deret geometri, seseorang yang terjangkit belum tentu menularkan virus, orang akan kebal setelah sembuh dari infeksi virus, dan kemungkinan seseorang tertular dari populasi yang sama, atau dari luar populasi (imported case).



Simak Video "Naik 687 Kasus, Kasus Covid-19 di RI Jadi 25.216"
[Gambas:Video 20detik]
(vmp/fay)