Ilmuwan Kembangkan Tiruan Bisa Ular, Buat Apa?

Ilmuwan Kembangkan Tiruan Bisa Ular, Buat Apa?

Rachmatunnisa - detikInet
Sabtu, 15 Feb 2020 09:37 WIB
Foto Ular
Ilmuwan Kembangkan Tiruan Bisa Ular, Buat Apa? Foto: Viewbug
Jakarta -

Untuk pertama kalinya, para ilmuwan memproduksi bisa ular di laboratorium. Tiruan bisa ular ini membuka peluang untuk pengembangan obat-obatan dan penawar racun yang tidak memerlukan pembiakan dan atau mengambil langsung dari ular.

Racun ini diproduksi lewat kelenjar mini yang disebut organoid, dengan mengikuti proses yang diadaptasi dari pertumbuhan organ manusia yang disederhanakan. Cara ini terbukti sudah membantu dalam berbagai proyek penelitian ilmiah dan medis.

Kalau untuk ular, para peneliti bisa meledakkan organoid yang cocok dengan jenis ular karang (Aspidelaps lubricus cowlesi) dan tujuh spesies ular lainnya. Menurut mereka, pendekatan baru ini punya peningkatan yang disambut baik, terutama dalam metode mengembangbiakkan ular untuk mengekstraksi bisa mereka.

"Lebih dari 100 ribu orang meninggal akibat gigitan ular setiap tahun. Sebagian besar di negara berkembang. Namun metode pembuatan antivenom belum berubah sejak abad ke-19," kata ahli biologi molekuler Hans Clevers dari Utrecht University di Belanda, seperti dikutip dari Science Alert.

Dengan mengutak-atik proses untuk menumbuhkan organoid manusia, termasuk mengurangi suhu agar sesuai dengan reptil daripada mamalia, para peneliti akhirnya dapat menemukan resep yang mendukung pertumbuhan kelenjar bisa ular kecil yang tidak terbatas.

Sejumlah jaringan diambil dari embrio ular dan dimasukkan ke dalam gel yang dicampur dengan beberapa faktor pertumbuhan. Namun proses ini tidak memerlukan akses ke sel induk yang merupakan cara berkembangnya organoid manusia dan tikus.

Sel-sel itu kemudian dengan cepat mulai membelah dan membentuk struktur, menciptakan ratusan sampel yang tumbuh dalam waktu beberapa bulan, serta menghasilkan gumpalan putih kecil tempat bisa ular 'dipanen'.

Setidaknya, ada empat jenis sel berbeda yang diidentifikasi para peneliti di dalam kelenjar racun buatan. Mereka juga mengonfirmasi bahwa racun peptida yang diproduksi aktif secara biologis, sangat mirip dengan yang ada di bisa ular hidup.

"Kami tahu dari sistem sekresi lain seperti pankreas dan usus, bahwa jenis sel khusus membuat subset hormon," kata ahli biologi perkembangan Joep Beumer dari Utretcht University.

"Sekarang kami melihat untuk pertama kalinya bahwa ini juga merupakan contoh untuk racun yang diproduksi oleh sel-sel kelenjar bisa ular," sambungnya.

Penggunaan bisa ular untuk keperluan obat dan perawatan medis telah berlangsung sejak zaman Yunani kuno. Di zaman modern, obat-obatan yang dipakai untuk penyakit mulai dari kanker hingga perdarahan, dikembangkan dengan bantuan racun yang ditemukan dalam racun ular.

Para peneliti menyebutkan, akses yang lebih cepat dan terkontrol pada jenis racun ini membuka jalan pada pengembangan perawatan medis agar lebih mudah dan dalam skala waktu yang lebih singkat.

Selain untuk pengembangan obat, kelenjar racun organoid ini juga memudahkan dan mempercepat pengembangan antivenom. Dengan demikian, korban kematian, cedera atau cacat karena gigitan ular bisa lebih cepat tertangani.

"Ini adalah sebuah terobosan. Penelitian ini membuka kemungkinan untuk mempelajari biologi seluler sel yang mengeluarkan racun pada tingkat yang sangat baik, yang tidak mungkin terjadi di masa dulu," kata ahli bisa ular José María Gutiérrez dari University of Costa Rica.

Ilmuwan Kembangkan Tiruan Bisa Ular, Buat Apa?
(rns/fay)