Sabtu, 11 Jan 2020 06:00 WIB

Gambaran Mengerikan Ilmuwan Soal Kehancuran Planet Bumi

Fino Yurio Kristo - detikInet
Ilustrasi. Foto: NASA Ilustrasi. Foto: NASA
Jakarta - Planet Bumi tidaklah abadi, suatu saat akan berakhir. Nasib buruk yang menimpa sebuah planet baru-baru ini disebut bisa menggambarkan bagaimana Bumi akan mengalami kehancuran di masa depan dilihat dari sisi sains.

Planet bernama Wasp-12b, berlokasi 600 tahun cahaya di konstelasi Auriga, berada dalam jalur kematiannya karena mendekati orbit bintangnya. Exoplanet itu, sebutan untuk planet di luar Tata Surya, merupakan planet gas mirip Jupiter.

Ia dijuluki sebagai 'hot jupiter' karena jaraknya lebih dekat dengan bintangnya dibanding Jupiter terhadap Matahari di Tata Surya kita. "Sejak penemuan hot jupiter pertama di 1995, kita bertanya-tanya seberapa lama planet semacam itu akan eksis," kata Joshua Winn, profesor astrofisika di Universitas Princeton.


"Kami cukup yakin mereka tidak bisa bertahan selamanya. Interaksi gravitasi kuat antara planet dan bintangnya akan membuat planet itu tertelan dan hancur," jelasnya, menambahkan bahwa dalam penelitian terbaru, waktu kehancuran itu diprediksi terjadi 'hanya' dalam jangka waktu jutaan tahun.

Sekitar 3 juta tahun lagi, Wasp-2b akan mengalami 'game over'. Beruntung bahwa Bumi tidak terkunci dalam jalur kematian seperti planet tersebut, akan tetapi nasibnya kurang lebih sama saat nanti Matahari membengkak menjadi bintang Raksasa Merah. Waktunya memang jauh lebih lambat.

Manusia zaman sekarang tak perlu khawatir lantaran hal itu diprediksi akan terjadi masih 5 miliar tahun yang akan datang. Dengan mengamati apa yang terjadi di luar Tata Surya, beberapa ilmuwan memang coba memprediksi bagaimana hal itu akan terjadi.

Desember lalu, dalam penelitian oleh Dr Christopher Manser dari University of Warwick di jurnal Nature, Matahari dalam waktu miliaran tahun disebut akan mengembang hingga sekitar dua ratus kali ukuran saat ini. Dalam fase ini, bintang terbesar kita akan dikenal sebagai Raksasa Merah.

Saat mengembang, sang Raksasa Merah akan menelan dan menghancurkan Bumi sebelum runtuh menjadi inti kecil yang disebut white dwarf. "Ketika Matahari mencapai fase Raksasa Merah-nya, ia akan mengembang secara kasar ke orbit Bumi. Merkurius, Venus dan Bumi akan ditelan Matahari," sebut Dr. Manser.

"Tetapi Mars, sabuk asteroid, Jupiter dan planet sisanya di Tata Surya akan mengembang pada orbitnya, karena Matahari kehilangan massa dan memiliki lebih sedikit tarikan gravitasi pada planet-planet itu," imbuhnya.


"Pada akhirnya, Matahari akan menjadi white dwarf dan masih memiliki Mars, sabuk asteroid, dan Jupiter yang mengorbit di sekelilingnya. Saat planet-planet mengorbit, mereka kadang-kadang dapat tersebar dan terlempar ke white dwarf," sambungnya.

Tetapi radiasi yang dipancarkan oleh Matahari, setelah menjadi white dwarf, akan cukup kuat untuk menguapkan atmosfer Jupiter, Saturnus dan Uranus di mana mereka mengorbit sekarang. Dan ini hanya akan meninggalkan inti mereka yang berbatu.

Simak Video "Eksklusif! Giorgino Abraham Nikmati Proses Jadi Aktor dan Penyanyi"
[Gambas:Video 20detik]
(fyk/fyk)