Senin, 15 Apr 2019 13:03 WIB

Mau Ikut Namai Planet di Tata Surya? Ini Caranya

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
2007 OR10, objek terbesar di Tata Surya yang belum punya nama. Foto: Istimewa 2007 OR10, objek terbesar di Tata Surya yang belum punya nama. Foto: Istimewa
Jakarta - Pada 2007, tiga ahli astronomi menemukan sebuah planet minor yang disebut (225088) 2007 OR10, atau cukup 2007 OR10. Kini, lebih dari 10 tahun berjalan, mereka memutuskan untuk memberikan nama yang lebih mudah diucapkan bagi objek tersebut.

Patut diketahui sebelumnya, 2007 OR10 adalah objek yang berada di sabuk Kuiper. Titik terdekatnya dengan Matahari berada pada 33 Astronomical Unit (AU), dengan 1 AU setara dengan jarak antara Bumi dengan pusat Tata Surya itu. Sedangkan titik terjauhnya dengan Matahari setara dengan 101 AU.




Es dan batu jadi material mayoritas yang membentuk objek ini. Diperkirakan, ia memiliki air dalam bentuk padat, alias es. Bahkan, di sana juga ditengarai terdapat metana dalam bentuk es. Adanya metana merupakan salah satu pertanda suatu area bisa ditinggali, atau pernah dihuni makhluk hidup.

Selain dihasilkan dari mikroba, metana juga bisa muncul dari proses yang disebut serpentinisasi. Proses ini melibatkan reaksi yang muncul dari batu olivine dengan karbon dioksida dan air. Gas metana yang ada di Bumi juga dihasilkan dari kedua proses tersebut.

Soal ukuran, 2007 OR10 memiliki diameter 1.250 km, membuatnya lebih kecil dari Pluto. Sebagai perbandingan, Bumi memiliki garis tengah sepanjang 12.742 km.


Perbandingan 2007 OR10 dengan planet-planet minor lain.Perbandingan 2007 OR10 dengan planet-planet minor lain. Foto: NASA


Meski ukurannya tidak besar-besar sekali, namun ia merupakan objek tak bernama terbesar di Tata Surya. Walau sepertinya status tersebut tak akan bertahan lama.

Nah, balik lagi soal penamaan objek tersebut. Meg Schwamb, Mike Brown, dan David Rabinowitz, tiga astronomer bersangkutan, membuat sebuah situs untuk menentukan nama bagi 2007 OR10.

Ibarat pemilu, website tersebut memungkinkan mereka untuk memungut suara dari para pemilih, yang dalam hal ini adalah netizen di seluruh dunia. Pilihan namanya pun sudah ditentukan, jadi tidak ada kesempatan untuk mengajukan opsi baru.

Ada tiga nama yang bisa dipilih, yakni Gonggong, Holle, dan Vili. Cukup terdengar asing memang. Walau demikian, masing-masing punya arti tersendiri.




Gonggong merupakan dewa atau monster air dalam mitologi China. Lalu, Holle berasal dari Frau Holle, dewi musim dingin yang dapat menghasilkan salju. Sedangkan Vili adalah bagian dari Aesir, kelompok dewa-dewi dalam mitologi Nordik yang berisikan Odin dan Thor.

Nanti, nama yang terpilih akan diajukan ke International Astronomical Union (IAU). Pemungutan suara akan berlangsung hingga 10 Mei 2019. Kalau kamu berniat untuk memilih, bisa langsung masuk ke tautan terkait dengan klik di sini.


(mon/krs)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed