Kamis, 24 Jan 2019 21:09 WIB

Arktik Menghangat Hebat, Greenland Mencair Lebih Cepat

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Greenland dan Arktik secara luas sedang berada di titik kritis akibat pemanasan global. Foto: (greenland.com) Greenland dan Arktik secara luas sedang berada di 'titik kritis' akibat pemanasan global. Foto: (greenland.com)
Jakarta - Arktika, yang sering juga disebut Arktik, adalah sebuah wilayah di Kutub Utara Bumi. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa daerah tersebut sedang tidak baik-baik saja saat ini.

Kawasan tersebut disebutkan sedang menghangat dua kali lebih cepat dari rata-rata kenaikan suhu yang dialami di seluruh dunia. Hal ini diikuti dengan intensitas mencairnya es di Greenland, salah satu kawasan di dalam Lingkar Arktik, yang menjadi sangat cepat.


Pada 2012, lebih dari 400 miliar ton es mencair di sana. Itu hampir empat kali lipat dari yang terjadi pada 2003 lalu. Hal ini membuat Greenland disebut akan berperan besar dalam kenaikan permukaan air laut dalam kurun waktu 20 tahun ke depan, sebagaimana detikINET kutip dari New York Times, Kamis (24/1/2018).

Selain itu, Laut Barents yang berada di Samudra Arktik juga sedang dalam 'titik kritis'. Iklimnya disebut berubah dari Arktik menjadi Atlantik seiring semakin meningkatnya suhu perairan tersebut.

Padahal, Laut Barents sudah mengalami iklim Arctik sejak 12.000 tahun yang lalu. Itu merupakan akhir dari Zaman Es di Bumi.

Pada dasarnya, Samudra Arktik merupakan perairan suhu dingin yang berperan sebagai lapisan atas dari Samudra Atlantik di bawahnya yang lebih hangat. Kini, dengan Laut Barents yang tak lagi punya cukup lapisan es, maka air dari Samudra Atlantic akan naik ke permukaan.

Saat semakin banyak lapisan yang bercampur, maka permukaan air laut akan semakin hangat. Para peneliti memperkirakan bahwa Laut Barents akan benar-benar menjadi bagian dari Samudra Atlantik dalam kurun waktu kurang dari 10 tahun.

Menghangatnya air laut saat ini masih menjadi penyebab utama dari meningkatnya permukaan air laut. Para peneliti pun mengimbau untuk mengurangi emisi gas rumah kaca untuk menghindari bahaya perubahan iklim yang lebih parah.


Meningkatnya permukaan air laut merupakan salah satu fenomena paling jelas dari terjadinya pemanasan global. Ia terjadi karena meningkatnya suhu laut dan mencairnya es di daratan.

Saat ini, jika suhu Bumi bertambah 2 derajat Celsius setelah masa pra-industrial, maka rata-rata permukaan air laut akan bertambah lebih dari 2 kaki, atau sekitar 60 cm. Hal tersebut bisa membuat 32-80 juta jiwa menjadi korban dari banjir oleh air laut, atau biasa dikenal sebagai rob. (mon/fyk)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed